Dokter Wanita Ini Dihukum Penjara 30 Tahun karena Mengkritik Presiden di Grup WhatsApp

Selasa, 18 November 2025 - 13:20 WIB
loading...
Dokter Wanita Ini Dihukum...
Kondisi penjara di Venezuela. Seorang dokter wanita 65 tahun dihukum penjara 30 tahun hanya karena mengkritik Presiden Nicolas Maduro di grup WhatsApp. Foto/Ana María Arévalo Gosen/Pulitzer Center
A A A
CARACAS - Apes betul nasib dokter wanita berusia 65 tahun di Venezuela ini. Dia dijatuhi hukuman penjara 30 tahun hanya karena mengkritik Presiden Nicolas Maduro di sebuah grup WhatsApp.

Dokter Marggie Orozco dijatuhi hukuman oleh pengadilan di negaranya pada Jumat pekan lalu. Dia dihukum penjara selama itu atas tuduhan makar, hasutan kebencian, dan konspirasi terkait dengan kritiknya dalam bentuk pesan audio di grup WhatsApp.

Kasus ini bermula ketika rakyat Venezuela pergi ke tempat pemungutan suara untuk memilih presiden baru pada 28 Juli 2024. Pada hari pemilu itu, Orozco merekam pesan suara pribadi di grup WhatsApp untuk dibagikan kepada tetangganya, mendesak mereka untuk memilih melawan Nicolás Maduro pada hari itu juga.

Baca Juga: Pejabat Militer AS: Langkah-langkah Awal Sedang Disiapkan untuk Kemungkinan Invasi Venezuela

Dalam pemilu saat itu, tokoh oposisi Edmundo González dilaporkan menang dengan mayoritas suara yang solid. Namun, Maduro menyatakan dirinya sebagai pemenang.

Orang-orang turun ke jalan untuk berunjuk rasa, tetapi rezim Maduro menghentikannya melalui ancaman, kekerasan, dan intimidasi. Termasuk penghilangan paksa atau penahanan para pembangkang hanya karena berpendapat.

Pada 5 Agustus 2024, seorang pemimpin CLAP (Comité Local de Abastecimiento y Producción)—komite distribusi makanan yang dibentuk oleh pemerintah Venezuela untuk mendistribusikan makanan pokok ke masyarakat secara langsung dari rumah ke rumah--komunitasnya di negara bagian Táchira dilaporkan mendengar pesan pribadi Orozco. Pemimpin CLAP itu kemudian mengajukan pengaduan ke pihak berwenang.

Malam harinya, Orozco ditangkap polisi dalam penggerebekan di rumahnya. Pada bulan September, kesehatannya mulai menurun dan dia mengalami serangan jantung. Dia sempat menghabiskan satu malam di rumah sakit, namun dikembalikan ke penjara.

Menurut suaminya, dia menderita masalah jantung sejak 2013. Penahanan telah memperburuk kondisinya. Meskipun demikian, pada 6 Desember 2024, dia dipindahkan ke ruang tambahan khusus wanita di Pusat Lembaga Pemasyarakatan Barat di bagian selatan Táchira untuk menunggu persidangan.

Pada Jumat pekan lalu, dia akhirnya menjalani sidang vonis di pengadilan. Hakim Luz Dary Moreno, yang merupakan loyalis Presiden Maduro, menjatuhkan hukuman 30 tahun penjara kepadanya atas tuduhan "makar" "konspirasi", dan "hasutan kebencian". Sumber di pengadilan mengatakan tim pembelanya bahkan tidak diizinkan berbicara. Dokter lain di komunitasnya telah menyerukan pembebasannya.

César Pérez Vivas, seorang aktivis anti-Maduro dan mantan gubernur Táchira, mengunggah foto Orozco di X dan mengonfirmasi informasi tersebut.

"Dr Marggie Orozco (65) dijatuhi hukuman 30 tahun penjara. Dikecam oleh seorang pemimpin CLAP dari komunitasnya di San Juan de Colón karena rekaman audio WhatsApp sederhana tentang pemilu 28 Juli. Hukuman yang dijatuhkan oleh Hakim Luz Dary Moreno merupakan tindakan sesat terhadap seseorang dengan masalah kesehatan serius. Membela kebebasan berekspresi bukanlah kejahatan," bunyi keterangan fotonya yang diterjemahkan dari bahasa Spanyol.

Menurut LSM hak asasi manusia Venezuela, JEP, Orozco telah mengalami dua serangan jantung saat ditahan. LSM Foro Penal menambahkan, ada sekitar 882 "tahanan politik" di penjara-penjara Venezuela, sebagaimana dikutip AFP, Selasa (18/11/2025).
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Update Gempa Kembar...
Update Gempa Kembar Guncang Venezuela: 1.430 Orang Tewas, 3.200 Luka, 50.000 Hilang
Lebih dari 50.000 Orang...
Lebih dari 50.000 Orang Dilaporkan Hilang akibat Gempa Venezuela
Dunia Bantu Upaya Penyelamatan,...
Dunia Bantu Upaya Penyelamatan, Korban Tewas Gempa Venezuela Capai 589 Orang
Update Gempa Kembar...
Update Gempa Kembar Venezuela: 235 Orang Tewas, 1.500 Luka, Banyak Jasad Terkubur Reruntuhan
Korban Gempa Venezuela...
Korban Gempa Venezuela Bertambah, 164 Orang Tewas, 971 Luka-luka
Venezuela Umumkan Keadaan...
Venezuela Umumkan Keadaan Darurat setelah Diguncang 2 Gempa Dahsyat, 32 Orang Tewas
Tiyo UGM Dilaporkan...
Tiyo UGM Dilaporkan ke Polisi, Ray Rangkuti: Harusnya Orang Jahat yang Dihukum Bukan yang Berpikir
Sebulan Ditahan di Libya,...
Sebulan Ditahan di Libya, Tiga Aktivis Pro Palestina Akhirnya Bebas
Detik-Detik Pesawat...
Detik-Detik Pesawat Ringan Tabrak Gedung 108 Lantai di China, Jendela Bolong Picu Kebakaran
Rekomendasi
Jokowi Mulai Safari...
Jokowi Mulai Safari Politik, Feri Amsari: Sah, Cuma Nggak Tahu Diri Saja
Semarak HUT ke-58, BPJS...
Semarak HUT ke-58, BPJS Kesehatan Ajak Masyarakat Budayakan Hidup Sehat
Prabowo Terima Usulan...
Prabowo Terima Usulan Rektor, Keuntungan BUMN untuk Riset dan Inovasi
Berita Terkini
Jika AS Lanjutkan Perang,...
Jika AS Lanjutkan Perang, Trump: Iran Tidak Akan Ada Lagi
7 Pekerjaan Pertama...
7 Pekerjaan Pertama Para Pemimpin Dunia yang Tak Banyak Diketahui, Ada yang Jual Teh hingga Jadi Tukang Kayu
8 Pangkalan Militer...
8 Pangkalan Militer AS Diserang Iran, IRGC: Selat Hormuz Milik Kita
AS dan Iran Saling Serang...
AS dan Iran Saling Serang Lagi, Apakah Masih Ada Harapan Perdamaian di Timur Tengah?
Pembangkang China Ini...
Pembangkang China Ini Kabur ke Korea Selatan dengan Perahu Karet, Sekarang Muncul di Kanada
Iran Tuduh AS Khianati...
Iran Tuduh AS Khianati Perjanjian Damai saat Kedua Pihak Saling Serang
Infografis
Rafael Alun Divonis...
Rafael Alun Divonis 14 Tahun Penjara di Kasus Gratifikasi & TPPU
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved