Rezim Maduro Terancam Diinvasi AS, Jenderal Rusia Muncul di Venezuela
Senin, 24 November 2025 - 12:18 WIB
loading...
Sejumlah personel militer Rusia yang dipimpin seorang jenderal terkenal muncul di Venezuela di tengah kekhawatiran AS akan menginvasi rezim Presiden Nicolas Maduro. Foto/Telegrafi
A
A
A
CARACAS - Seorang jenderal terkenal Rusia muncul di Venezuela untuk memimpin pelatihan militer Caracas. Jenderal itu muncul setelah Caracas khawatir Amerika Serikat (AS) menginvasi negara yang dipimpin Presiden Nicolas Maduro tersebut.
Kolonel Jenderal Oleg Makarevich, komandan satuan tugas Equator dari Kementerian Pertahanan Rusia, memimpin misi Moskow yang bertanggung jawab atas pelatihan militer Caracas. Sosoknya terkenal setelah dituduh Ukraina sebagai dalang penghancuran Pembangkit Listrik Tenaga Air Kakhovka pada Juni 2023.
Kepala Intelijen Pertahanan Ukraina Letnan Jenderal Kyrylo Budanov mengungkapkan kehadiran Makarevich di Venezuela dalam sebuah komentar yang disampaikan kepada The War Zone, yang dikutip Militarnyi, Senin (24/11/2025).
Baca Juga: Rusia Siap Menolong Venezuela saat Kapal Induk AS Mendekat
Menurut bos intelijen tersebut, Rusia terus mempertahankan kontingen militernya di negara Amerika Latin tersebut dan memperluas kerja samanya dengan rezim Nicolás Maduro. Saat ini, kontingen Rusia yang terdiri dari lebih dari 120 personel militer ditempatkan di sana.
Makarevich, kata Budanov, adalah orang yang mengawasi pelatihan pasukan keamanan Venezuela. Selama invasi besar-besaran ke Ukraina, dia memimpin satuan tugas militer "Dnepr" dan dituduh mengorganisir penghancuran PLTA Kakhovka dua tahun lalu.
"Mereka bertugas sebagai penasihat dan instruktur militer. Ini termasuk pelatihan infanteri, unit khusus, operator UAV, serta pekerjaan yang berkaitan dengan intelijen dan komunikasi," ujar Budanov.
Selain melatih personel militer, satuan tugas Equator Rusia menyediakan data intelijen sinyal untuk Venezuela. Rusia juga membantu Venezuela memantau faksi-faksi internal dan pemerintah asing.
Budanov menekankan bahwa rotasi pasukan Rusia di Venezuela telah berlangsung selama bertahun-tahun dan bukan merupakan respons terhadap eskalasi yang sedang terjadi antara Amerika Serikat dan Venezuela.
Jenderal dan sekitar 90 personel militer Rusia ditempatkan di Caracas, sementara sisanya ditempatkan di fasilitas-fasilitas di Maracaibo, La Guaira, dan di Pulau Avedes.
“Unit-unit Rusia kemungkinan akan tetap berada di Venezuela meskipun Amerika Serikat memutuskan untuk mengambil tindakan militer. Rusia akan mencoba berbicara langsung dengan Washington, memanfaatkan kehadiran pasukannya di negara itu sebagai kedok,” kata Budanov.
Pada awal November, diketahui bahwa di Caracas, ibu kota Venezuela, para kadet militer mulai berlatih mengoperasikan drone FPV menggunakan simulator.
Stasiun pelatihan menggunakan salah satu simulator komersial paling populer, FPV Kamikaze Drone, yang tersedia di Steam.
Ini adalah pertama kalinya Venezuela mengonfirmasi upaya untuk memperkenalkan drone FPV ke dalam militernya. Venezuela adalah salah satu dari sedikit negara di Amerika Latin–kemungkinan satu-satunya—yang secara terbuka menunjukkan adanya program aktif untuk melatih para kadetnya dalam mengoperasikan drone FPV.
Pada pertengahan bulan ini, Rusia menyatakan siap menolong Venezuela ketika Amerika Serikat meningkatkan pengerahan aset-aset tempurnya, termasuk kapal induk tercanggih, ke dekat negaranya Maduro tersebut.
Washington berdalih pengerahan kekuatan militer itu untuk operasi antinarkotika, namun Caracas khawatir itu bagian dari upaya menggulingkan rezim Maduro.
"[Rusia] siap untuk bertindak sepenuhnya dalam kerangka kewajiban yang disepakati bersama dalam perjanjian ini dengan sahabat-sahabat Venezuela kami," kata Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov saat itu.
Perjanjian yang dimaksud adalah perjanjian kemitraan strategis kedua negara yang diteken pada Mei lalu. Meskipun kemitraan tersebut belum berlaku, Lavrov mengindikasikan bahwa hal itu "hampir terwujud".
Tiga bulan setelah penandatanganannya, Venezuela meresmikan fasilitas untuk memproduksi amunisi Kalashnikov, dan bulan lalu, sebuah pesawat kargo Rusia yang disanksi Barat dan dikenal karena mengirimkan material pertahanan mendarat di Venezuela.
"Sekarang sudah pada tahap akhir ratifikasi. Ini menyatakan perlunya melanjutkan kerja sama keamanan kita, termasuk kerja sama militer-teknis," katanya.
Alexei Zhuravlev, anggota Komite Pertahanan Parlemen Rusia, menyatakan tidak ada yang menghalangi Moskow untuk memberikan "perkembangan baru" kepada Venezuela.
"Kami memasok negara ini dengan hampir seluruh jenis senjata, mulai dari senjata ringan hingga pesawat terbang...Amerika Serikat mungkin akan mendapatkan beberapa kejutan," katanya.
Meskipun Venezuela belum meminta bantuan militer atau persenjataan Rusia, seorang pejabat senior Rusia mengisyaratkan bahwa rudal balistik jarak menengah Oreshnik mungkin akan dikirim.
Perkembangan ini terjadi seiring AS meningkatkan kehadiran militernya di dekat Venezuela, dengan Gedung Putih menegaskan bahwa mereka sedang mengintensifkan upaya pemberantasan perdagangan narkoba.
Saat ini, kapal induk tercanggih Amerika; USS Gerald R Ford, telah beroperasi di perairan lepas pantai Venezuela, ditemani oleh tiga kapal perang tambahan.
Sejak awal September, operasi militer AS yang menargetkan kapal-kapal yang diduga mengangkut narkoba di Karibia Selatan dan Pasifik Timur telah mengakibatkan puluhan korban jiwa.
Sebagai respons, Menteri Pertahanan Vladimir Padrino Lopez mengerahkan 200.000 tentara di seluruh Venezuela untuk melawan ancaman yang ditimbulkan oleh AS.
Kolonel Jenderal Oleg Makarevich, komandan satuan tugas Equator dari Kementerian Pertahanan Rusia, memimpin misi Moskow yang bertanggung jawab atas pelatihan militer Caracas. Sosoknya terkenal setelah dituduh Ukraina sebagai dalang penghancuran Pembangkit Listrik Tenaga Air Kakhovka pada Juni 2023.
Kepala Intelijen Pertahanan Ukraina Letnan Jenderal Kyrylo Budanov mengungkapkan kehadiran Makarevich di Venezuela dalam sebuah komentar yang disampaikan kepada The War Zone, yang dikutip Militarnyi, Senin (24/11/2025).
Baca Juga: Rusia Siap Menolong Venezuela saat Kapal Induk AS Mendekat
Menurut bos intelijen tersebut, Rusia terus mempertahankan kontingen militernya di negara Amerika Latin tersebut dan memperluas kerja samanya dengan rezim Nicolás Maduro. Saat ini, kontingen Rusia yang terdiri dari lebih dari 120 personel militer ditempatkan di sana.
Makarevich, kata Budanov, adalah orang yang mengawasi pelatihan pasukan keamanan Venezuela. Selama invasi besar-besaran ke Ukraina, dia memimpin satuan tugas militer "Dnepr" dan dituduh mengorganisir penghancuran PLTA Kakhovka dua tahun lalu.
"Mereka bertugas sebagai penasihat dan instruktur militer. Ini termasuk pelatihan infanteri, unit khusus, operator UAV, serta pekerjaan yang berkaitan dengan intelijen dan komunikasi," ujar Budanov.
Selain melatih personel militer, satuan tugas Equator Rusia menyediakan data intelijen sinyal untuk Venezuela. Rusia juga membantu Venezuela memantau faksi-faksi internal dan pemerintah asing.
Budanov menekankan bahwa rotasi pasukan Rusia di Venezuela telah berlangsung selama bertahun-tahun dan bukan merupakan respons terhadap eskalasi yang sedang terjadi antara Amerika Serikat dan Venezuela.
Jenderal dan sekitar 90 personel militer Rusia ditempatkan di Caracas, sementara sisanya ditempatkan di fasilitas-fasilitas di Maracaibo, La Guaira, dan di Pulau Avedes.
“Unit-unit Rusia kemungkinan akan tetap berada di Venezuela meskipun Amerika Serikat memutuskan untuk mengambil tindakan militer. Rusia akan mencoba berbicara langsung dengan Washington, memanfaatkan kehadiran pasukannya di negara itu sebagai kedok,” kata Budanov.
Pada awal November, diketahui bahwa di Caracas, ibu kota Venezuela, para kadet militer mulai berlatih mengoperasikan drone FPV menggunakan simulator.
Stasiun pelatihan menggunakan salah satu simulator komersial paling populer, FPV Kamikaze Drone, yang tersedia di Steam.
Ini adalah pertama kalinya Venezuela mengonfirmasi upaya untuk memperkenalkan drone FPV ke dalam militernya. Venezuela adalah salah satu dari sedikit negara di Amerika Latin–kemungkinan satu-satunya—yang secara terbuka menunjukkan adanya program aktif untuk melatih para kadetnya dalam mengoperasikan drone FPV.
Pada pertengahan bulan ini, Rusia menyatakan siap menolong Venezuela ketika Amerika Serikat meningkatkan pengerahan aset-aset tempurnya, termasuk kapal induk tercanggih, ke dekat negaranya Maduro tersebut.
Washington berdalih pengerahan kekuatan militer itu untuk operasi antinarkotika, namun Caracas khawatir itu bagian dari upaya menggulingkan rezim Maduro.
"[Rusia] siap untuk bertindak sepenuhnya dalam kerangka kewajiban yang disepakati bersama dalam perjanjian ini dengan sahabat-sahabat Venezuela kami," kata Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov saat itu.
Perjanjian yang dimaksud adalah perjanjian kemitraan strategis kedua negara yang diteken pada Mei lalu. Meskipun kemitraan tersebut belum berlaku, Lavrov mengindikasikan bahwa hal itu "hampir terwujud".
Tiga bulan setelah penandatanganannya, Venezuela meresmikan fasilitas untuk memproduksi amunisi Kalashnikov, dan bulan lalu, sebuah pesawat kargo Rusia yang disanksi Barat dan dikenal karena mengirimkan material pertahanan mendarat di Venezuela.
"Sekarang sudah pada tahap akhir ratifikasi. Ini menyatakan perlunya melanjutkan kerja sama keamanan kita, termasuk kerja sama militer-teknis," katanya.
Alexei Zhuravlev, anggota Komite Pertahanan Parlemen Rusia, menyatakan tidak ada yang menghalangi Moskow untuk memberikan "perkembangan baru" kepada Venezuela.
"Kami memasok negara ini dengan hampir seluruh jenis senjata, mulai dari senjata ringan hingga pesawat terbang...Amerika Serikat mungkin akan mendapatkan beberapa kejutan," katanya.
Meskipun Venezuela belum meminta bantuan militer atau persenjataan Rusia, seorang pejabat senior Rusia mengisyaratkan bahwa rudal balistik jarak menengah Oreshnik mungkin akan dikirim.
Perkembangan ini terjadi seiring AS meningkatkan kehadiran militernya di dekat Venezuela, dengan Gedung Putih menegaskan bahwa mereka sedang mengintensifkan upaya pemberantasan perdagangan narkoba.
Saat ini, kapal induk tercanggih Amerika; USS Gerald R Ford, telah beroperasi di perairan lepas pantai Venezuela, ditemani oleh tiga kapal perang tambahan.
Sejak awal September, operasi militer AS yang menargetkan kapal-kapal yang diduga mengangkut narkoba di Karibia Selatan dan Pasifik Timur telah mengakibatkan puluhan korban jiwa.
Sebagai respons, Menteri Pertahanan Vladimir Padrino Lopez mengerahkan 200.000 tentara di seluruh Venezuela untuk melawan ancaman yang ditimbulkan oleh AS.
(mas)
Lihat Juga :