Ada Apa di Atas Puing Gaza? 57.000 Anak Yatim Piatu dan Tingkat Kemiskinan Luar Biasa

Selasa, 21 Oktober 2025 - 17:15 WIB
loading...
Ada Apa di Atas Puing...
Warga tinggal di antara puing di Jalur Gaza. Foto/qnn
A A A
JALUR GAZA - Perang genosida Israel di Jalur Gaza telah melipatgandakan jumlah anak yatim piatu lebih dari tiga kali lipat, sehingga totalnya diperkirakan mencapai 57.000 anak. Data itu menurut seorang pejabat pemerintah Gaza.

Lonjakan drastis ini terjadi setelah sekitar 40.000 anak kehilangan salah satu atau kedua orang tua mereka. Beberapa di antaranya menjadi satu-satunya anggota keluarga yang masih hidup, akibat genosida Israel selama dua tahun.

Dr. Riad Al-Bitar, Asisten Wakil Menteri Pembangunan Sosial di Gaza, mengatakan sebelum perang genosida, jumlah anak yatim piatu mencapai 17.000. Ia menekankan populasi rentan ini telah berlipat ganda selama perang pemusnahan yang dilancarkan Israel di Jalur Gaza.

Kementerian Pembangunan Sosial kini sedang mengembangkan strategi komprehensif untuk menangani jumlah anak yatim yang membludak, dengan fokus pada "Perawatan Komprehensif" yang mencakup kebutuhan ekonomi, sosial, dan psikologis, serta membangun panti khusus.

Kebutuhan Mendesak untuk Perawatan dan Dukungan Finansial


Al-Bitar mengatakan kepada situs web Al-Jazeera berbahasa Arab bahwa Jalur Gaza sangat membutuhkan lima panti baru untuk anak yatim, beserta dukungan finansial langsung bagi anak-anak dan keluarga yang menerima mereka.

Kementerian sedang berupaya memberikan dukungan teknis kepada organisasi-organisasi bantuan melalui sistem digital terintegrasi.

Sistem ini bertujuan menciptakan basis data terpadu, yang memanfaatkan sumber-sumber seperti catatan sipil dan tautan publik untuk pembaruan data, guna memastikan penyediaan layanan yang efisien dan mencegah duplikasi upaya bantuan antar mitra.

Kementerian menghadapi tantangan signifikan dalam menyatukan upaya bantuan dan pembangunan akibat ketidakstabilan politik di Gaza dan kecenderungan beberapa organisasi lokal dan internasional untuk beroperasi secara independen.

Terlepas dari kesulitan-kesulitan ini, Al-Bitar mencatat, "Kemajuan yang baik telah dicapai oleh semua pihak, mencapai kondisi integrasi di antara semua pihak."

Kemiskinan Universal, Masa Kecil yang Hilang


Genosida telah menyebabkan kemiskinan yang hampir universal, menurut pejabat tersebut. Al-Bitar menekankan semua warga Palestina di Jalur Gaza telah sangat terdampak oleh kemiskinan dan terhentinya aktivitas ekonomi.

Ribuan keluarga yang sebelumnya rentan, yang sebelumnya diklasifikasikan sebagai "sangat miskin", yang bergantung pada bantuan tunai yang seringkali tidak teratur, telah hancur total oleh perang, yang menghentikan semua pencairan bantuan.

Al-Bitar menegaskan kemiskinan di Jalur Gaza kini "komprehensif", sehingga sulit menentukan siapa yang paling miskin di tengah kehancuran yang meluas pada struktur ekonomi, sosial, dan keamanan.

Ia memperkirakan tingkat kemiskinan di Gaza kini melebihi 95%, yang disebabkan hilangnya sumber pendapatan, kelaparan, dan kebijakan pemiskinan yang dipraktikkan penjajah Israel.

Nasib anak-anak menjadi perhatian khusus. Perang telah merampas hak mereka atas pendidikan dan stabilitas keluarga, yang menyebabkan peningkatan kekerasan terhadap mereka dan pekerja anak usia dini.

“Anak-anak kini bangun dengan rutinitas sehari-hari, bukan untuk duduk di bangku sekolah atau minum segelas susu, melainkan mengantre untuk mengisi air, berusaha mendapatkan makanan dari dapur umum, mencari kayu bakar untuk memasak, dan tinggal di tenda-tenda yang minim dimensi sosial,” keluh Al-Bitar.

Ia memperingatkan situasi yang mengerikan ini diperkirakan akan menyebabkan peningkatan kekerasan dalam rumah tangga, kenakalan remaja, dan konflik dengan hukum, yang menciptakan realitas yang sangat sulit bagi anak-anak.

Infrastruktur kesejahteraan anak juga telah hancur, dengan beberapa panti dan pusat perawatan — termasuk Lembaga Rehabilitasi Al-Rabi, Pusat Perlindungan Anak, Lembaga Al-Amal untuk Anak Yatim, dan Desa Anak-Anak SOS di Rafah — hancur atau rusak akibat pemboman Israel.

Perempuan Memikul Beban Terberat


Perempuan di Gaza juga menanggung beban perang, kehilangan suami, anak, rumah, dan menghadapi pengungsian berulang kali dalam kondisi yang keras.

Mereka tinggal di tenda-tenda yang minim privasi, mengalami tekanan ekonomi yang berat, dan kekurangan layanan kesehatan esensial.

Al-Bitar yakin situasi ini telah menyebabkan meningkatnya kekerasan dalam rumah tangga terhadap perempuan.

Permasalahan ini diperparah dengan penghancuran satu-satunya rumah aman di Jalur Gaza yang didedikasikan untuk perlindungan perempuan, Pusat Beit Al-Aman.

Kementerian sedang berupaya mengamankan pusat pengganti, dan Al-Bitar mendesak organisasi internasional untuk turun tangan dan membangun kembali fasilitas tersebut secepat mungkin.

Meskipun fasilitasnya hancur dan kehilangan staf, Kementerian Pembangunan Sosial tetap melanjutkan pekerjaannya, dengan fokus pada penyaluran bantuan, perlindungan perempuan dan anak, serta pembangunan tempat penampungan, semuanya dalam satu sistem digital nasional terpadu untuk mendukung ketahanan rakyat Palestina di Gaza.

Baca juga: 3 Fakta Israel Langgar Gencatan Senjata, dari Serangan Udara hingga Kuasai 50 Persen Wilayah Gaza
(sya)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Pasukan Keamanan Gaza...
Pasukan Keamanan Gaza Gagalkan Penyelundupan Narkoba Besar-besaran oleh Geng Antek Israel
Menteri Israel Usulkan...
Menteri Israel Usulkan Rencana Relokasi Gaza yang Libatkan Mossad
Israel Akui Genosida...
Israel Akui Genosida Armenia, Dikecam karena Juga Lakukan Genosida Gaza
Israel Melarang Seruan...
Israel Melarang Seruan Azan di Masjid Ibrahimi Hebron, Sudah Hari Kelima
Menlu Iran Bilang Hamas:...
Menlu Iran Bilang Hamas: Gaza Penting dalam Negosiasi dengan AS
PBB Ungkap Israel Bunuh...
PBB Ungkap Israel Bunuh Lebih dari 20.000 Anak Palestina
PT Pegadaian CPS Pondok...
PT Pegadaian CPS Pondok Aren Bersama Sahabat Berbagi Tangsel Gelar Santunan
Hadiri LCAW 2026, Menteri...
Hadiri LCAW 2026, Menteri Jumhur Sampaikan Salam Presiden Prabowo kepada Raja Charles di London
Prancis Terpanggang!...
Prancis Terpanggang! Korban Tewas Gelombang Panas Tembus 1.000 Orang, 85% Lansia
Rekomendasi
Lewat Kuliner Pilihan...
Lewat Kuliner Pilihan ShopeeFood, Aa Juju Ungkap Cerita di Balik Kuliner Legendaris Jakarta dan Bandung
Sinopsis Tobat Jatuh...
Sinopsis 'Tobat Jatuh Cinta Eps. 9: Hidup Mila Semakin Rumit, Elin Masih Dihantui Mantan Suaminya
Soroti Kejanggalan,...
Soroti Kejanggalan, Tim Hukum MNC Asia Surati KY dan MA untuk Awasi Sidang Banding Perkara CMNP
Berita Terkini
Pasukan Keamanan Gaza...
Pasukan Keamanan Gaza Gagalkan Penyelundupan Narkoba Besar-besaran oleh Geng Antek Israel
Media Asing Soroti Nasib...
Media Asing Soroti Nasib Nadiem Divonis 10 Tahun Penjara: Eks Bos Gojek yang Dinyatakan Korupsi
Menteri Israel Usulkan...
Menteri Israel Usulkan Rencana Relokasi Gaza yang Libatkan Mossad
Pria Ini Bunuh Pacar,...
Pria Ini Bunuh Pacar, tapi Tewas Serangan Jantung saat Buang Mayat Korban
Apakah Gerakan Amal...
Apakah Gerakan Amal Bisa Menggantikan Hizbullah?
Bagaimana Program Rudal...
Bagaimana Program Rudal Iran Bertahan dari Perang dan Diplomasi? Ini Analisisnya
Infografis
Pemilu Nasional dan...
Pemilu Nasional dan Lokal Dipisah, Apa Saja Dampaknya?
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved