Profil Cyril Ramaphosa, Presiden Afrika Selatan yang Temui Prabowo di Jakarta

Rabu, 22 Oktober 2025 - 14:08 WIB
loading...
A A A
Setelah pemilihan demokratis pertama pada tahun 1994, ia menjadi Anggota Majelis Nasional dan kemudian Ketua Majelis Konstitusi yang menyusun Konstitusi Afrika Selatan modern.

Untuk sumbangsihnya, Ramaphosa dianugerahi penghargaan National Order of the Baobab in Silver pada tahun 2009.

Peran ini menunjukkan Ramaphosa tidak hanya tokoh politik tetapi juga mediator dan jembatan dalam momen penting sejarah negaranya.

Kemampuan negosiasi dan visinya untuk rekonsiliasi nasional menjadi ciri khasnya. Dari sini pula ia mulai dikenal secara internasional sebagai figur yang mampu membawa perubahan struktural melalui dialog daripada konfrontasi.

4. Karier Bisnis dan Kekayaan Pribadi


Setelah periode transisi politik, Ramaphosa beralih ke dunia bisnis. Ia memimpin Shanduka Group, sebuah perusahaan investasi yang bergerak di sektor-pertambangan, properti, keuangan, dan food‐franchise, yang berdiri pada awal 2000-an.

Berbagai jabatan di korporasi besar dan investasi yang menguntungkan menjadikan Ramaphosa sosok yang sangat kaya secara pribadi, dengan estimasi kekayaan ratusan juta dolar.

Kombinasi antara karier politik dan bisnis ini menimbulkan pro dan kontra. Di satu sisi, ia memiliki pengalaman manajemen dan jaringan bisnis yang luas. Di sisi lain, ia juga dikritik oleh sebagian pengamat yang melihat potensi konflik kepentingan antara bisnis pribadinya dan tanggung jawab publiknya.

5. Jabatan Presiden dan Kepemimpinan Nasional


Ramaphosa diangkat sebagai Presiden Republik Afrika Selatan pada 15 Februari 2018, menyusul pengunduran diri Jacob Zuma.

Sejak itu, ia memimpin dalam periode yang sarat tantangan: ekonomi yang melambat, pengangguran tinggi, infrastruktur yang menua, dan keharusan rekonsiliasi nasional yang belum selesai.

Pada pemilihan umum berikutnya, meskipun partai ANC tetap memperoleh suara terbanyak, Ramaphosa dituntut untuk membentuk koalisi karena partai tidak lagi mendapatkan mayoritas mutlak.

Kepemimpinannya juga ditandai dengan pertama kali kabinet Afrika Selatan beranggotakan proporsi perempuan yang signifikan, dan fokus pada reformasi struktural termasuk inisiatif pengembangan nasional jangka panjang melalui National Planning Commission yang pernah ia pimpin.

Dengan demikian, Ramaphosa menampilkan dirinya bukan hanya sebagai penerus era apartheid tetapi juga sebagai pemimpin transisi menuju ekonomi dan masyarakat yang lebih modern.

6. Visi Kebijakan dan Prioritas Pemerintahan


Dalam hal kebijakan, Ramaphosa menetapkan beberapa prioritas utama. Ia menekankan pengentasan kemiskinan, penciptaan lapangan kerja, dan pemberdayaan ekonomi bagi warga kulit hitam sebagai warisan dari apartheid.

Ia juga meluncurkan “National Development Plan” yang menargetkan pertumbuhan inklusif dan memperkuat fondasi ekonomi jangka panjang.

Di bidang diplomasi dan internasional, Ramaphosa dikenal sebagai advokat multilateralisme, perdamaian, dan integrasi Afrika — misalnya dengan menjabat sebagai Ketua Uni Afrika pada 2020 dan aktif dalam isu-global seperti perubahan iklim dan perdamaian.

Namun demikian, kebijakan-kebijakan ini menghadapi realitas keras: tingkat pengangguran tetap sangat tinggi, sistem listrik nasional terganggu oleh pemadaman bergilir, dan utang publik terus meningkat. Ramaphosa dalam beberapa kesempatan mendeklarasikan “state of disaster” untuk mengatasi krisis listrik dan infrastruktur.

7. Tantangan, Kontroversi dan Kritik


Meskipun reputasinya sebagai reformis, Ramaphosa tidak lepas dari kontroversi. Kasus yang paling menonjol adalah skandal yang dikenal sebagai “Phala Phala” — terkait pencurian uang asing di peternakan pribadinya pada 2020, yang kemudian memicu investigasi serius terhadap dirinya.

Meskipun jaksa memutuskan untuk tidak menuntutnya, reputasi anti-korupsinya menjadi goyah.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
10 Danau Terjernih di...
10 Danau Terjernih di Dunia, Nomor 7 dari Indonesia
Terungkap, Gempa Dahsyat...
Terungkap, Gempa Dahsyat Sumatra Sebabkan Singapura Tenggelam Secara Bertahap
AS Kembalikan 2 Arca...
AS Kembalikan 2 Arca Buddha Abad ke-8 ke Indonesia, Hasil Curian Douglas Latchford
Inti Kunjungan PM Modi:...
Inti Kunjungan PM Modi: India Akan Pasok Rudal BrahMos dan Astra ke Indonesia
PM India Narendra Modi...
PM India Narendra Modi Disambut Jet F-16 dan Su-30 Indonesia, Diajak ke Candi Prambanan
Kunjungan PM India ke...
Kunjungan PM India ke Indonesia Jadi Momentum Perkuat Dialog Perlindungan Minoritas
BPDP Dukung Penguatan...
BPDP Dukung Penguatan Kemitraan Sawit Indonesia dengan Rusia
Laporan: Sebut Ancaman...
Laporan: Sebut Ancaman Kedaulatan, AS Ambil Langkah Lumpuhkan Mahkamah Pidana Internasional
Trump Sebut AS Akan...
Trump Sebut AS Akan Ambil Alih Selat Hormuz, Bakal Pungut Bayaran
Rekomendasi
William Saliba Cedera...
William Saliba Cedera Serius Saat Prancis Disingkirkan Spanyol
Trump Minta Tarif 20%...
Trump Minta Tarif 20% Kargo di Selat Hormuz, Bisa Kantongi Rp541 Miliar per Supertanker
Mengapa Safar Dijuluki...
Mengapa Safar Dijuluki Bulan Perang? Simak 9 Peristiwa Bersejarah Islam Ini
Berita Terkini
Taktik Trump Sering...
Taktik Trump Sering Menjiplak Musuh-musuhnya, dari Blokade Laut hingga Tarif Selat Hormuz
Diejek Habis-habisan,...
Diejek Habis-habisan, Trump akan Ganti Biaya Kargo Selat Hormuz 20% dengan Kesepakatan Investasi untuk Negara-negara Teluk
Jerman akan Beli 50.000...
Jerman akan Beli 50.000 Drone Serang untuk Ukraina
Politik AS Didominasi...
Politik AS Didominasi Manula! Ini Deretan Politisi Tua yang Melebihi Usia Pensiun
Jepang Bentuk Badan...
Jepang Bentuk Badan Intelijen Baru untuk Pertama Kalinya sejak Perang Dunia II, Ini 5 Alasannya
10 Danau Terjernih di...
10 Danau Terjernih di Dunia, Nomor 7 dari Indonesia
Infografis
10 Pemain Bintang yang...
10 Pemain Bintang yang Absen di Piala Dunia 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved