Mengapa Pemimpin Eropa Merasa Dikhianati Trump dalam Perdamaian Ukraina?

Selasa, 25 November 2025 - 10:30 WIB
loading...
Mengapa Pemimpin Eropa...
Pemimpin merasa dikhianati Trump dalam perdamaian Ukraina. Foto/X
A A A
MOSKOW - Para pejabat tinggi Amerika Serikat sudah mengadakan pembicaraan dengan para diplomat Ukraina dan Eropa di Jenewa untuk membahas rencana perdamaian Presiden AS Donald Trump yang bertujuan untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung hampir empat tahun antara Rusia dan Ukraina.

Namun, rencana 28 poin yang didorong oleh pemerintahan Trump telah membuat Ukraina dan sekutu-sekutunya di Eropa khawatir, yang menganggapnya sebagai bentuk penyerahan diri terhadap tuntutan Rusia, khususnya konsesi teritorial dan pembatasan kekuatan militer Ukraina.

Trump telah menetapkan batas waktu 27 November bagi Ukraina untuk menerima rencana perdamaiannya, tetapi setelah mendapat penolakan dari para pemimpin Eropa, Washington tampaknya telah melunakkan pendiriannya, dengan Trump mengatakan bahwa rencana tersebut bukanlah "tawaran terakhir" bagi Ukraina.

Hal ini kemungkinan akan menciptakan ruang gerak bagi diplomasi dalam perundingan berisiko tinggi di Jenewa, Swiss.

Mengapa Pemimpin Eropa Merasa Dikhianati Trump dalam Perdamaian Ukraina?

1. Eropa Ingin Jaminan Keamanan Jangka Panjang

Perundingan ini merupakan upaya untuk merekonsiliasi rancangan rencana perdamaian yang kontroversial, karena Kyiv dan sekutu-sekutunya di Eropa menginginkan kepentingan keamanan jangka panjang Kyiv terlindungi.

Perwakilan dari Ukraina, Jerman, Prancis, Inggris, dan Uni Eropa akan bergabung dengan para pejabat tinggi AS, termasuk Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dan Utusan Khusus Steve Witkoff, untuk membahas cara mengakhiri perang – perang paling mematikan di Eropa sejak Perang Dunia II. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan akan ada juga kehadiran Rusia.

BacaJuga: 4 Alasan Sanksi Uni Eropa terhadap Rusia Gagal Total, Salah Satunya Dipicu Inisiatif Trump

2. Ukraina Menyerahkan Sebagian Wilayahnya ke Rusia

Kekhawatirannya adalah tentang konsesi teritorial yakni Luhansk, Donetsk, dan Krimea, yang menurut rencana, harus diserahkan Ukraina sebagai imbalan atas potensi kesepakatan permanen dengan Rusia. Mereka harus membekukan garis depan, terutama di Kherson dan Zaporizhia.

Kemudian, pengurangan kapasitas angkatan bersenjata Ukraina dari 900.000 menjadi 600.000, dan ini secara luas dianggap oleh Ukraina sebagai konsesi besar yang tidak dapat mereka berikan."

Dalam sebuah unggahan di X pada hari Minggu, Zelenskyy mengatakan ia berharap “akan ada hasil”.

“Pertumpahan darah harus dihentikan, dan kita harus memastikan bahwa perang tidak pernah berkobar kembali,” kata pemimpin Ukraina itu. “Saya menunggu hasil perundingan hari ini dan berharap semua peserta akan bersikap konstruktif. Kita semua membutuhkan hasil yang positif.”

3. Tidak Mengatasi Masalah Keamanan Ukraina

Sekutu-sekutu Ukraina di Eropa mengatakan bahwa rencana perdamaian saat ini tidak mengatasi masalah keamanan Ukraina. Mereka mengatakan Rusia tidak dapat dihadiahi wilayah karena menginvasi Ukraina.

Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen mengatakan pada hari Minggu bahwa "setiap rencana perdamaian yang kredibel dan berkelanjutan harus, pertama-tama, menghentikan pembunuhan dan mengakhiri perang, tanpa menabur benih konflik di masa depan".
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Ciptakan Krisis Energi...
Ciptakan Krisis Energi di Rusia, Drone Ukraina Serang Krimea dan Kilang Minyak Utama
Serangan Drone Ukraina...
Serangan Drone Ukraina Meningkat, Perang Hadir di Depan Rumah Warga Rusia
140 Drone Ukraina Hajar...
140 Drone Ukraina Hajar St Petersburg, Rusia: Serangan Ini Belum Pernah Terjadi Sebelumnya
Putin: Serangan Rudal...
Putin: Serangan Rudal Hipersonik Oreshnik Rusia terhadap Ukraina Hanya Tes, Belum Skala Penuh
PM Inggris: Rusia Akan...
PM Inggris: Rusia Akan Serang NATO 4 Tahun Lagi
Drone Ukraina Meledak...
Drone Ukraina Meledak Sendiri di Pelabuhan Negara NATO, Kyiv Tuduh Rusia Kerjai Sinyalnya
Kamuflase Kendaraan...
Kamuflase Kendaraan Perang Rusia Bisa Mengecoh Drone Berteknologi AI
Helikopter Apache AS...
Helikopter Apache AS Jatuh di Dekat Selat Hormuz
Menteri Radikal Israel...
Menteri Radikal Israel Serukan Duduki Lebanon, Tangkapi Perempuan dan Anak-Anak
Rekomendasi
Binus School dan Damai...
Binus School dan Damai Indah Golf Sinergi Perkuat Pengembangan Soft Skill Siswa
Catat! Minggu Ini Tidak...
Catat! Minggu Ini Tidak Ada CFD di Jalan Sudirman-Thamrin dan Rasuna Said
Skenario Terburuk Pasar...
Skenario Terburuk Pasar Energi 2026: Exxon Peringatkan Harga Minyak Dunia Bakal Tembus USD160/Barel
Berita Terkini
Ini Bukti Biadabnya...
Ini Bukti Biadabnya Tentara Israel Tembak Mati Bayi Palestina di Tepi Barat
Trump: 49 Rudal Tomahawk...
Trump: 49 Rudal Tomahawk Gempur Iran, AS Akan Bombardir Habis-habisan
Iran Balas Bombardir...
Iran Balas Bombardir 18 Target Militer AS, Termasuk Sistem Rudal Patriot
Sistem Rudal Iran Tembaki...
Sistem Rudal Iran Tembaki Jet Tempur F-16 AS
AS Menyerang Lagi, Iran...
AS Menyerang Lagi, Iran Tutup Total Selat Hormuz
AS Bombardir Iran 2...
AS Bombardir Iran 2 Hari Berturut-turut saat Harga Minyak Melonjak
Infografis
3 Alasan Ukraina Selalu...
3 Alasan Ukraina Selalu Didukung Barat dalam Melawan Rusia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved