Perusahaan-perusahaan Mesir Incar Peran Utama Upaya Rekonstruksi Gaza
Selasa, 14 Oktober 2025 - 20:00 WIB
loading...
Warga Palestina yang mengungsi, termasuk anak-anak, yang kembali ke rumah mereka setelah perjanjian gencatan senjata, berjalan di antara bangunan-bangunan yang hancur akibat serangan Israel pada 12 Oktober 2025 di lingkungan Sabra di selatan Kota Gaza, Ga
A
A
A
KAIRO - Perusahaan-perusahaan kontraktor dan bahan bangunan Mesir berupaya mengamankan peran utama dalam rekonstruksi Jalur Gaza menyusul perjanjian damai yang baru-baru ini diumumkan. Perkembangan itu diungkap para eksekutif perusahaan kepada Al-Shorouk.
Beberapa perusahaan menyatakan kesiapan mereka berpartisipasi dalam upaya pembangunan kembali, dengan alasan surplus material konstruksi dan kapasitas yang signifikan di pasar domestik Mesir.
Perkembangan ini terjadi setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan berakhirnya perang Gaza melalui mediasi Mesir dan Arab.
Pertemuan puncak perdamaian diadakan pada hari Senin di Sharm el-Sheikh, yang diketuai bersama oleh Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi dan Trump, dengan partisipasi sejumlah pemimpin dunia, untuk mendorong stabilitas di Timur Tengah dan mendukung upaya rekonstruksi di Gaza.
Setelah penandatanganan perjanjian, diskusi diperkirakan akan dimulai mengenai prioritas rekonstruksi dan mekanisme pendanaan, terutama mengingat kerusakan parah pada bangunan dan infrastruktur di seluruh wilayah kantong tersebut selama dua tahun terakhir akibat konflik.
Menurut data Perserikatan Bangsa-Bangsa, sekitar 83% bangunan di Kota Gaza telah rusak, termasuk sekitar 17.734 bangunan yang hancur total.
Para ahli dan lembaga internasional memperkirakan pembangunan kembali Jalur Gaza dapat menelan biaya sekitar USD50 miliar dan membutuhkan waktu hingga satu dekade untuk menyelesaikannya.
Persaingan global untuk kontrak rekonstruksi telah dimulai, dengan perusahaan-perusahaan besar dari Turki, Amerika Serikat, Qatar, UEA, Inggris, dan Mesir bersaing untuk berpartisipasi.
The Times melaporkan perusahaan-perusahaan Turki dan Amerika termasuk yang pertama mengajukan proposal untuk terlibat dalam proses pembangunan kembali.
Baca juga: Teks Lengkap Pernyataan Bersama Mesir-Qatar-Turki-AS tentang Perdamaian Gaza
Beberapa perusahaan menyatakan kesiapan mereka berpartisipasi dalam upaya pembangunan kembali, dengan alasan surplus material konstruksi dan kapasitas yang signifikan di pasar domestik Mesir.
Perkembangan ini terjadi setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan berakhirnya perang Gaza melalui mediasi Mesir dan Arab.
Pertemuan puncak perdamaian diadakan pada hari Senin di Sharm el-Sheikh, yang diketuai bersama oleh Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi dan Trump, dengan partisipasi sejumlah pemimpin dunia, untuk mendorong stabilitas di Timur Tengah dan mendukung upaya rekonstruksi di Gaza.
Setelah penandatanganan perjanjian, diskusi diperkirakan akan dimulai mengenai prioritas rekonstruksi dan mekanisme pendanaan, terutama mengingat kerusakan parah pada bangunan dan infrastruktur di seluruh wilayah kantong tersebut selama dua tahun terakhir akibat konflik.
Menurut data Perserikatan Bangsa-Bangsa, sekitar 83% bangunan di Kota Gaza telah rusak, termasuk sekitar 17.734 bangunan yang hancur total.
Para ahli dan lembaga internasional memperkirakan pembangunan kembali Jalur Gaza dapat menelan biaya sekitar USD50 miliar dan membutuhkan waktu hingga satu dekade untuk menyelesaikannya.
Persaingan global untuk kontrak rekonstruksi telah dimulai, dengan perusahaan-perusahaan besar dari Turki, Amerika Serikat, Qatar, UEA, Inggris, dan Mesir bersaing untuk berpartisipasi.
The Times melaporkan perusahaan-perusahaan Turki dan Amerika termasuk yang pertama mengajukan proposal untuk terlibat dalam proses pembangunan kembali.
Baca juga: Teks Lengkap Pernyataan Bersama Mesir-Qatar-Turki-AS tentang Perdamaian Gaza
(sya)
Lihat Juga :