Gencatan Senjata di Gaza Memang Rapuh sejak Hari Pertama

Rabu, 29 Oktober 2025 - 20:40 WIB
loading...
Gencatan Senjata di...
Gencatan senjata di Gaza memang rapuh sejak hari pertama. Foto/X/QudsNen
A A A
GAZA - Gencatan senjata di Gaza rapuh "sejak hari pertama" karena baik Israel maupun Hamas menyetujui kesepakatan di bawah tekanan signifikan dari AS dan berharap untuk saling menyalahkan atas pelanggaran gencatan senjata. Itu diungkapkan ujar Rob Geist Pinfold, dosen keamanan internasional di King's College London, kepada Al Jazeera.

"Jadi, yang kita saksikan adalah permainan adu gengsi di mana kedua belah pihak mencoba menguji batas kemampuan satu sama lain, menguji batasan masing-masing, sambil juga mencari bukti kuat yang memberi mereka alasan untuk melanggar gencatan senjata," ujarnya.

"Fakta bahwa seorang tentara terbunuh di Rafah – kita masih belum tahu oleh siapa, kita masih belum tahu apakah ini diperintahkan oleh Hamas atau orang lain atau sel Hamas yang beroperasi secara independen – [memungkinkan] Israel memanfaatkan kesempatan ini untuk melanggar gencatan senjata karena inilah yang mereka inginkan sejak awal."

Ia mengatakan bahwa meskipun AS akan berusaha mengendalikan Israel secara diam-diam karena Trump ingin mengklaim keberhasilannya dalam menengahi gencatan senjata yang langgeng, Israel justru berusaha "memaksakan fakta-faktanya sendiri di lapangan" di Gaza.

"Israel masih belum menarik diri dari Gaza. Israel menguasai lebih dari 50 persen Jalur Gaza secara langsung dan jauh lebih tidak langsung," ujarnya.

"Apa yang selalu diupayakan Israel pada dasarnya adalah mentransplantasikan modelnya dari Lebanon, di mana konon ada gencatan senjata tetapi Israel memiliki kemampuan untuk bertindak secara sepihak terhadap target-target Hizbullah, menyerang secara teratur dan masih menduduki sebagian Lebanon selatan.

"Jadi, dapat dimengerti mengapa bagi banyak warga Palestina di Gaza, ini mungkin tidak terlihat seperti gencatan senjata yang sebenarnya dan jelas bukan rencana perdamaian, melainkan pendudukan yang tidak terbatas dan berkepanjangan tanpa tanda-tanda akan berakhir." 000

Sementara itu, Israel sengaja berusaha merusak gencatan senjata, sebuah kesepakatan yang dipaksakan oleh Amerika Serikat. Diungkapkan Mouin Rabbani, seorang peneliti nonresiden di Pusat Studi Konflik dan Kemanusiaan, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa Israel "tidak pernah benar-benar memenuhi komitmennya" dalam kesepakatan tersebut.

Baca Juga: Pakistan Tuding Perundingan Damai dengan Afghanistan Gagal Total

"Ada gencatan senjata, tetapi Israel telah membunuh lebih dari 100 warga Palestina," katanya, seraya menambahkan bahwa Israel juga belum mundur ke garis yang disepakati di Gaza atau mengizinkan jumlah bantuan yang disepakati untuk masuk ke Gaza.

"Sekarang Israel menggunakan dalih ini, di satu sisi, mencegah masuknya alat berat yang dibutuhkan untuk mencari jenazah di bawah 61 juta ton puing dan penundaan yang sudah diperkirakan dalam upaya menemukan jenazah-jenazah tersebut sebagai alasan untuk mengikis kesepakatan," katanya.

Ia mengatakan "cukup jelas bahwa Israel merasa tidak mampu untuk secara sepihak "meninggalkan" gencatan senjata. "Jadi, yang kita saksikan adalah intensifikasi bertahap dari proses erosi," ujarnya. "Masalah utama di sini sekarang adalah bagaimana Amerika Serikat akan ... merespons."

Kemudian, militer Israel mengatakan akan melanjutkan penegakan perjanjian gencatan senjata di Gaza setelah melancarkan serangan terhadap puluhan target sebagai tanggapan atas apa yang digambarkannya sebagai pelanggaran kesepakatan oleh Hamas.

Dalam sebuah unggahan di X, militer Israel mengatakan telah "melanjutkan penegakan perjanjian" sesuai dengan instruksi dari pimpinan negara.

Pernyataan tersebut mengatakan militer telah melakukan serangan terhadap "lebih dari 30 teroris yang menduduki posisi komando dalam organisasi teror yang beroperasi di Jalur Gaza".

Dikatakan pula bahwa militer akan "terus menegakkan perjanjian dan menanggapi dengan tegas setiap pelanggaran".

(ahm)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
AS Siap Mulai Lagi Perang...
AS Siap Mulai Lagi Perang dan Terapkan Kembali Blokade Jika Iran Tidak Patuh
Israel Marah setelah...
Israel Marah setelah Presiden Belarusia Samakan Pembantaian Gaza dengan Holocaust Nazi
Israel Danai Pemukim...
Israel Danai Pemukim Ekstremis, Bayar Rp34 Miliar Per Bulan
Trump Ungkap Selat Hormuz...
Trump Ungkap Selat Hormuz akan Dibuka Kembali Sepenuhnya pada Hari Jumat Secara Permanen
Hamas Sambut Baik Kesepakatan...
Hamas Sambut Baik Kesepakatan AS-Iran, Serukan Penghentian Serangan di Gaza dan Lebanon
Trump: AS Tidak akan...
Trump: AS Tidak akan Bayar Iran Rp5 Triliun, Itu Berita Palsu
Hari ke-83 Perang Iran:...
Hari ke-83 Perang Iran: Ketika Diplomasi Menjadi Jeda Kematian
Jelang Penandatanganan...
Jelang Penandatanganan di Jenewa, AS Rahasiakan Nota Kesepahaman Iran dari Israel
8 Fakta Eton College,...
8 Fakta Eton College, Sekolah Elite Pilihan Pangeran George yang Biayanya Rp1,4 Miliar!
Rekomendasi
Dokter Tifa Ditangkap...
Dokter Tifa Ditangkap Polisi dan Dibawa ke Polda Metro Jaya, Ini Kata Kuasa Hukum
Kejati Banten Usut Dugaan...
Kejati Banten Usut Dugaan Korupsi 3 Yayasan, Warek II UIN Jakarta Beberkan Bukti Penting
62 Juta Barel Minyak...
62 Juta Barel Minyak dari Selat Hormuz Siap Banjiri Kilang Asia
Berita Terkini
Militer AS Telah Cabut...
Militer AS Telah Cabut Blokade Iran atas Perintah Trump
Serangan Drone Terbesar...
Serangan Drone Terbesar Ukraina Membakar Kilang Minyak Moskow, Rusia Janji Balas Dendam
Mojtaba Khamenei: Iran...
Mojtaba Khamenei: Iran dan AS Capai Kesepakatan karena Trump Putus Asa
AS dan Iran Berdamai,...
AS dan Iran Berdamai, Wapres Amerika Berbalik Kecam Israel
AS Berencana Bangun...
AS Berencana Bangun Persediaan Senjata Siap Tempur di Australia
Pemimpin Hizbullah:...
Pemimpin Hizbullah: Perlawanan Gagalkan Proyek Israel Raya, Perlucutan Senjata Tak akan Disetujui
Infografis
Iran Paksa AS Terima...
Iran Paksa AS Terima Kekalahan setelah 40 Hari Berperang, Ini 10 Poin Gencatan Senjata
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved