Perundingan Damai Afghanistan Bahas Gencatan Senjata dan Hak-Hak Perempuan
Senin, 14 September 2020 - 12:15 WIB
loading...
A
A
A
Utusan khusus AS untuk Afghanistan, Zalmay Khalilzad mengatakan, mencegah aksi terorisme merupakan syarat utama perdamaian. Selain itu, melindungi hak minoritas dan perempuan juga akan menjadi hal penting. Para pejabat, diplomat, dan analisis menyatakan negosiasi itu sebagai pencapai besar. Tapi, cukup sulit mewujudkan perdamaian di Afghanistan seiring peningkatan kekerasan di negara tersebut.
Abdullah mengatakan, pengurangan kekerasan dan tercapainya gencatan senjata permanen menjadi isu utama yang akan didiskusikan kemarin. Tantangan berat adalah mengamankan hak perempuan dan warga minoritas menjadi hal sulit bagi Taliban. (Baca juga: Wabah Corona, Bolehkah Salat Memakai Masker?)
Sementara itu, banyak warga Afghanistan mendukung perundingan damai tersebut. Pariwash Farkish, seorang guru di Kabul, mengaku memberikan perhatian penuh dengan perdamaian tersebut. Dia mengaku menjadi saksi banyak ledakan dan kekerasan di negaranya. “Ketika saya melihat negosiasi perdamaian itu, saya tidak melihat ada perempuan dari rombongan Taliban. Itu mengkhawatirkan saya,” katanya.
Perundingan damai itu bisa terlaksana setelah tertunda selama berbulan-bulan. Perundingan digelar menyusul kesepakatan keamanan AS-Taliban pada Februari. Namun, perdebatan soal pertukaran tawanan yang kontroversial memperlambat tahapan berikutnya, begitu pula kekerasan di Afghanistan, tempat perang yang telah berlangsung selama empat dekade menemui jalan buntu.
Perundingan perdamaian adalah pertemuan langsung pertama antara Taliban dan perwakilan Pemerintah Afghanistan. Sebelumnya, kelompok militan itu selalu menolak menemui pemerintah, menyebut mereka tidak berdaya dan “boneka” AS. Kedua kubu bertujuan mencapai rekonsiliasi politik dan mengakhiri kekerasan yang berlangsung puluhan tahun, yang dimulai dengan invasi Uni Soviet pada 1979.
Perundingan ini seharusnya dimulai pada Maret, tapi ditunda berkali-kali karena perselisihan soal pertukaran tawanan yang disepakati dalam perjanjian AS-Taliban pada Februari serta kekerasan di Afghanistan. Kesepakatan AS-Taliban yang terpisah, namun saling terkait menetapkan jadwal untuk penarikan pasukan asing, dengan imbalan berupa jaminan kontra-terorisme.
Abdullah mengatakan, pengurangan kekerasan dan tercapainya gencatan senjata permanen menjadi isu utama yang akan didiskusikan kemarin. Tantangan berat adalah mengamankan hak perempuan dan warga minoritas menjadi hal sulit bagi Taliban. (Baca juga: Wabah Corona, Bolehkah Salat Memakai Masker?)
Sementara itu, banyak warga Afghanistan mendukung perundingan damai tersebut. Pariwash Farkish, seorang guru di Kabul, mengaku memberikan perhatian penuh dengan perdamaian tersebut. Dia mengaku menjadi saksi banyak ledakan dan kekerasan di negaranya. “Ketika saya melihat negosiasi perdamaian itu, saya tidak melihat ada perempuan dari rombongan Taliban. Itu mengkhawatirkan saya,” katanya.
Perundingan damai itu bisa terlaksana setelah tertunda selama berbulan-bulan. Perundingan digelar menyusul kesepakatan keamanan AS-Taliban pada Februari. Namun, perdebatan soal pertukaran tawanan yang kontroversial memperlambat tahapan berikutnya, begitu pula kekerasan di Afghanistan, tempat perang yang telah berlangsung selama empat dekade menemui jalan buntu.
Perundingan perdamaian adalah pertemuan langsung pertama antara Taliban dan perwakilan Pemerintah Afghanistan. Sebelumnya, kelompok militan itu selalu menolak menemui pemerintah, menyebut mereka tidak berdaya dan “boneka” AS. Kedua kubu bertujuan mencapai rekonsiliasi politik dan mengakhiri kekerasan yang berlangsung puluhan tahun, yang dimulai dengan invasi Uni Soviet pada 1979.
Perundingan ini seharusnya dimulai pada Maret, tapi ditunda berkali-kali karena perselisihan soal pertukaran tawanan yang disepakati dalam perjanjian AS-Taliban pada Februari serta kekerasan di Afghanistan. Kesepakatan AS-Taliban yang terpisah, namun saling terkait menetapkan jadwal untuk penarikan pasukan asing, dengan imbalan berupa jaminan kontra-terorisme.
Lihat Juga :