Mengapa Raja Terkaya di Dunia Maha Vajiralongkorn Tak Akui 4 Anak Laki-lakinya?
Minggu, 19 Oktober 2025 - 08:27 WIB
loading...
A
A
A
Menurut analisis TIME, beberapa pejabat istana diduga berusaha menyingkirkan keluarga Vivacharawongse karena dianggap dapat mengganggu keseimbangan kekuasaan internal, terutama kelompok pendukung Pangeran Dipangkorn dan Putri Sirivannavari.
Putri Sirivannavari, satu-satunya anak perempuan yang masih dekat dengan sang Raja, kini memegang pengaruh besar di lingkar dalam istana. Sejumlah rumor bahkan menyebut dia tak menghendaki kembalinya saudara-saudaranya yang dianggap “pesaing simbolik”.
Namun bagi Max, semua ini hanyalah kesalahpahaman besar. “Yang Mulia tidak tahu saya mencoba kembali,” katanya. “Saya yakin beliau akan menyambut saya dengan tangan terbuka. Saya tidak ingin takhta. Saya hanya ingin mencium kakinya lagi.”
Sejak naik takhta pada 2016, Raja Vajiralongkorn telah memusatkan kekuasaan secara ekstrem: mengambil alih kendali langsung Biro Properti Mahkota senilai USD60 miliar, menempatkan pasukan pribadi di bawah komandonya, dan mengubah konstitusi agar bisa memerintah dari luar negeri.
Namun ironinya, soal suksesi—jantung stabilitas monarki—justru dibiarkan menggantung.
Ketidakpastian ini mengancam keseimbangan antara monarki, militer, dan rakyat—tiga pilar yang selama ini menjaga stabilitas politik Thailand. Tanpa kejelasan tentang siapa pewaris takhtanya, masa depan monarki Thailand bergantung pada keputusan seorang raja yang dikenal tak terduga dan misterius.
Kisah Max dan saudara-saudaranya bukan sekadar drama keluarga bangsawan. Itu mencerminkan wajah kemanusiaan dari kekuasaan absolut yang tertutup rapat. Di satu sisi, ada seorang anak yang hanya ingin pulang dan memeluk ayahnya; di sisi lain, ada sistem politik dan budaya yang menjadikan kasih keluarga sebagai bagian dari kalkulasi kekuasaan.
“Saya tidak bersalah,” kata Max, lirih.
Kalimat sederhana itu kini bergema melampaui tembok istana—menjadi simbol dari jutaan warga Thailand yang merasa dihukum oleh sistem yang tidak mereka pahami.
Dan selama bayangan krisis suksesi ini belum terjawab, monarki Thailand akan terus berada di persimpangan antara nostalgia kekuasaan lama dan tuntutan reformasi generasi baru.
Putri Sirivannavari, satu-satunya anak perempuan yang masih dekat dengan sang Raja, kini memegang pengaruh besar di lingkar dalam istana. Sejumlah rumor bahkan menyebut dia tak menghendaki kembalinya saudara-saudaranya yang dianggap “pesaing simbolik”.
Namun bagi Max, semua ini hanyalah kesalahpahaman besar. “Yang Mulia tidak tahu saya mencoba kembali,” katanya. “Saya yakin beliau akan menyambut saya dengan tangan terbuka. Saya tidak ingin takhta. Saya hanya ingin mencium kakinya lagi.”
Monarki dalam Bayang Ketidakpastian
Sejak naik takhta pada 2016, Raja Vajiralongkorn telah memusatkan kekuasaan secara ekstrem: mengambil alih kendali langsung Biro Properti Mahkota senilai USD60 miliar, menempatkan pasukan pribadi di bawah komandonya, dan mengubah konstitusi agar bisa memerintah dari luar negeri.
Namun ironinya, soal suksesi—jantung stabilitas monarki—justru dibiarkan menggantung.
Ketidakpastian ini mengancam keseimbangan antara monarki, militer, dan rakyat—tiga pilar yang selama ini menjaga stabilitas politik Thailand. Tanpa kejelasan tentang siapa pewaris takhtanya, masa depan monarki Thailand bergantung pada keputusan seorang raja yang dikenal tak terduga dan misterius.
Kisah Max dan saudara-saudaranya bukan sekadar drama keluarga bangsawan. Itu mencerminkan wajah kemanusiaan dari kekuasaan absolut yang tertutup rapat. Di satu sisi, ada seorang anak yang hanya ingin pulang dan memeluk ayahnya; di sisi lain, ada sistem politik dan budaya yang menjadikan kasih keluarga sebagai bagian dari kalkulasi kekuasaan.
“Saya tidak bersalah,” kata Max, lirih.
Kalimat sederhana itu kini bergema melampaui tembok istana—menjadi simbol dari jutaan warga Thailand yang merasa dihukum oleh sistem yang tidak mereka pahami.
Dan selama bayangan krisis suksesi ini belum terjawab, monarki Thailand akan terus berada di persimpangan antara nostalgia kekuasaan lama dan tuntutan reformasi generasi baru.
(mas)
Lihat Juga :