Habiskan Anggaran Rp150 Miliar, UEA Harus Menyemai Awan untuk Atasi Kekurangan Air
Rabu, 12 November 2025 - 14:16 WIB
loading...
A
A
A
Kelangkaan air merupakan tantangan jangka panjang bagi UEA, yang sangat bergantung pada desalinasi untuk air minum. Sejak awal tahun 2000-an, otoritas UEA telah berupaya meningkatkan curah hujan melalui cara-cara buatan. Saat ini, program peningkatan curah hujan UEA beroperasi dengan sepuluh pilot dan empat pesawat, siap dikerahkan 24 jam.
"Setiap kali kami memiliki kesempatan untuk melakukannya... kami biasanya tidak melewatkan kesempatan apa pun," kata Al Mazrouei.
Operasi ini mahal, menelan biaya USD8.000 per jam terbang dan rata-rata 1.100 jam terbang per tahun, dengan total biaya hampir USD9 juta atau Rp150 miliar.
Namun, Al Mazrouei berpendapat bahwa "biaya per meter kubik air tambahan lebih rendah daripada biaya desalinasi." UEA telah menginvestasikan USD22,5 juta dalam bentuk hibah penelitian untuk meningkatkan teknologi ini.
"Setiap kali kami memiliki kesempatan untuk melakukannya... kami biasanya tidak melewatkan kesempatan apa pun," kata Al Mazrouei.
Operasi ini mahal, menelan biaya USD8.000 per jam terbang dan rata-rata 1.100 jam terbang per tahun, dengan total biaya hampir USD9 juta atau Rp150 miliar.
Namun, Al Mazrouei berpendapat bahwa "biaya per meter kubik air tambahan lebih rendah daripada biaya desalinasi." UEA telah menginvestasikan USD22,5 juta dalam bentuk hibah penelitian untuk meningkatkan teknologi ini.
(ahm)
Lihat Juga :