Israel Usir Greta Thunberg dan 160 Aktivis Bantuan Gaza Lainnya ke Yunani
Selasa, 07 Oktober 2025 - 10:39 WIB
loading...
Israel mengusir Greta Thunberg dan 160 aktivis bantuan Gaza lainnya ke Yunani. Foto/Screenshot video Sky News
A
A
A
TEL AVIV - Israel telah mendeportasi Greta Thunberg dan 160 aktivis bantuan Gaza lainnya ke Yunani. Mereka mendarat di Bandara Internasional Athena pada hari Senin.
Ratusan aktivis Global Sumud Flotilla itu diusir dari Israel setelah mencoba mengirimkan bantuan ke Gaza.
Greta (22), yang berlatar belakang sebagai aktivis iklim, adalah salah satu dari ratusan orang yang menaiki armada kapal bantuan yang mencoba menerobos blokade Israel atas wilayah Palestina yang dilanda perang tersebut. Banyak di antara mereka yang mengeluh sekembalinya ke Eropa atas perlakuan buruk yang dilakukan oleh otoritas Israel.
Baca Juga: Aktivis Greta Thunberg Dipukuli dan Dilecehkan di Penjara Israel
Kedatangan Thunberg dan 160 orang lainnya di Bandara Internasional Athena disambut kerumunan aktivis.
Thunberg menyebut Global Sumud Flotilla sebagai upaya terbesar yang pernah ada untuk mematahkan pengepungan ilegal dan tidak manusiawi Israel melalui laut.
"Misi ini harus ada sungguh memalukan," katanya, mendesak dunia untuk bertindak guna mencegah genosida Israel terhadap rakyat Palestina.
"Kita bahkan tidak melihat sedikit pun tindakan dari pemerintah kita," ujar Thunberg, seperti dikutip AFP, Selasa (7/10/2025).
Para aktivis membentangkan bendera Palestina yang sangat besar di aula kedatangan dan meneriakkan: "Kebebasan untuk Palestina" dan "Hidup armada kapal!"
Salah satu dari mereka yang mendarat di Yunani, Rima Hassan, seorang anggota Parlemen Eropa keturunan Prancis-Palestina, melaporkan telah dipukul oleh polisi Israel setelah armada tersebut dicegat.
"Saya dipukuli oleh dua petugas polisi ketika mereka memasukkan saya ke dalam van," katanya kepada AFP.
Hassan mengatakan bahwa dia dan tahanan aktivis lainnya ditahan dalam kelompok hingga 15 orang per sel di atas kasur di penjara Israel dengan keamanan tinggi.
Yasmin Acar, seorang anggota komite pengarah armada, mengatakan para tahanan diperlakukan seperti binatang dan teroris.
"Kami diserang secara fisik, kami dilarang tidur," kata Acar. "Kami tidak punya air bersih. 48 jam pertama, tidak ada makanan, tidak ada air sama sekali."
Israel telah membantah tuduhan penganiayaan tersebut dan menyatakannya tidak benar.
Kementerian Luar Negeri Yunani mengatakan "penerbangan repatriasi khusus" yang mendarat di Athena membawa 27 warga Yunani dan 134 warga negara lainnya dari 15 negara Eropa.
Kementerian Luar Negeri Israel mengatakan pada hari Senin bahwa mereka telah mendeportasi 171 aktivis secara keseluruhan ke Yunani dan Slovakia.
Kementerian Luar Negeri Bratislava mengonfirmasi bahwa seorang warga Slovakia telah kembali ke negara Eropa Tengah tersebut, bersama dengan sembilan orang lainnya dari Belanda, Kanada, dan Amerika Serikat.
Global Sumud Flotilla berangkat dari Barcelona di Spanyol pada awal September dan dicegat oleh Angkatan Laut Israel di lepas pantai Mesir pekan lalu.
Israel telah mencap armada tersebut sebagai cabang Hamas, kelompok perlawanan Palestina yang berperang melawan Israel di Gaza.
Israel mengatakan bahwa kapal-kapal tersebut melanggar zona terlarang dan hanya sedikit bantuan kemanusiaan yang ditemukan di dalam kapal.
Polisi Israel mengatakan lebih dari 470 orang di atas kapal-kapal armada tersebut ditangkap.
Kementerian Luar Negeri Israel mengatakan kepada AFP bahwa 138 peserta armada bantuan masih ditahan di Israel.
Ratusan aktivis Global Sumud Flotilla itu diusir dari Israel setelah mencoba mengirimkan bantuan ke Gaza.
Greta (22), yang berlatar belakang sebagai aktivis iklim, adalah salah satu dari ratusan orang yang menaiki armada kapal bantuan yang mencoba menerobos blokade Israel atas wilayah Palestina yang dilanda perang tersebut. Banyak di antara mereka yang mengeluh sekembalinya ke Eropa atas perlakuan buruk yang dilakukan oleh otoritas Israel.
Baca Juga: Aktivis Greta Thunberg Dipukuli dan Dilecehkan di Penjara Israel
Kedatangan Thunberg dan 160 orang lainnya di Bandara Internasional Athena disambut kerumunan aktivis.
Thunberg menyebut Global Sumud Flotilla sebagai upaya terbesar yang pernah ada untuk mematahkan pengepungan ilegal dan tidak manusiawi Israel melalui laut.
"Misi ini harus ada sungguh memalukan," katanya, mendesak dunia untuk bertindak guna mencegah genosida Israel terhadap rakyat Palestina.
"Kita bahkan tidak melihat sedikit pun tindakan dari pemerintah kita," ujar Thunberg, seperti dikutip AFP, Selasa (7/10/2025).
Para aktivis membentangkan bendera Palestina yang sangat besar di aula kedatangan dan meneriakkan: "Kebebasan untuk Palestina" dan "Hidup armada kapal!"
Anggota Parlemen Dipukuli Polisi Israel
Salah satu dari mereka yang mendarat di Yunani, Rima Hassan, seorang anggota Parlemen Eropa keturunan Prancis-Palestina, melaporkan telah dipukul oleh polisi Israel setelah armada tersebut dicegat.
"Saya dipukuli oleh dua petugas polisi ketika mereka memasukkan saya ke dalam van," katanya kepada AFP.
Hassan mengatakan bahwa dia dan tahanan aktivis lainnya ditahan dalam kelompok hingga 15 orang per sel di atas kasur di penjara Israel dengan keamanan tinggi.
Yasmin Acar, seorang anggota komite pengarah armada, mengatakan para tahanan diperlakukan seperti binatang dan teroris.
"Kami diserang secara fisik, kami dilarang tidur," kata Acar. "Kami tidak punya air bersih. 48 jam pertama, tidak ada makanan, tidak ada air sama sekali."
Israel telah membantah tuduhan penganiayaan tersebut dan menyatakannya tidak benar.
Kementerian Luar Negeri Yunani mengatakan "penerbangan repatriasi khusus" yang mendarat di Athena membawa 27 warga Yunani dan 134 warga negara lainnya dari 15 negara Eropa.
Kementerian Luar Negeri Israel mengatakan pada hari Senin bahwa mereka telah mendeportasi 171 aktivis secara keseluruhan ke Yunani dan Slovakia.
Kementerian Luar Negeri Bratislava mengonfirmasi bahwa seorang warga Slovakia telah kembali ke negara Eropa Tengah tersebut, bersama dengan sembilan orang lainnya dari Belanda, Kanada, dan Amerika Serikat.
Global Sumud Flotilla berangkat dari Barcelona di Spanyol pada awal September dan dicegat oleh Angkatan Laut Israel di lepas pantai Mesir pekan lalu.
Israel telah mencap armada tersebut sebagai cabang Hamas, kelompok perlawanan Palestina yang berperang melawan Israel di Gaza.
Israel mengatakan bahwa kapal-kapal tersebut melanggar zona terlarang dan hanya sedikit bantuan kemanusiaan yang ditemukan di dalam kapal.
Polisi Israel mengatakan lebih dari 470 orang di atas kapal-kapal armada tersebut ditangkap.
Kementerian Luar Negeri Israel mengatakan kepada AFP bahwa 138 peserta armada bantuan masih ditahan di Israel.
(mas)
Lihat Juga :