Seminggu Saling Serang, Afghanistan dan Pakistan Akhiri Perang Saudara Sesama Muslim
Minggu, 19 Oktober 2025 - 16:08 WIB
loading...
Afghanistan dan Pakistan sepakat akhiri perang saudara. Foto/X/@qamberzaidii
A
A
A
DOHA - Afghanistan dan Pakistan sepakat untuk segera gencatan senjata dalam perundingan yang dimediasi oleh Qatar dan Turki. Itu terjadi setelah seminggu bentrokan sengit dan mematikan di sepanjang perbatasan yang disengketakan.
Kementerian Luar Negeri Qatar pada Minggu pagi mengatakan bahwa kedua negara Asia Selatan tersebut menyetujui gencatan senjata "dan pembentukan mekanisme untuk mengonsolidasikan perdamaian dan stabilitas abadi antara kedua negara".
Doha mengatakan kedua negara juga sepakat untuk mengadakan pertemuan lanjutan dalam beberapa hari mendatang "untuk memastikan keberlanjutan gencatan senjata dan memverifikasi implementasinya secara andal dan berkelanjutan".
Wakil Perdana Menteri Pakistan dan Menteri Luar Negeri Ishaq Dar menyambut baik kesepakatan tersebut, menyebutnya sebagai "langkah pertama ke arah yang benar".
"Sangat menghargai peran konstruktif yang dimainkan oleh Qatar dan Turki," ujarnya dalam sebuah unggahan di X.
"Kami menantikan pembentukan mekanisme pemantauan yang konkret dan terverifikasi, dalam pertemuan berikutnya yang akan diselenggarakan oleh Turki, untuk mengatasi ancaman terorisme yang berasal dari tanah Afghanistan menuju Pakistan," tambahnya.
Baca Juga: 7 Juta Warga AS Turun ke Jalanan Lawan Trump dengan Gerakan No Kings, Ini 6 Alasannya
"Penting untuk mengerahkan segala upaya guna mencegah jatuhnya korban jiwa lebih lanjut."
Sebelumnya, kedua belah pihak mengatakan bahwa mereka mengadakan perundingan damai di Doha pada hari Sabtu untuk mencari jalan keluar, setelah bentrokan menewaskan puluhan orang dan melukai ratusan lainnya dalam kekerasan terburuk antara kedua negara tetangga Asia Selatan tersebut sejak Taliban merebut kekuasaan di Kabul pada tahun 2021.
"Sesuai yang dijanjikan, negosiasi dengan pihak Pakistan akan berlangsung hari ini di Doha," kata juru bicara pemerintah Afghanistan, Zabihullah Mujahid, seraya menambahkan bahwa tim perunding Kabul, yang dipimpin oleh Menteri Pertahanan Mullah Muhammad Yaqoob, berada di ibu kota Qatar.
Kementerian Luar Negeri Pakistan juga mengatakan Menteri Pertahanan negara itu, Khawaja Muhammad Asif, memimpin diskusi dengan perwakilan pimpinan Taliban Afghanistan.
Pertempuran lintas batas antara kedua negara yang pernah bersekutu dan serangan udara Pakistan di sepanjang perbatasan mereka yang disengketakan sepanjang 2.600 km (1.600 mil) dipicu setelah Islamabad menuntut Kabul untuk mengendalikan pemberontak yang telah meningkatkan serangan lintas batas di Pakistan, dengan mengatakan bahwa para pejuang tersebut beroperasi dari tempat perlindungan yang aman di Afghanistan.
Taliban membantah telah memberikan perlindungan kepada kelompok-kelompok bersenjata untuk menyerang Pakistan, dan menuduh militer Pakistan menyebarkan informasi yang salah tentang Afghanistan dan melindungi para pejuang yang terkait dengan ISIS yang telah merusak stabilitas dan kedaulatan negara.
Islamabad membantah tuduhan Kabul. Pakistan menuduh Kabul membiarkan kelompok-kelompok bersenjata berada di Afghanistan dan berperang selama bertahun-tahun melawan negara Pakistan dalam upaya untuk menggulingkan pemerintah dan menggantinya dengan sistem pemerintahan Islam yang ketat.
Pada hari Jumat, sebuah serangan bunuh diri di dekat perbatasan menewaskan tujuh tentara Pakistan dan melukai 13 lainnya, kata pejabat keamanan.
“Rezim Afghanistan harus mengendalikan proksi yang memiliki tempat perlindungan di Afghanistan dan menggunakan tanah Afghanistan untuk melancarkan serangan keji di Pakistan,” kata Panglima Angkatan Darat Pakistan, Marsekal Lapangan Asim Munir, pada hari Sabtu, saat berpidato di upacara wisuda para kadet.
Kementerian Luar Negeri Qatar pada Minggu pagi mengatakan bahwa kedua negara Asia Selatan tersebut menyetujui gencatan senjata "dan pembentukan mekanisme untuk mengonsolidasikan perdamaian dan stabilitas abadi antara kedua negara".
Doha mengatakan kedua negara juga sepakat untuk mengadakan pertemuan lanjutan dalam beberapa hari mendatang "untuk memastikan keberlanjutan gencatan senjata dan memverifikasi implementasinya secara andal dan berkelanjutan".
Wakil Perdana Menteri Pakistan dan Menteri Luar Negeri Ishaq Dar menyambut baik kesepakatan tersebut, menyebutnya sebagai "langkah pertama ke arah yang benar".
"Sangat menghargai peran konstruktif yang dimainkan oleh Qatar dan Turki," ujarnya dalam sebuah unggahan di X.
"Kami menantikan pembentukan mekanisme pemantauan yang konkret dan terverifikasi, dalam pertemuan berikutnya yang akan diselenggarakan oleh Turki, untuk mengatasi ancaman terorisme yang berasal dari tanah Afghanistan menuju Pakistan," tambahnya.
Baca Juga: 7 Juta Warga AS Turun ke Jalanan Lawan Trump dengan Gerakan No Kings, Ini 6 Alasannya
"Penting untuk mengerahkan segala upaya guna mencegah jatuhnya korban jiwa lebih lanjut."
Sebelumnya, kedua belah pihak mengatakan bahwa mereka mengadakan perundingan damai di Doha pada hari Sabtu untuk mencari jalan keluar, setelah bentrokan menewaskan puluhan orang dan melukai ratusan lainnya dalam kekerasan terburuk antara kedua negara tetangga Asia Selatan tersebut sejak Taliban merebut kekuasaan di Kabul pada tahun 2021.
"Sesuai yang dijanjikan, negosiasi dengan pihak Pakistan akan berlangsung hari ini di Doha," kata juru bicara pemerintah Afghanistan, Zabihullah Mujahid, seraya menambahkan bahwa tim perunding Kabul, yang dipimpin oleh Menteri Pertahanan Mullah Muhammad Yaqoob, berada di ibu kota Qatar.
Kementerian Luar Negeri Pakistan juga mengatakan Menteri Pertahanan negara itu, Khawaja Muhammad Asif, memimpin diskusi dengan perwakilan pimpinan Taliban Afghanistan.
Pertempuran lintas batas antara kedua negara yang pernah bersekutu dan serangan udara Pakistan di sepanjang perbatasan mereka yang disengketakan sepanjang 2.600 km (1.600 mil) dipicu setelah Islamabad menuntut Kabul untuk mengendalikan pemberontak yang telah meningkatkan serangan lintas batas di Pakistan, dengan mengatakan bahwa para pejuang tersebut beroperasi dari tempat perlindungan yang aman di Afghanistan.
Taliban membantah telah memberikan perlindungan kepada kelompok-kelompok bersenjata untuk menyerang Pakistan, dan menuduh militer Pakistan menyebarkan informasi yang salah tentang Afghanistan dan melindungi para pejuang yang terkait dengan ISIS yang telah merusak stabilitas dan kedaulatan negara.
Islamabad membantah tuduhan Kabul. Pakistan menuduh Kabul membiarkan kelompok-kelompok bersenjata berada di Afghanistan dan berperang selama bertahun-tahun melawan negara Pakistan dalam upaya untuk menggulingkan pemerintah dan menggantinya dengan sistem pemerintahan Islam yang ketat.
Pada hari Jumat, sebuah serangan bunuh diri di dekat perbatasan menewaskan tujuh tentara Pakistan dan melukai 13 lainnya, kata pejabat keamanan.
“Rezim Afghanistan harus mengendalikan proksi yang memiliki tempat perlindungan di Afghanistan dan menggunakan tanah Afghanistan untuk melancarkan serangan keji di Pakistan,” kata Panglima Angkatan Darat Pakistan, Marsekal Lapangan Asim Munir, pada hari Sabtu, saat berpidato di upacara wisuda para kadet.
(ahm)
Lihat Juga :