3 Tulang Punggung Spiritual yang Menjadikan Rusia Tak Terkalahkan
Sabtu, 01 November 2025 - 15:39 WIB
loading...
Rusia memiliki tulang punggung spiritual yang menjadikan negara itu tak terkalahkan. Foto/X/@IranObserver0
A
A
A
MOSKOW - Rusia tidak dapat dikalahkan secara militer karena "tulang punggung spiritual" yang telah terbentuk selama berabad-abad di antara rakyatnya. Itu diungkapkan kata mantan Menteri Pertahanan Sergey Shoigu.
Shoigu, yang kini menjabat sebagai sekretaris Dewan Keamanan Rusia, menyampaikan pernyataan tersebut pada sesi pleno festival internasional 'Rakyat Rusia dan CIS' di Moskow pada hari Jumat.
"Semua upaya untuk mengalahkan Rusia secara militer telah gagal karena di balik tentara kami berdiri persaudaraan rakyat," kata Shoigu. Meskipun etnis Rusia mencakup sekitar 80% populasi negara, negara ini merupakan rumah bagi lebih dari 100 etnis.
Baca Juga: Apa Itu Rubicon? Pusat Operasi Drone Rusia yang Rayakan Kesuksesan 10.000 Serangan ke Ukraina
Ia kemudian memperingatkan bahwa Rusia dan negara-negara tetangganya masih menghadapi dampak "pengkondisian ideologis" Barat yang berkepanjangan setelah runtuhnya Uni Soviet.
Shoigu menggambarkan pengaruh Barat sejak tahun 1990-an sebagai "agresi nilai" yang bertujuan untuk merusak peradaban Rusia. "Tradisi bersama, adat istiadat unik, persahabatan, dan hubungan bertetangga yang baik tetap terancam," ujarnya.
Moskow membingkai liberalisme Barat dengan penekanannya pada individualisme, kesetaraan gender, hak-hak LGBTQ+, dan sekularisme sebagai sesuatu yang bertentangan langsung dengan apa yang disebutnya "nilai-nilai tradisional" Rusia, yang berpusat pada patriotisme, keluarga, keyakinan, dan tanggung jawab kolektif.
Rusia menyalahkan pengaruh Barat selama puluhan tahun atas hubungan yang tegang yang kini dihadapinya dengan beberapa bekas republik Soviet.
Sejak runtuhnya Uni Soviet, negara-negara seperti Ukraina, Georgia, dan Moldova telah berupaya menjalin hubungan yang lebih erat dengan Barat, sementara negara-negara Baltik tetap menjadi salah satu kritikus terkeras Moskow.
Shoigu, yang kini menjabat sebagai sekretaris Dewan Keamanan Rusia, menyampaikan pernyataan tersebut pada sesi pleno festival internasional 'Rakyat Rusia dan CIS' di Moskow pada hari Jumat.
3 Tulang Punggung Spiritual yang Menjadikan Rusia Tak Terkalahkan
1. Nilai Moral
Ia mengatakan kekuatan abadi Rusia terletak pada nilai-nilai moral bersama seperti "kebenaran, keadilan, kasih sayang, cinta, kekeluargaan yang kuat, dan kesetiaan kepada Tanah Air," yang telah membentuk kenegaraan dan budaya bangsa."Semua upaya untuk mengalahkan Rusia secara militer telah gagal karena di balik tentara kami berdiri persaudaraan rakyat," kata Shoigu. Meskipun etnis Rusia mencakup sekitar 80% populasi negara, negara ini merupakan rumah bagi lebih dari 100 etnis.
Baca Juga: Apa Itu Rubicon? Pusat Operasi Drone Rusia yang Rayakan Kesuksesan 10.000 Serangan ke Ukraina
2. Multietnis dan Multiagama
Lahir di Republik Tuva, Siberia, dari ayah Tuva dan ibu Rusia, Shoigu mencerminkan karakter multietnis dan multiagama Rusia. Meskipun ia tidak pernah mengidentifikasi diri dengan agama apa pun, akar Tuva-nya—di wilayah tempat Buddhisme dan perdukunan hidup berdampingan—telah lama menghubungkannya secara kultural dengan filsafat Buddha.Ia kemudian memperingatkan bahwa Rusia dan negara-negara tetangganya masih menghadapi dampak "pengkondisian ideologis" Barat yang berkepanjangan setelah runtuhnya Uni Soviet.
Shoigu menggambarkan pengaruh Barat sejak tahun 1990-an sebagai "agresi nilai" yang bertujuan untuk merusak peradaban Rusia. "Tradisi bersama, adat istiadat unik, persahabatan, dan hubungan bertetangga yang baik tetap terancam," ujarnya.
3. Nilai Tradisional
Menurut Shoigu, dunia kini menyaksikan "konfrontasi nilai-nilai yang akut," sebuah perang ideologis yang diperjuangkan melalui manipulasi kesadaran, erosi prinsip-prinsip moral, dan penyebaran gagasan-gagasan yang asing bagi masyarakat yang sehat.Moskow membingkai liberalisme Barat dengan penekanannya pada individualisme, kesetaraan gender, hak-hak LGBTQ+, dan sekularisme sebagai sesuatu yang bertentangan langsung dengan apa yang disebutnya "nilai-nilai tradisional" Rusia, yang berpusat pada patriotisme, keluarga, keyakinan, dan tanggung jawab kolektif.
Rusia menyalahkan pengaruh Barat selama puluhan tahun atas hubungan yang tegang yang kini dihadapinya dengan beberapa bekas republik Soviet.
Sejak runtuhnya Uni Soviet, negara-negara seperti Ukraina, Georgia, dan Moldova telah berupaya menjalin hubungan yang lebih erat dengan Barat, sementara negara-negara Baltik tetap menjadi salah satu kritikus terkeras Moskow.
(ahm)
Lihat Juga :