Sudah Lelah dan Kalah Berperang dengan Rusia, Zelensky Minta Gencatan Senjata

Sabtu, 18 Oktober 2025 - 11:16 WIB
loading...
Sudah Lelah dan Kalah...
Sudah lelah dan kalah berperang dengan Rusia, Presiden Ukraina minta gencatan senjata. Foto/X
A A A
MOSKOW - Pemimpin Ukraina Vladimir Zelensky menyerukan gencatan senjata dengan Rusia di sepanjang garis depan saat ini. Ia menyampaikan komentar tersebut setelah Presiden AS Donald Trump mengeluarkan seruan serupa di media sosial.

"Kita harus berhenti di tempat kita berada. Presiden benar," kata Zelensky kepada wartawan di Washington, DC, pada hari Jumat.

Dia menambahkan bahwa kedua belah pihak kemudian dapat menyusun langkah selanjutnya menuju kesepakatan damai yang definitif. "Ya, kedua belah pihak harus berhenti," kata Zelensky.

Trump menjamu Zelensky di Gedung Putih pada hari yang sama, setelah melakukan panggilan telepon dengan Presiden Rusia Vladimir Putin pada hari Kamis. Ia sebelumnya telah menyatakan frustrasi atas kurangnya kemajuan dalam upayanya untuk memediasi perdamaian antara Rusia dan Ukraina.

"Sudah cukup darah yang tertumpah, dengan batas-batas properti yang ditentukan oleh Perang dan Keberanian. Mereka harus berhenti di tempatnya. Biarkan keduanya mengklaim Kemenangan, biarkan Sejarah yang memutuskan! Tidak ada lagi penembakan, tidak ada lagi Kematian, tidak ada lagi pengeluaran uang yang sangat besar dan tidak berkelanjutan," tulisnya, dilansir RT.

Moskow mengatakan bahwa agar gencatan senjata berhasil, Ukraina harus menarik pasukannya dari beberapa wilayah Rusia yang dikuasainya, dan Barat harus mengakhiri bantuan militer ke Kiev.

Putin juga menuntut agar Ukraina mengakui perbatasan baru Rusia dan membatalkan rencananya untuk bergabung dengan NATO.

Baca Juga: Ingin Tekan Konsensi Minyak, AS Serang Kapal Selam Venezuela

Sementara itu, Zelensky menolak berkomentar mengenai apakah AS akan mengirimkan rudal jarak jauh Tomahawk ke Kiev, menyusul pertemuannya dengan Presiden AS Donald Trump di Washington.

Zelensky mengklaim bahwa ia sengaja enggan berbicara mengenai hal tersebut karena AS "tidak menginginkan eskalasi."

Zelensky menyampaikan pernyataan tersebut pada hari Jumat setelah negosiasi di Gedung Putih, yang antara lain membahas potensi pengiriman rudal yang memiliki jangkauan maksimum 2.500 kilometer (1.550 mil) dan membuat Kiev mampu menyerang Moskow dan kota-kota di sekitarnya.

Ia tidak memberikan petunjuk apa pun mengenai apakah kesepakatan telah tercapai. "Kami berbicara tentang jarak jauh, tentu saja. Saya tidak ingin membuat pernyataan tentang hal itu. Kami memutuskan untuk tidak membicarakannya... karena Amerika Serikat tidak menginginkan eskalasi," ujarnya kepada para wartawan, setelah meninggalkan Gedung Putih.

Komentarnya muncul setelah Trump mengakui bahwa rudal Tomahawk ada dalam agenda, tetapi mengisyaratkan bahwa "tidak mudah" bagi Washington untuk menjual rudal tersebut ke Ukraina karena Ukraina membutuhkannya untuk menjaga keamanan nasionalnya sendiri. Trump memperingatkan bahwa membiarkan Kiev melakukan serangan jauh ke wilayah Rusia dapat menyebabkan "eskalasi".

Moskow telah memperingatkan tentang pengiriman rudal ke Ukraina, dengan alasan bahwa rudal tersebut "tidak akan mengubah situasi di medan perang" tetapi akan "sangat merusak prospek penyelesaian damai" dan merusak hubungan AS-Rusia.

Isu Tomahawk merupakan salah satu poin penting yang dibahas oleh Presiden Rusia Vladimir Putin dan Trump melalui panggilan telepon pada hari Kamis, sebelum perundingan Trump-Zelensky. Dalam percakapan tersebut, para pemimpin Rusia dan AS sepakat untuk mengadakan pertemuan puncak baru di Budapest, Hongaria.
(ahm)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Inggris Akan Pasok Uranium...
Inggris Akan Pasok Uranium ke Ukraina dan Jatuhkan Sanksi Baru terhadap Rusia
Jenderal Jerman Ancam...
Jenderal Jerman Ancam Serang Dahsyat Rusia: Kami Siap Bertempur Malam Ini
Presiden Belarusia:...
Presiden Belarusia: Lobi Yahudi Menipu Putin
Putin Mengamuk! Serangan...
Putin Mengamuk! Serangan Rusia Tewaskan 11 Orang dan Hancurkan Katedral Bersejarah
Inggris Cegat dan Rebut...
Inggris Cegat dan Rebut Kapal Tanker Armada Bayangan Rusia, Ini Respons Kremlin
Misteri Freya, Model...
Misteri Freya, Model Erotis Ukraina yang Diduga Ledakkan Pipa Nord Stream Rusia
Berpengalaman di Perang...
Berpengalaman di Perang Ukraina, Sky-Watch Luncurkan Drone Jarak Jauh RQ-70 Dainn
Pentagon Buka Arsip...
Pentagon Buka Arsip UFO, Ungkap Bola Bercahaya Misterius di Langit AS
Harga Minyak Dunia Anjlok...
Harga Minyak Dunia Anjlok ke Level Terendah dalam 3 Bulan usai Kesepakatan Damai AS-Iran
Rekomendasi
Gempa Besar M6,7 Guncang...
Gempa Besar M6,7 Guncang Palu, BMKG: Akibat Aktivitas Sesar Aktif
Singgung Peran KPRP,...
Singgung Peran KPRP, Pakar: Kritik Mahfud MD Terhadap UU Polri Sangat Aneh
Trauma Kematian Anak,...
Trauma Kematian Anak, Tamara Tyasmara Tutup Hati untuk Pacar Baru: Sekarang Harus Selektif!
Berita Terkini
Siapa Pihak yang Berpotensi...
Siapa Pihak yang Berpotensi Menggagalkan Kesepakatan Perdamaian Iran dan AS?
Inggris Akan Pasok Uranium...
Inggris Akan Pasok Uranium ke Ukraina dan Jatuhkan Sanksi Baru terhadap Rusia
Momen Terakhir Wanita...
Momen Terakhir Wanita Tewas dalam Bungee Jumping 39 Meter: 'Bernapas Terengah-engah'
Posisi Iran Jadi Pemenang,...
Posisi Iran Jadi Pemenang, Israel Tetap Berstatus Pecundang
Wapres AS Sebut Iran...
Wapres AS Sebut Iran Bisa Dapat Rp5.312 Triliun, tapi Trump Ragu
Kesepakatan Damai AS...
Kesepakatan Damai AS dan Iran Simbol Kekalahan Fatal PM Netanyahu, Ini 3 Alasannya
Infografis
Presiden Ukraina Zelensky:...
Presiden Ukraina Zelensky: China Memasok Senjata ke Rusia!
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved