4 Fakta Jet Tempur China J-20 Mampu Terbang Tanpa Terdeteksi Radar Korea Selatan
Rabu, 29 Oktober 2025 - 21:28 WIB
loading...
A
A
A
“Tanggal penerbangan tidak disebutkan, jadi tidak ada cara untuk memverifikasinya,” jawab Sohn, seraya menambahkan, “Tidak ada bukti konkret yang mengonfirmasi keberadaan J-20.”
Sikap resmi Angkatan Udara adalah bahwa Selat Timur berada di luar zona identifikasi pertahanan udara Korea Selatan (Kadiz), yang berarti mereka tidak dapat memastikan apakah pesawat tersebut terdeteksi.
Dalam tanggapan tertulis kepada kantor Anggota DPR Lim, Angkatan Udara menambahkan bahwa “tidak ada catatan J-20 yang memasuki atau meninggalkan Kadiz dalam tiga tahun terakhir,” yang menyiratkan bahwa pesawat tersebut tidak terbang melalui Kadiz dalam perjalanan menuju Selat tersebut.
Data radar dari Pusat Kendali Utama dan Pelaporan Angkatan Udara tidak menunjukkan jejak penerbangan J-20 sekitar 27 Juli, menurut sumber militer. Jika sebuah pesawat tempur China terbang ke Selat Timur tanpa melewati Kadiz, kemungkinan besar pesawat tersebut memerlukan pengisian bahan bakar udara karena rute yang diperpanjang.
Tidak adanya bukti menunjukkan bahwa pesawat tersebut mungkin tidak pernah lepas landas — atau bahwa China sengaja mengaburkan jalur dan waktu penerbangannya. Militer tidak mengesampingkan kedua kemungkinan tersebut.
Dengan menguatnya aliansi Korea Utara-China-Rusia, Korea Utara—yang berfokus pada penguatan kekuatan udaranya—dapat berupaya memperoleh teknologi terkait siluman dari sekutu-sekutunya.
Para pakar penerbangan mencatat bahwa jet siluman China dan Rusia masih tertinggal dari model Amerika. Penampang radar (RCS) pesawat pengebom B-2 dan pesawat tempur F-22 AS, yang dianggap sebagai pesawat siluman tercanggih, berukuran sekitar 0,0001 meter persegi (0,16 inci persegi)—kira-kira seukuran kuku jari.
Sikap resmi Angkatan Udara adalah bahwa Selat Timur berada di luar zona identifikasi pertahanan udara Korea Selatan (Kadiz), yang berarti mereka tidak dapat memastikan apakah pesawat tersebut terdeteksi.
Dalam tanggapan tertulis kepada kantor Anggota DPR Lim, Angkatan Udara menambahkan bahwa “tidak ada catatan J-20 yang memasuki atau meninggalkan Kadiz dalam tiga tahun terakhir,” yang menyiratkan bahwa pesawat tersebut tidak terbang melalui Kadiz dalam perjalanan menuju Selat tersebut.
Data radar dari Pusat Kendali Utama dan Pelaporan Angkatan Udara tidak menunjukkan jejak penerbangan J-20 sekitar 27 Juli, menurut sumber militer. Jika sebuah pesawat tempur China terbang ke Selat Timur tanpa melewati Kadiz, kemungkinan besar pesawat tersebut memerlukan pengisian bahan bakar udara karena rute yang diperpanjang.
Tidak adanya bukti menunjukkan bahwa pesawat tersebut mungkin tidak pernah lepas landas — atau bahwa China sengaja mengaburkan jalur dan waktu penerbangannya. Militer tidak mengesampingkan kedua kemungkinan tersebut.
3. Teknologi Pesawat Siluman China Menguat
Perkembangan ini menyoroti bagaimana kemampuan siluman China terus berkembang. Badan Intelijen Pertahanan menilai pesawat tempur siluman J-35 dan wahana udara nirawak FH-97, yang diresmikan pada parade Hari Kemenangan 3 September, sebagai salah satu senjata generasi mendatang utama militer China.Dengan menguatnya aliansi Korea Utara-China-Rusia, Korea Utara—yang berfokus pada penguatan kekuatan udaranya—dapat berupaya memperoleh teknologi terkait siluman dari sekutu-sekutunya.
Para pakar penerbangan mencatat bahwa jet siluman China dan Rusia masih tertinggal dari model Amerika. Penampang radar (RCS) pesawat pengebom B-2 dan pesawat tempur F-22 AS, yang dianggap sebagai pesawat siluman tercanggih, berukuran sekitar 0,0001 meter persegi (0,16 inci persegi)—kira-kira seukuran kuku jari.
Lihat Juga :