Rusia Gelar Latihan Kesiapsiagaan Triad Nuklir, Tandingi Manuver NATO

Kamis, 23 Oktober 2025 - 07:52 WIB
loading...
Rusia Gelar Latihan...
Rusia menggelar latihan kesiapsiagaan triad nuklir, tandingi manuver serupa yang digelar NATO. Foto/Kementerian Pertahanan Rusia/TASS
A A A
MOSKOW - Rusia telah menggelar latihan kesiapsiagaan pasukan nuklir strategis yang diawasi langsung Presiden Vladimir Putin pada hari Rabu. Ini sebagai tandingan dari manuver serupa yang digelar NATO, yang diberi nama Steadfast Noon.

“Hari ini [Rabu], kami sedang melaksanakan latihan komando dan kendali pasukan nuklir yang terencana—saya ingin menekankan; terencana,” kata Putin dalam konferensi video dengan para petinggi militer, seperti dikutip dari CNN, Kamis (23/10/2025).

Kementerian Pertahanan Rusia mengatakan latihan tersebut melibatkan ketiga komponen triad nuklir: darat, laut, dan udara.

Video yang dibagikan oleh saluran televisi militer Rusia, Zvezda, menunjukkan peluncuran rudal balistik antarbenua Yars dari Kosmodrom Plesetsk di utara Rusia dan rudal balistik Sineva yang ditembakkan dari kapal selam bertenaga nuklir Bryansk di Laut Barents.

Baca Juga: Kirim Sinyal Antisipasi Invasi Rusia, NATO Gelar Latihan Perang Nuklir

Pesawat pengebom jarak jauh Tu-95MS juga menembakkan rudal jelajah yang diluncurkan dari udara, menurut Kementerian Pertahanan.

Kremlin mengatakan latihan tersebut menguji kesiapan sistem komando dan kendali militer serta keterampilan operasional staf, dan menambahkan bahwa semua tujuan telah tercapai.

Rusia mengadakan latihan kesiapan rutin sebagai bagian dari penangkalan nuklirnya. Dalam latihan serupa Oktober lalu, Putin mengatakan: "Persenjataan nuklir Rusia memungkinkan kita mencapai tujuan penangkalan strategis dan menegakkan paritas nuklir serta keseimbangan kekuatan global."

Bulan berikutnya, Putin memperbarui doktrin nuklir Rusia, dua hari setelah Presiden AS saat itu, Joe Biden, memberikan persetujuan kepada Ukraina untuk menyerang target jauh di dalam Rusia dengan senjata buatan Amerika.

Dalam komentarnya pada hari Rabu, Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Ryabkov menyinggung perjanjian New START, sebuah perjanjian yang mulai berlaku pada tahun 2011, di mana AS dan Rusia berjanji untuk membatasi persenjataan nuklir mereka.

Berdasarkan perjanjian tersebut, kedua negara memiliki waktu tujuh tahun untuk memenuhi batasan yang ditentukan terkait jumlah senjata nuklir jarak antarbenua yang dapat mereka miliki. Batas waktu tersebut akan berakhir pada Februari 2026.

“Jika AS menolak proposal New START, akan terjadi kekosongan total dalam hal pembatasan senjata nuklir dan ancaman nuklir yang semakin besar,” kata Ryabkov, yang dilansir RIA Novosti.

“Rusia harus diyakinkan akan kesinambungan pemerintahan AS dalam meninggalkan sikap permusuhannya,” imbuh Ryabkov.

Komentar Rusia tentang AS muncul ketika Presiden AS Donald Trump membatalkan rencana pertemuan puncak dengan Putin di Budapest, Hungaria.

Trump mengatakan pada hari Selasa bahwa dia tidak ingin pertemuan itu menjadi "buang-buang waktu". Dia mengisyaratkan kemungkinan akan bertemu dengan Putin di masa mendatang, tetapi dia mengindikasikan bahwa hal itu bukan lagi prioritas utama.

Latihan pasukan nuklir strategis Rusia juga terjadi lebih dari seminggu setelah NATO mengadakan latihan pencegahan nuklirnya sendiri yang disebut Steadfast Noon.

Dalam sebuah pernyataan, aliansi tersebut mengatakan bahwa latihan tersebut tidak terkait dengan peristiwa dunia terkini.

Sekitar 70 pesawat dari 14 negara sekutu ikut serta dalam latihan tersebut, menurut pernyataan NATO. Puluhan pesawat itu beroperasi dari pangkalan udara di Belanda, Belgia, Inggris, dan Denmark.

Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte mengatakan, "Latihan tersebut dilakukan karena membantu kita memastikan bahwa penangkal nuklir kita tetap kredibel, aman, terjamin, dan efektif semaksimal mungkin."
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Langka, Putin Akui Rusia...
Langka, Putin Akui Rusia Krisis Bahan Bakar akibat Serangan Ukraina
Putin: Barat Coba Kacaukan...
Putin: Barat Coba Kacaukan Rusia karena Tak Mampu Mengalahkannya di Medan Perang
Media Pro-IRGC: Iran...
Media Pro-IRGC: Iran Mutlak Harus Memiliki Bom Nuklir
Inggris Sekarang Tanpa...
Inggris Sekarang Tanpa Kapal Selam Serang Nuklir Aktif, Jadi Tak Berdaya Melawan Rusia
6 Pesawat Pengebom Nuklir...
6 Pesawat Pengebom Nuklir China dan Rusia Manuver Gabungan Dekati Jepang
Xi Jinping dan Akhir...
Xi Jinping dan Akhir dari Narasi Kebangkitan Damai China
Teken Kerja Sama Hukum,...
Teken Kerja Sama Hukum, Indonesia dan Rusia Perkuat Mutual Legal Assistance
Gempa Dahsyat Venezuela:...
Gempa Dahsyat Venezuela: 920 Orang Tewas, Hampir 50 Ribu Masih Hilang
Pengadilan Kriminal...
Pengadilan Kriminal Internasional Bekukan Uang Eks Presiden Filipina Duterte
Rekomendasi
Brasil vs Jepang: Mampukah...
Brasil vs Jepang: Mampukah Samurai Biru Hapus Kutukan?
PN Jakpus Gelar Sidang...
PN Jakpus Gelar Sidang Vonis Nadiem Makarim Besok
Mentan Amran Kumpulkan...
Mentan Amran Kumpulkan Civitas Akademika UGM, Percepat Inovasi dan Hilirisasi Pertanian
Berita Terkini
10 Kali Amerika Serikat...
10 Kali Amerika Serikat dan Iran Duduk di Meja Perundingan, tapi Perang Terus Berlanjut, Ini Penyebabnya
Pria Misterius Dijuluki...
Pria Misterius Dijuluki 'Batman' Diburu Polisi karena Ikat Para Maling Motor di Tiang Lampu
Biden Sebut Trump Pencundang,...
Biden Sebut Trump Pencundang, Narsis, dan Sombong
Media Pemerintah China:...
Media Pemerintah China: Jepang Benar-benar Simulasikan Serangan terhadap Kapal Induk Liaoning
Langka, Putin Akui Rusia...
Langka, Putin Akui Rusia Krisis Bahan Bakar akibat Serangan Ukraina
Begini Cara Bos FIFA...
Begini Cara Bos FIFA Gunakan Geopolitik di Panggung Piala Dunia
Infografis
3 Alasan Greenland Jadi...
3 Alasan Greenland Jadi Kunci AS untuk Perang Nuklir Melawan Rusia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved