Sosok Paul Biya, Presiden Tertua di Dunia Berumur 92 Tahun yang Berkuasa Lagi untuk Periode 8
Selasa, 28 Oktober 2025 - 09:01 WIB
loading...
Paul Biya (92), presiden tertua di dunia yang berkuasa lagi sebagai presiden Kamerun untuk periode 8. Foto/Anadolu
A
A
A
DOUALA - Presiden Kamerun Paula Biya (92) tahun telah memenangkan kembali pemilu yang disengketakan dengan sengit. Kemenangan ini membuatnya berkuasa kembali untuk masa jabatan kedelapan.
Paul Biya, yang merupakan kepala negara tertua di dunia, memenangkan 53,7% suara. Sedangkan rivalnya, Issa Tchiroma Bakary, memperoleh 35,2% suara, menurut Dewan Konstitusi setempat.
Sebelum pengumuman itu muncul, Tchiroma Bakary—mantan sekutu Biya yang berubah menjadi oposisi—bersikeras bahwa dia telah memenangkan pemilu, tetapi Gerakan Demokratik Rakyat Kamerun (CPDM) yang berkuasa menolak klaimnya.
Pemilu yang diselenggarakan pada 12 Oktober telah diwarnai kekerasan mematikan, dan dalam beberapa hari terakhir, ratusan pendukung Tchiroma Bakary telah menentang larangan protes di beberapa kota, dan bentrok dengan pasukan keamanan.
Baca Juga: Presiden Tertua di Dunia Kembali Calonkan Diri
Biya berterima kasih kepada para pemilih karena "sekali lagi" mempercayainya.
"Saya sungguh berharap, bersama-sama, kita dengan teguh berkomitmen untuk membangun Kamerun yang damai, bersatu, dan sejahtera," ujarnya dalam sebuah pernyataan.
Pada hari Minggu, setidaknya empat orang tewas dalam protes di ibu kota ekonomi Kamerun, Douala.
Gubernur daerah setempat, Samuel Dieudonné Diboua, mengatakan pos-pos polisi telah diserang dan pasukan keamanan telah membela diri.
Kerusuhan berlanjut pada hari Senin, ketika sejumlah orang ditembak mati di dekat kediaman Tchiroma Bakary di kota Garoua, menurut seorang jurnalis lokal di lokasi kejadian kepada BBC, Selasa (28/10/2025).
Sekitar waktu yang sama, pemimpin oposisi menulis di Facebook bahwa tembakan dilepaskan ke arah warga sipil yang berkumpul di luar rumahnya. Dia kemudian mengeklaim bahwa sniper telah ditempatkan di rumah di seberang rumahnya. "Menembakkan tembakan jarak dekat ke arah warga," tulisnya.
Pihak berwenang belum mengomentari laporan tersebut.
Para pengunjuk rasa mengecam apa yang mereka sebut sebagai rencana partai berkuasa CPDM, untuk "mencuri kemenangan" dari Tchiroma Bakary.
Situasi begitu tegang di ibu kota, Yaoundé, sehingga hampir semua toko dan sekolah tetap tutup, sementara sebagian besar pegawai negeri sipil dan pekerja kantoran tetap di rumah.
Para pendukung Issa Tchiroma Bakary telah bentrok dengan pasukan keamanan dalam beberapa hari terakhir.
Secara total, 10 kandidat bersaing untuk jabatan presiden, termasuk mantan Perdana Menteri Bello Bouba Maigari. Tingkat partisipasi pemilih mencapai 58%.
Setidaknya 10 petisi yang menuduh adanya kecurangan pemilu telah ditolak oleh Dewan Konstitusi.
Warga di Yaoundé telah menyuarakan pendapat mereka tentang kemenangan Biya yang kontroversial.
"Kita berada di awal mimpi buruk lainnya," ujar Amungwa Nicodemus kepada BBC.
"Perekonomian sedang merosot, korupsi merajalela, banyak hal yang tidak berjalan semestinya."
Warga lainnya, Abolo Denis, mendesak warga Kamerun untuk menerima hasil pemilu, dengan mengatakan bahwa perdamaian adalah hal yang paling penting.
"Yang pertama kali saya sadari, setelah pengumuman hasil pemilu, adalah kesunyian-kesunyian yang memilukan," kata Vivian Muma, di kota Bamenda di utara.
"Kesunyian ini menunjukkan segalanya. Rakyat Kamerun telah memutuskan, tetapi mereka yang [membuat] keputusan, mereka memutuskan sebaliknya," katanya.
Partai yang berkuasa telah memuji kemenangan Biya "di bawah tanda kebesaran dan harapan" dalam unggahan daring.
Biya, yang berkuasa pada tahun 1982, jarang terlihat di depan umum dan dikenal sering menghabiskan waktu di luar Afrika, di hotel-hotel Swiss. Ketidakhadirannya yang lama ini, ditambah dengan usianya yang lanjut, di masa lalu telah menyebabkan rumor bahwa dia telah meninggal.
Meskipun kepemimpinannya telah dipuji karena perluasan sekolah dan universitas negeri, serta penanganannya terhadap sengketa Bakassi-yang menyebabkan semenanjung kaya minyak tersebut diserahkan kepada Kamerun, bukan Nigeria-masa jabatannya juga menghadapi kritik.
Pemberontakan separatis yang brutal di wilayah barat yang berbahasa Inggris telah berlangsung selama hampir satu dekade, tingkat pengangguran mencapai 40% untuk kelompok usia di bawah 35 tahun, jalan dan rumah sakit runtuh, dan kebebasan berbicara telah dibatasi.
Para analis telah memperingatkan dalam beberapa hari terakhir bahwa Kamerun, negara yang dulunya damai, dapat terjerumus ke dalam kekacauan politik jika hasil pemilu tidak mencerminkan keinginan rakyat.
"Mandat Biya sekarang sangat goyah mengingat banyak warganya sendiri tidak percaya dia memenangkan pemilu," ujar Murithi Mutiga, Direktur Program Afrika di International Crisis Group, dalam sebuah pernyataan.
"Kami mendesak Biya untuk segera memulai mediasi nasional guna mencegah eskalasi lebih lanjut," tambahnya.
Paul Biya, yang merupakan kepala negara tertua di dunia, memenangkan 53,7% suara. Sedangkan rivalnya, Issa Tchiroma Bakary, memperoleh 35,2% suara, menurut Dewan Konstitusi setempat.
Sebelum pengumuman itu muncul, Tchiroma Bakary—mantan sekutu Biya yang berubah menjadi oposisi—bersikeras bahwa dia telah memenangkan pemilu, tetapi Gerakan Demokratik Rakyat Kamerun (CPDM) yang berkuasa menolak klaimnya.
Pemilu yang diselenggarakan pada 12 Oktober telah diwarnai kekerasan mematikan, dan dalam beberapa hari terakhir, ratusan pendukung Tchiroma Bakary telah menentang larangan protes di beberapa kota, dan bentrok dengan pasukan keamanan.
Baca Juga: Presiden Tertua di Dunia Kembali Calonkan Diri
Biya berterima kasih kepada para pemilih karena "sekali lagi" mempercayainya.
"Saya sungguh berharap, bersama-sama, kita dengan teguh berkomitmen untuk membangun Kamerun yang damai, bersatu, dan sejahtera," ujarnya dalam sebuah pernyataan.
Pada hari Minggu, setidaknya empat orang tewas dalam protes di ibu kota ekonomi Kamerun, Douala.
Gubernur daerah setempat, Samuel Dieudonné Diboua, mengatakan pos-pos polisi telah diserang dan pasukan keamanan telah membela diri.
Kerusuhan berlanjut pada hari Senin, ketika sejumlah orang ditembak mati di dekat kediaman Tchiroma Bakary di kota Garoua, menurut seorang jurnalis lokal di lokasi kejadian kepada BBC, Selasa (28/10/2025).
Sekitar waktu yang sama, pemimpin oposisi menulis di Facebook bahwa tembakan dilepaskan ke arah warga sipil yang berkumpul di luar rumahnya. Dia kemudian mengeklaim bahwa sniper telah ditempatkan di rumah di seberang rumahnya. "Menembakkan tembakan jarak dekat ke arah warga," tulisnya.
Pihak berwenang belum mengomentari laporan tersebut.
Para pengunjuk rasa mengecam apa yang mereka sebut sebagai rencana partai berkuasa CPDM, untuk "mencuri kemenangan" dari Tchiroma Bakary.
Situasi begitu tegang di ibu kota, Yaoundé, sehingga hampir semua toko dan sekolah tetap tutup, sementara sebagian besar pegawai negeri sipil dan pekerja kantoran tetap di rumah.
Para pendukung Issa Tchiroma Bakary telah bentrok dengan pasukan keamanan dalam beberapa hari terakhir.
Secara total, 10 kandidat bersaing untuk jabatan presiden, termasuk mantan Perdana Menteri Bello Bouba Maigari. Tingkat partisipasi pemilih mencapai 58%.
Setidaknya 10 petisi yang menuduh adanya kecurangan pemilu telah ditolak oleh Dewan Konstitusi.
Warga di Yaoundé telah menyuarakan pendapat mereka tentang kemenangan Biya yang kontroversial.
"Kita berada di awal mimpi buruk lainnya," ujar Amungwa Nicodemus kepada BBC.
"Perekonomian sedang merosot, korupsi merajalela, banyak hal yang tidak berjalan semestinya."
Warga lainnya, Abolo Denis, mendesak warga Kamerun untuk menerima hasil pemilu, dengan mengatakan bahwa perdamaian adalah hal yang paling penting.
"Yang pertama kali saya sadari, setelah pengumuman hasil pemilu, adalah kesunyian-kesunyian yang memilukan," kata Vivian Muma, di kota Bamenda di utara.
"Kesunyian ini menunjukkan segalanya. Rakyat Kamerun telah memutuskan, tetapi mereka yang [membuat] keputusan, mereka memutuskan sebaliknya," katanya.
Partai yang berkuasa telah memuji kemenangan Biya "di bawah tanda kebesaran dan harapan" dalam unggahan daring.
Biya, yang berkuasa pada tahun 1982, jarang terlihat di depan umum dan dikenal sering menghabiskan waktu di luar Afrika, di hotel-hotel Swiss. Ketidakhadirannya yang lama ini, ditambah dengan usianya yang lanjut, di masa lalu telah menyebabkan rumor bahwa dia telah meninggal.
Meskipun kepemimpinannya telah dipuji karena perluasan sekolah dan universitas negeri, serta penanganannya terhadap sengketa Bakassi-yang menyebabkan semenanjung kaya minyak tersebut diserahkan kepada Kamerun, bukan Nigeria-masa jabatannya juga menghadapi kritik.
Pemberontakan separatis yang brutal di wilayah barat yang berbahasa Inggris telah berlangsung selama hampir satu dekade, tingkat pengangguran mencapai 40% untuk kelompok usia di bawah 35 tahun, jalan dan rumah sakit runtuh, dan kebebasan berbicara telah dibatasi.
Para analis telah memperingatkan dalam beberapa hari terakhir bahwa Kamerun, negara yang dulunya damai, dapat terjerumus ke dalam kekacauan politik jika hasil pemilu tidak mencerminkan keinginan rakyat.
"Mandat Biya sekarang sangat goyah mengingat banyak warganya sendiri tidak percaya dia memenangkan pemilu," ujar Murithi Mutiga, Direktur Program Afrika di International Crisis Group, dalam sebuah pernyataan.
"Kami mendesak Biya untuk segera memulai mediasi nasional guna mencegah eskalasi lebih lanjut," tambahnya.
(mas)
Lihat Juga :