Siapa Red Command, Geng Narkoba yang Dibantai Besar-besaran di Rio de Janeiro?
Jum'at, 31 Oktober 2025 - 13:11 WIB
loading...
A
A
A
Red Command telah secara bertahap memperluas kendalinya atas Riode Janeiro sejak 2022, bertempur melawan milisi yang masih terikat dengan negara bagian dan kepolisian, untuk merebut wilayah dan memperkuat cengkeramannya di kota tersebut.
Pada tahun 2024, kekuasaan telah beralih ke pihak Red Command, menurut laporan InSight Crime. Kelompok ini juga memperluas kendalinya ke luar Rio de Janeiro. Pada akhir tahun 2024, menurut Associated Press, kelompok ini menguasai separuh kotamadya di wilayah Amazon, naik dari seperempatnya pada tahun sebelumnya.
Para pejabat mengatakan operasi di Riode Janeiro bertujuan untuk menghentikan penyebaran Red Command.
Taktik agresif Castro terhadap perdagangan narkoba di Rio de Janeiro mencerminkan taktik sayap kanan mantan sekutunya, mantan presiden Jair Bolsonaro, dan bisa menjadi langkah Castro untuk mendapatkan poin politik dalam isu kejahatan terorganisir.
"Kami teguh dalam menghadapi narkoterorisme," kata Castro, dari Partai Liberal yang beroposisi konservatif, setelah penggerebekan tersebut, seperti dikutip dari TIME, Jumat (31/10/2025).
Rio de Janeiro, khususnya, telah diganggu oleh penyalahgunaan wewenang oleh polisi. Mahkamah Agung Brasil memerintahkan Rio pada tahun 2020 untuk berupaya mengurangi kasus-kasus pelanggaran oleh petugas polisi, sebuah langkah yang menurut Human Rights Watch telah menyebabkan penurunan drastis angka pembunuhan di negara bagian tersebut.
Kebrutalan penggerebekan minggu ini cukup menuai kritik dari juru bicara Komisaris Tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Hak Asasi Manusia (OHCHR), Marta Hurtado.
"Kami sepenuhnya memahami tantangan dalam menghadapi kelompok-kelompok yang melakukan kekerasan dan terorganisasi dengan baik seperti Red Command," ujarnya, tetapi dia meminta Brasil untuk "memutus siklus kebrutalan ekstrem ini dan memastikan bahwa operasi penegakan hukum mematuhi standar internasional terkait penggunaan kekuatan."
•Pendiri: Rogério Lemgruber dan rekan-rekannya.
•Markas Awal: Penjara Candido Mendes, Ilha Grande, Angra dos Reis, Rio de Janeiro, Brasil.
•Masa Aktif: 1979–sekarang.
•Wilayah Kekuasaan: Sebagian besar di negara bagian Rio de Janeiro, dan hampir seluruh Brasil, serta Bolivia, Peru, Venezuela, Paraguay, dan Kolombia.
•Pemimpin: Fernandinho Beira-Mar e Marcinho VP.
•Kegiatan: Pembunuhan, perdagangan narkoba, penyuapan, rentenir, perdagangan senjata, penyerangan, kerusuhan, pencucian uang, pembajakan, penipuan, dan perampokan bank.
•Sekutu: Primeiro Grupo Catarinense, kelompok kriminal Paraguay, Comando da Paz, Bala na Cara, Sindicato do Crime do Rio Grande do Norte, Okaida, Comando Revolucionário Brasileiro da Criminalidade, Primeiro Comando de Vitória.
•Rival: Primeiro Comando da Capital, Terceiro Comando, Terceiro Comando Puro, Amigos dos Amigos, milisi Brasil, Família do Norte, Guardiões do Estado.
Pada tahun 2024, kekuasaan telah beralih ke pihak Red Command, menurut laporan InSight Crime. Kelompok ini juga memperluas kendalinya ke luar Rio de Janeiro. Pada akhir tahun 2024, menurut Associated Press, kelompok ini menguasai separuh kotamadya di wilayah Amazon, naik dari seperempatnya pada tahun sebelumnya.
Para pejabat mengatakan operasi di Riode Janeiro bertujuan untuk menghentikan penyebaran Red Command.
Penggerebekan Polisi, Tindakan Keras Terbaru
Taktik agresif Castro terhadap perdagangan narkoba di Rio de Janeiro mencerminkan taktik sayap kanan mantan sekutunya, mantan presiden Jair Bolsonaro, dan bisa menjadi langkah Castro untuk mendapatkan poin politik dalam isu kejahatan terorganisir.
"Kami teguh dalam menghadapi narkoterorisme," kata Castro, dari Partai Liberal yang beroposisi konservatif, setelah penggerebekan tersebut, seperti dikutip dari TIME, Jumat (31/10/2025).
Rio de Janeiro, khususnya, telah diganggu oleh penyalahgunaan wewenang oleh polisi. Mahkamah Agung Brasil memerintahkan Rio pada tahun 2020 untuk berupaya mengurangi kasus-kasus pelanggaran oleh petugas polisi, sebuah langkah yang menurut Human Rights Watch telah menyebabkan penurunan drastis angka pembunuhan di negara bagian tersebut.
Kebrutalan penggerebekan minggu ini cukup menuai kritik dari juru bicara Komisaris Tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Hak Asasi Manusia (OHCHR), Marta Hurtado.
"Kami sepenuhnya memahami tantangan dalam menghadapi kelompok-kelompok yang melakukan kekerasan dan terorganisasi dengan baik seperti Red Command," ujarnya, tetapi dia meminta Brasil untuk "memutus siklus kebrutalan ekstrem ini dan memastikan bahwa operasi penegakan hukum mematuhi standar internasional terkait penggunaan kekuatan."
Profil Red Command
•Didirikan: 17 September 1979.•Pendiri: Rogério Lemgruber dan rekan-rekannya.
•Markas Awal: Penjara Candido Mendes, Ilha Grande, Angra dos Reis, Rio de Janeiro, Brasil.
•Masa Aktif: 1979–sekarang.
•Wilayah Kekuasaan: Sebagian besar di negara bagian Rio de Janeiro, dan hampir seluruh Brasil, serta Bolivia, Peru, Venezuela, Paraguay, dan Kolombia.
•Pemimpin: Fernandinho Beira-Mar e Marcinho VP.
•Kegiatan: Pembunuhan, perdagangan narkoba, penyuapan, rentenir, perdagangan senjata, penyerangan, kerusuhan, pencucian uang, pembajakan, penipuan, dan perampokan bank.
•Sekutu: Primeiro Grupo Catarinense, kelompok kriminal Paraguay, Comando da Paz, Bala na Cara, Sindicato do Crime do Rio Grande do Norte, Okaida, Comando Revolucionário Brasileiro da Criminalidade, Primeiro Comando de Vitória.
•Rival: Primeiro Comando da Capital, Terceiro Comando, Terceiro Comando Puro, Amigos dos Amigos, milisi Brasil, Família do Norte, Guardiões do Estado.
(mas)
Lihat Juga :