Trump Ancam Serang Nigeria atas Dalih Umat Kristen Dibantai

Minggu, 02 November 2025 - 08:45 WIB
loading...
Trump Ancam Serang Nigeria...
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan melancarkan serangan ke Nigeria. Alasannya, negara itu tidak bertindak menghentikan pembantaian umat Kristen. Foto/Wikipedia
A A A
WASHINGTON - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengancam akan melancarkan serangan ke Nigeria. Alasannya, negara itu tidak bertindak menghentikan pembantaian umat Kristen.

Trump mengatakan bahwa dia telah menginstruksikan Departemen Perang untuk bersiap menghadapi kemungkinan tindakan militer.

Dalam unggahan media sosial pada hari Sabtu, Trump mengatakan: "Amerika Serikat akan segera menghentikan semua bantuan ke negara Afrika tersebut jika Pemerintah Nigeria terus membiarkan pembunuhan umat Kristen."

"AS mungkin akan masuk ke negara yang sekarang dipermalukan itu, dengan senjata api membara, untuk sepenuhnya memusnahkan teroris Islam yang melakukan kekejaman mengerikan ini," lanjut Trump, tanpa menyebutkan kelompok atau dugaan kekejaman mana yang dia maksud.

Baca Juga: Bandit Bersenjata Serbu Masjid di Nigeria Utara, 27 Orang Tewas

"Dengan ini saya menginstruksikan Departemen Perang kami untuk bersiap menghadapi kemungkinan tindakan. Jika kami menyerang, serangan itu akan cepat, ganas, dan manis, seperti para teroris preman menyerang umat Kristen kami yang terhormat! Peringatan: Pemerintah Nigeria sebaiknya bergerak cepat!" imbuh Trump, seperti dikutip dari Al Jazeera, Minggu (2/11/2025).

Pemerintah Nigeria tidak segera menanggapi ancaman Trump.

Unggahan media sosial Trump itu muncul sehari setelah dia mengumumkan bahwa Nigeria akan ditambahkan ke dalam daftar "Negara-negara yang Menjadi Perhatian Khusus" Departemen Luar Negeri AS, yang dibentuk untuk memantau penganiayaan agama di seluruh dunia.

Dalam beberapa bulan terakhir, anggota Parlemen sayap kanan dan tokoh terkemuka lainnya di AS telah mengeklaim bahwa pertikaian yang diwarnai kekerasan di Nigeria merupakan bagian dari kampanye "genosida Kristen".

Meskipun kelompok-kelompok hak asasi manusia telah mendesak pemerintah Nigeria untuk berbuat lebih banyak dalam mengatasi kerusuhan di negara tersebut, yang telah mengalami serangan mematikan oleh Boko Haram dan kelompok bersenjata lainnya, para pakar mengatakan klaim "genosida Kristen" tersebut salah dan terlalu menyederhanakan keadaan.

Beberapa jam sebelum ancaman Trump, Presiden Nigeria Bola Ahmed Tinubu merilis pernyataan yang menekankan bahwa pemerintahnya terus mengatasi tantangan keamanan yang memengaruhi warga negara lintas agama dan lintas wilayah.

“Karakterisasi Nigeria sebagai negara yang intoleran terhadap agama tidak mencerminkan realitas nasional kami, juga tidak mempertimbangkan upaya konsisten dan tulus pemerintah untuk melindungi kebebasan beragama dan berkeyakinan bagi seluruh warga Nigeria,” kata Tinubu pada hari Sabtu.

“Nigeria menentang dan tidak mendukung persekusi agama. Nigeria adalah negara dengan jaminan konstitusional untuk melindungi warga negara dari semua agama,” lanjut pernyataan tersebut.

“Pemerintah kami berkomitmen untuk bekerja sama dengan pemerintah Amerika Serikat dan komunitas internasional guna memperdalam pemahaman dan kerja sama dalam perlindungan komunitas dari semua agama," imbuh dia.

Kimièbi Ebienfa, juru bicara Kementerian Luar Negeri Nigeria, menekankan komitmen negaranya untuk melindungi seluruh warga negaranya.

“Pemerintah Federal Nigeria akan terus membela seluruh warga negara, tanpa memandang ras, keyakinan, atau agama,” tulis Ebienfa dalam sebuah pernyataan pada hari Sabtu.

“Seperti Amerika, Nigeria tidak punya pilihan selain merayakan keberagaman yang merupakan kekuatan terbesar kami.”
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Otoritas Selat Teluk...
Otoritas Selat Teluk Persia Umumkan Kapal-kapal Diizinkan Melintasi Selat Hormuz
Langkah Mengejutkan,...
Langkah Mengejutkan, Partai Komunis Kuba Bersedia Buka Ekonomi Menuju Pasar Bebas
Swiss Ungkap Perundingan...
Swiss Ungkap Perundingan AS-Iran Tidak Jadi Digelar, Wapres Vance Batalkan Perjalanan
Jurnalis AS: Trump Tak...
Jurnalis AS: Trump Tak Konsultasi dengan Israel soal Iran untuk Lemahkan Posisi Netanyahu
Kecaman Wapres AS ke...
Kecaman Wapres AS ke Israel Makin Pedas: Senjatamu Dibayar dengan Uang Pajak Amerika!
Menteri Perang AS Kecam...
Menteri Perang AS Kecam Negara-negara NATO: Menumpang Gratis, tapi Tolak Bantu Melawan Iran!
FIFA Gencar Berantas...
FIFA Gencar Berantas Ujaran Kebencian di Piala Dunia 2026
Serangan Rusia Tewaskan...
Serangan Rusia Tewaskan 9 Orang di Ukraina, Katedral Bersejarah Kyiv Terbakar
Viral, Ribuan Warga...
Viral, Ribuan Warga Malaysia Antre 2 Km di Bawah Terik Matahari untuk Melamar Kerja
Rekomendasi
Frans Antoni Pengendali...
Frans Antoni Pengendali Uang Fredy Pratama Digiring ke Bareskrim usai Ditangkap di Malaysia
Biogas, Energi Terbarukan...
Biogas, Energi Terbarukan sebagai Upaya Mencapai Target Net Zero Emission
Nyaris Telanjang, Ivana...
Nyaris Telanjang, Ivana Knoll Bikin Gempar Piala Dunia 2026
Berita Terkini
Hizbullah Tegaskan Terapkan...
Hizbullah Tegaskan Terapkan Gencatan Senjata dengan Israel Segera
4 Tentara Israel Tewas,...
4 Tentara Israel Tewas, Menteri-menteri Ekstremis Ancam Bakar Seluruh Lebanon, Buka Gerbang Neraka
Otoritas Selat Teluk...
Otoritas Selat Teluk Persia Umumkan Kapal-kapal Diizinkan Melintasi Selat Hormuz
Langkah Mengejutkan,...
Langkah Mengejutkan, Partai Komunis Kuba Bersedia Buka Ekonomi Menuju Pasar Bebas
Netanyahu Keras Kepala,...
Netanyahu Keras Kepala, Israel Tak akan Mundur dari Lebanon Selatan
Hizbullah Peringatkan...
Hizbullah Peringatkan Israel Punya Waktu 60 hari untuk Mundur dari Lebanon
Infografis
7 Alasan Dunia Tak Menghukum...
7 Alasan Dunia Tak Menghukum Trump dan Netanyahu meski AS-Israel Bom Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved