Eks Bos Mossad: Agen Intelijen Israel Beroperasi di Dalam Negeri Iran
Jum'at, 28 November 2025 - 14:48 WIB
loading...
Mantan direktur Mossad Yossi Cohen ungkap badan intelijen Israel yang pernah dia pimpin tersebut beroperasi di dalam negeri Iran. Foto/Times of Israel
A
A
A
TEL AVIV - Mantan direktur Mossad, Yossi Cohen, mengatakan badan intelijen Israel yang pernah dia pimpin tersebut beroperasi di dalam negeri Iran. Menurutnya, Mossad beroperasi di negara Islam itu sendiri, bukan melalui proksi atau perwakilan.
"Iran bukanlah tempat di mana kami beroperasi melalui proksi," kata Cohen dalam pidato di sebuah konferensi tertutup, yang rekamannya diperoleh oleh surat kabar Haaretz.
"Kami masuk untuk merekrut dan membawa intelijen," imbuh mantan bos Mossad tersebut.
Baca Juga: Iran Gantung Mata-mata Mossad
Mengacu pada serangan Israel dan Amerika terhadap situs-situs nuklir Iran selama perang 12 hari pada bulan Juni, Cohen mengatakan: "Trump mengatakan 'pemusnahan total'. Saya katakan, jika bukan pemusnahan total—maka setidaknya, dan ini banyak—sebuah penghentian yang sangat signifikan."
Cohen mengatakan dia memperkirakan Iran masih memiliki persediaan uranium yang diperkaya, dan bahwa rezim Iran belum menyerah pada ambisi nuklirnya.
Secara terpisah, seorang mantan pejabat senior Mossad mengatakan Iran terus membangun kembali program nuklirnya dan perundingan yang macet dengan Amerika Serikat telah meningkatkan kemungkinan konfrontasi langsung lainnya dengan Israel.
"Iran terus berupaya membangun kembali program nuklirnya," katanya kepada HuffPost, yang berbicara secara anonim.
"Dialog dengan IAEA (Badan Energi Atom Internasional) telah terputus, dan dialog dengan Amerika Serikat terhenti dan tidak mengalami kemajuan. Mengingat situasi ini, ada alasan untuk percaya bahwa kita mungkin akan segera menghadapi putaran perang langsung lainnya antara Iran dan Israel," ujarnya.
Dia mengatakan serangan terhadap fasilitas-fasilitas nuklir Iran selama perang 12 hari pada bulan Juni menyebabkan kerusakan serius tetapi tidak menghancurkan material nuklir Iran.
Kepemimpinan Iran, menurut mantan pejabat tersebut, terpecah belah terkait perundingan dengan Amerika Serikat, dengan Presiden Masoud Pezeshkian mendukung kompromi sementara Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menentang konsesi.
"Saya tidak yakin Pemimpin Tertinggi akan membiarkan Pezeshkian mencapai kesepakatan dan mencegah perang. Situasinya bisa memburuk," ujarnya.
Penilaian mantan pejabat Mossad itu muncul ketika Menteri Pertahanan Iran Aziz Nasirzadeh mengeluarkan peringatan baru tentang postur militer negara itu terhadap setiap tindakan permusuhan dari musuh-musuhnya.
"Iran memantau ancaman secara akurat dan terus-menerus dan siap untuk merespons lebih tegas dan lebih keras daripada sebelumnya," ujarnya.
"Dalam perang dua belas hari, kami menunjukkan sebagian dari kemampuan kami, dan tentu saja kami tidak mengungkapkan semua kekuatan pertahanan kami," katanya.
"Hari ini, dengan kekuatan penuh dan pengawasan intelijen yang menyeluruh, kami siap untuk menanggapi setiap ancaman...Jika musuh kami melakukan kesalahan perhitungan dan setiap gerakan atau tindakan permusuhan...mereka pasti akan menghadapi reaksi langsung dan yang akan disesali," imbuh dia, yang dilansir Iran Intenational, Jumat (28/11/2025).
"Iran bukanlah tempat di mana kami beroperasi melalui proksi," kata Cohen dalam pidato di sebuah konferensi tertutup, yang rekamannya diperoleh oleh surat kabar Haaretz.
"Kami masuk untuk merekrut dan membawa intelijen," imbuh mantan bos Mossad tersebut.
Baca Juga: Iran Gantung Mata-mata Mossad
Mengacu pada serangan Israel dan Amerika terhadap situs-situs nuklir Iran selama perang 12 hari pada bulan Juni, Cohen mengatakan: "Trump mengatakan 'pemusnahan total'. Saya katakan, jika bukan pemusnahan total—maka setidaknya, dan ini banyak—sebuah penghentian yang sangat signifikan."
Cohen mengatakan dia memperkirakan Iran masih memiliki persediaan uranium yang diperkaya, dan bahwa rezim Iran belum menyerah pada ambisi nuklirnya.
Secara terpisah, seorang mantan pejabat senior Mossad mengatakan Iran terus membangun kembali program nuklirnya dan perundingan yang macet dengan Amerika Serikat telah meningkatkan kemungkinan konfrontasi langsung lainnya dengan Israel.
"Iran terus berupaya membangun kembali program nuklirnya," katanya kepada HuffPost, yang berbicara secara anonim.
"Dialog dengan IAEA (Badan Energi Atom Internasional) telah terputus, dan dialog dengan Amerika Serikat terhenti dan tidak mengalami kemajuan. Mengingat situasi ini, ada alasan untuk percaya bahwa kita mungkin akan segera menghadapi putaran perang langsung lainnya antara Iran dan Israel," ujarnya.
Dia mengatakan serangan terhadap fasilitas-fasilitas nuklir Iran selama perang 12 hari pada bulan Juni menyebabkan kerusakan serius tetapi tidak menghancurkan material nuklir Iran.
Kepemimpinan Iran, menurut mantan pejabat tersebut, terpecah belah terkait perundingan dengan Amerika Serikat, dengan Presiden Masoud Pezeshkian mendukung kompromi sementara Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menentang konsesi.
"Saya tidak yakin Pemimpin Tertinggi akan membiarkan Pezeshkian mencapai kesepakatan dan mencegah perang. Situasinya bisa memburuk," ujarnya.
Penilaian mantan pejabat Mossad itu muncul ketika Menteri Pertahanan Iran Aziz Nasirzadeh mengeluarkan peringatan baru tentang postur militer negara itu terhadap setiap tindakan permusuhan dari musuh-musuhnya.
"Iran memantau ancaman secara akurat dan terus-menerus dan siap untuk merespons lebih tegas dan lebih keras daripada sebelumnya," ujarnya.
"Dalam perang dua belas hari, kami menunjukkan sebagian dari kemampuan kami, dan tentu saja kami tidak mengungkapkan semua kekuatan pertahanan kami," katanya.
"Hari ini, dengan kekuatan penuh dan pengawasan intelijen yang menyeluruh, kami siap untuk menanggapi setiap ancaman...Jika musuh kami melakukan kesalahan perhitungan dan setiap gerakan atau tindakan permusuhan...mereka pasti akan menghadapi reaksi langsung dan yang akan disesali," imbuh dia, yang dilansir Iran Intenational, Jumat (28/11/2025).
(mas)
Lihat Juga :