Mengapa Raja Terkaya di Dunia Maha Vajiralongkorn Tak Akui 4 Anak Laki-lakinya?

Minggu, 19 Oktober 2025 - 08:27 WIB
loading...
Mengapa Raja Terkaya...
Raja Thailand Maha Vajiralongkorn masih enggan mengakui 4 anak laki-lakinya dari pernikahan dengan istri kedua, Sujarinee Vivacharawongse. Foto/Screenshot video Fox News
A A A
JAKARTA - Ketika siang terik di perbatasan Thailand-Malaysia, 28 Mei lalu, dua pria keturunan Kerajaan Thailand berdiri canggung di ruang imigrasi yang kumuh. Bukan karpet merah atau taburan bunga melati yang menyambut mereka, melainkan tatapan dingin petugas yang meminta paspor Amerika Serikat mereka.

Dua pria itu bukan sembarang turis—mereka adalah Juthavachara “Max” Vivacharawongse dan adiknya; Vatchrawee Vivacharawongse, putra Raja Thailand Maha Vajiralongkorn (Rama X), raja terkaya di dunia.

Momen itu menggarisbawahi ironi besar: dua pangeran darah biru justru ditolak masuk ke negeri mereka sendiri.

Bagi Max, insiden itu bukan sekadar penolakan administratif, melainkan pukulan psikologis. “Saya merindukan tanah air saya setiap hari. Tapi saya dihukum atas sesuatu yang tidak saya lakukan,” ujarnya dalam wawancara dengan TIME.

Baca Juga: Karier Militer Mayjen Sineenat Wongvajirapakdi, Selir Resmi Raja Thailand Sepanjang Sejarah

Namun di balik drama personal ini tersembunyi konflik yang jauh lebih dalam—krisis legitimasi dan suksesi monarki Thailand yang semakin mengguncang fondasi kekuasaan istana Chakri.

Kisah Max dan saudara-saudaranya berakar dari pernikahan kedua Raja Vajiralongkorn dengan aktris Sujarinee Vivacharawongse, yang berakhir pahit pada 1996.

Setelah menuduh Sujarinee berselingkuh atau berzina dengan pria lain, Vajiralongkorn—yang saat itu masih berstatus putra mahkota—mencabut gelar istri dan empat anak laki-lakinya, memaksa mereka meninggalkan Thailand dan menetap di Amerika Serikat sebagai pengungsi politik.

Hanya Putri Sirivannavari, putri bungsu keluarga itu, yang kemudian diselundupkan kembali ke Bangkok dan hidup di bawah naungan ayahnya. Sejak itu, empat putra Sujarinee tak pernah bertemu saudari kandung mereka lagi.

Di Amerika, Max berusaha membangun hidup baru. Dia menjadi insinyur kedirgantaraan di San Diego, menikah dengan wanita Amerika, dan memiliki tiga anak. Namun, setiap tahun dia dan saudara-saudaranya tetap menulis surat kepada ayah mereka—yang tak pernah dibalas. “Kami hanya ingin kembali dan menjadi rakyat yang setia,” kata Max, menahan nada getir.

Para Pangeran Pulang, tapi Diusir Lagi


Pada 2023, Vacharaesorn, saudara kedua Max, membuat kejutan dengan kembali ke Thailand. Kehadirannya disambut publik dan media lokal, bahkan dianggap sinyal rekonsiliasi antara ayah dan anak. Dia berziarah ke kuil, membantu korban banjir, dan bahkan menjadi biksu di Bangkok pada Mei 2025.

Namun euforia itu tak bertahan lama. Hanya sebulan setelah penahbisannya, pasukan keamanan menyerbu kuil tempatnya bermeditasi dan mengusirnya secara diam-diam ke New York, ditemani pejabat Thailand hingga tiba di bandara AS. Beberapa hari kemudian, saudaranya; Chakriwat, juga dideportasi tanpa alasan jelas.

Insiden ini mengindikasikan pertarungan internal dalam lingkaran istana, di mana kelompok tertentu tampaknya ingin memastikan bahwa keluarga Vivacharawongse tidak kembali menginjakkan kaki di tanah Thailand.

Thailand, negara yang selama puluhan tahun memuja rajanya sebagai simbol stabilitas, kini menghadapi krisis suksesi paling serius dalam sejarah modernnya. Raja Vajiralongkorn memiliki tujuh anak, namun hanya tiga yang bergelar kerajaan, dan tidak satu pun ditunjuk secara resmi sebagai pewaris takhta.

Dua kandidat utama kini dalam posisi lemah. Pertama, Putri Bajrakitiyabha; satu-satunya anak dari istri pertama, koma sejak Desember 2022. Kedua, Pangeran Dipangkorn; putra dari istri ketiga, diyakini memiliki keterbatasan kognitif yang membuatnya sulit menjalankan tugas kenegaraan.

Dalam situasi seperti ini, kemunculan kembali anak-anak dari Sujarinee sempat dianggap manuver istana untuk “menguji” kelayakan pewaris alternatif. Namun begitu Vacharaesorn menunjukkan kedekatan dengan kubu reformis dan memiliki keluarga campuran AS, dukungan itu menguap.

Bayang-bayang Politik dan Ketakutan Akan Reformasi


Kebangkitan kembali keluarga Vivacharawongse terjadi bersamaan dengan gejolak politik di Thailand.

Partai progresif Move Forward yang menuntut reformasi monarki menang dalam Pemilu 2023, tetapi diadang oleh Senat pro-militer untuk membentuk pemerintahan. Mahkamah Konstitusi kemudian membubarkan partai itu, memperkuat persepsi bahwa monarki dan militer bersekongkol mempertahankan status quo.

Vacharaesorn, dalam beberapa kesempatan, tampak bersimpati pada seruan reformasi, bahkan menghadiri pameran “Wajah-Wajah Korban Pasal 112”—hukum penghinaan kerajaan yang menjerat ratusan aktivis muda. Sikap terbuka ini, meski disertai deklarasi kesetiaan pada monarki, dipandang sebagai pelanggaran batas oleh kalangan royalis garis keras.

“Dia terbang terlalu dekat dengan matahari,” ujar akademisi eksil Thailand, Pavin Chachavalpongpun, menggambarkan betapa berisikonya posisi Vacharaesorn di tengah konflik internal istana.

Menurut analisis TIME, beberapa pejabat istana diduga berusaha menyingkirkan keluarga Vivacharawongse karena dianggap dapat mengganggu keseimbangan kekuasaan internal, terutama kelompok pendukung Pangeran Dipangkorn dan Putri Sirivannavari.

Putri Sirivannavari, satu-satunya anak perempuan yang masih dekat dengan sang Raja, kini memegang pengaruh besar di lingkar dalam istana. Sejumlah rumor bahkan menyebut dia tak menghendaki kembalinya saudara-saudaranya yang dianggap “pesaing simbolik”.

Namun bagi Max, semua ini hanyalah kesalahpahaman besar. “Yang Mulia tidak tahu saya mencoba kembali,” katanya. “Saya yakin beliau akan menyambut saya dengan tangan terbuka. Saya tidak ingin takhta. Saya hanya ingin mencium kakinya lagi.”

Monarki dalam Bayang Ketidakpastian


Sejak naik takhta pada 2016, Raja Vajiralongkorn telah memusatkan kekuasaan secara ekstrem: mengambil alih kendali langsung Biro Properti Mahkota senilai USD60 miliar, menempatkan pasukan pribadi di bawah komandonya, dan mengubah konstitusi agar bisa memerintah dari luar negeri.

Namun ironinya, soal suksesi—jantung stabilitas monarki—justru dibiarkan menggantung.

Ketidakpastian ini mengancam keseimbangan antara monarki, militer, dan rakyat—tiga pilar yang selama ini menjaga stabilitas politik Thailand. Tanpa kejelasan tentang siapa pewaris takhtanya, masa depan monarki Thailand bergantung pada keputusan seorang raja yang dikenal tak terduga dan misterius.

Kisah Max dan saudara-saudaranya bukan sekadar drama keluarga bangsawan. Itu mencerminkan wajah kemanusiaan dari kekuasaan absolut yang tertutup rapat. Di satu sisi, ada seorang anak yang hanya ingin pulang dan memeluk ayahnya; di sisi lain, ada sistem politik dan budaya yang menjadikan kasih keluarga sebagai bagian dari kalkulasi kekuasaan.

“Saya tidak bersalah,” kata Max, lirih.

Kalimat sederhana itu kini bergema melampaui tembok istana—menjadi simbol dari jutaan warga Thailand yang merasa dihukum oleh sistem yang tidak mereka pahami.

Dan selama bayangan krisis suksesi ini belum terjawab, monarki Thailand akan terus berada di persimpangan antara nostalgia kekuasaan lama dan tuntutan reformasi generasi baru.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
3 Fakta Kebakaran Bar...
3 Fakta Kebakaran Bar di Bangkok Tewaskan 27 Orang, Pintu Darurat Terhalang
Kebakaran Mengerikan...
Kebakaran Mengerikan Melanda Pub Bangkok, 27 Orang Tewas, 22 Kritis
Putri Bha Meninggal,...
Putri Bha Meninggal, Calon Pewaris Raja Vajiralongkorn Berharta Rp770 Triliun Makin Misterius
Thailand Berduka, Putri...
Thailand Berduka, Putri Raja Vajiralongkorn Meninggal setelah Koma Hampir 4 Tahun
Ironi Kekayaan Raja...
Ironi Kekayaan Raja Thailand Vajiralongkorn Rp778 Triliun: Hampir 3 Kali Anggaran MBG, tapi Pewarisnya Tak Jelas
Bebas dari Penjara,...
Bebas dari Penjara, Thaksin Shinawatra Dapat Pengampunan Raja Thailand
27 Orang Tewas Akibat...
27 Orang Tewas Akibat Kebakaran di Bar Bangkok, Kemlu: Tidak Ada Korban WNI
Konflik AS-Iran Meluas,...
Konflik AS-Iran Meluas, Kuwait Jadi Sasaran Serangan Rudal dan Drone
Trump Tuduh China Pegang...
Trump Tuduh China Pegang 220 Juta Data Pemilih AS, Sebut Skandal Terbesar dalam Sejarah
Rekomendasi
Cinta Laura Biayai Sekolah...
Cinta Laura Biayai Sekolah Asisten hingga Lulus SMA, Alasannya Bikin Haru
Kabar Bahagia, Chelsea...
Kabar Bahagia, Chelsea Islan Umumkan Kelahiran Anak Pertama
Daftar Saham Paling...
Daftar Saham Paling Cuan hingga Boncos dalam Sepekan saat IHSG Melejit 4,42 Persen
Berita Terkini
Setelah 4 Bulan Tenang...
Setelah 4 Bulan Tenang dan Nyaman, Arab Saudi Kembali Dibombardir Iran
Iran Peringatkan Negara-negara...
Iran Peringatkan Negara-negara Penampung Pasukan AS Bersiap Hadapi Respons Setara
Tentara AS Terluka dalam...
Tentara AS Terluka dalam Serangan Iran di Yordania, Pentagon Belum Mengakui
Memanas, Iran Ancam...
Memanas, Iran Ancam Minta Houthi Blokir Selat Bab al-Mandeb, Perdagangan Global Kian Tercekik
Drone Israel Serang...
Drone Israel Serang Acara Pemakaman di Gaza Tengah, 8 Orang Tewas, 20 Warga Terluka
Iran Hancurkan Depot...
Iran Hancurkan Depot Drone AS dan Pusat Kecerdasan Buatan di Bahrain
Infografis
10 Pesawat Militer Termahal...
10 Pesawat Militer Termahal di Dunia, Harga 7 Bomber B-2 Hampir Setara Anggaran MBG
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved