Mengapa Raja Terkaya di Dunia Maha Vajiralongkorn Tak Akui 4 Anak Laki-lakinya?
Minggu, 19 Oktober 2025 - 08:27 WIB
loading...
A
A
A
Para Pangeran Pulang, tapi Diusir Lagi
Pada 2023, Vacharaesorn, saudara kedua Max, membuat kejutan dengan kembali ke Thailand. Kehadirannya disambut publik dan media lokal, bahkan dianggap sinyal rekonsiliasi antara ayah dan anak. Dia berziarah ke kuil, membantu korban banjir, dan bahkan menjadi biksu di Bangkok pada Mei 2025.
Namun euforia itu tak bertahan lama. Hanya sebulan setelah penahbisannya, pasukan keamanan menyerbu kuil tempatnya bermeditasi dan mengusirnya secara diam-diam ke New York, ditemani pejabat Thailand hingga tiba di bandara AS. Beberapa hari kemudian, saudaranya; Chakriwat, juga dideportasi tanpa alasan jelas.
Insiden ini mengindikasikan pertarungan internal dalam lingkaran istana, di mana kelompok tertentu tampaknya ingin memastikan bahwa keluarga Vivacharawongse tidak kembali menginjakkan kaki di tanah Thailand.
Thailand, negara yang selama puluhan tahun memuja rajanya sebagai simbol stabilitas, kini menghadapi krisis suksesi paling serius dalam sejarah modernnya. Raja Vajiralongkorn memiliki tujuh anak, namun hanya tiga yang bergelar kerajaan, dan tidak satu pun ditunjuk secara resmi sebagai pewaris takhta.
Dua kandidat utama kini dalam posisi lemah. Pertama, Putri Bajrakitiyabha; satu-satunya anak dari istri pertama, koma sejak Desember 2022. Kedua, Pangeran Dipangkorn; putra dari istri ketiga, diyakini memiliki keterbatasan kognitif yang membuatnya sulit menjalankan tugas kenegaraan.
Dalam situasi seperti ini, kemunculan kembali anak-anak dari Sujarinee sempat dianggap manuver istana untuk “menguji” kelayakan pewaris alternatif. Namun begitu Vacharaesorn menunjukkan kedekatan dengan kubu reformis dan memiliki keluarga campuran AS, dukungan itu menguap.
Bayang-bayang Politik dan Ketakutan Akan Reformasi
Kebangkitan kembali keluarga Vivacharawongse terjadi bersamaan dengan gejolak politik di Thailand.
Partai progresif Move Forward yang menuntut reformasi monarki menang dalam Pemilu 2023, tetapi diadang oleh Senat pro-militer untuk membentuk pemerintahan. Mahkamah Konstitusi kemudian membubarkan partai itu, memperkuat persepsi bahwa monarki dan militer bersekongkol mempertahankan status quo.
Vacharaesorn, dalam beberapa kesempatan, tampak bersimpati pada seruan reformasi, bahkan menghadiri pameran “Wajah-Wajah Korban Pasal 112”—hukum penghinaan kerajaan yang menjerat ratusan aktivis muda. Sikap terbuka ini, meski disertai deklarasi kesetiaan pada monarki, dipandang sebagai pelanggaran batas oleh kalangan royalis garis keras.
“Dia terbang terlalu dekat dengan matahari,” ujar akademisi eksil Thailand, Pavin Chachavalpongpun, menggambarkan betapa berisikonya posisi Vacharaesorn di tengah konflik internal istana.
Lihat Juga :