Bak Film Action, Pria Ini Umbar 50 Tembakan ke Jalan Ramai di Sydney, 16 Orang Terluka
Senin, 06 Oktober 2025 - 15:45 WIB
loading...
Petugas polisi dikerahkan ke sebuah jalan yang ramai di Sydney, Australia, setelah seorang pria mengumbar 50 tembakan secara acak. Foto/Facebook/Josh Leon Fraser
A
A
A
SYDNEY - Seorang pria berusia 60 tahun ditangkap polisi pada hari Senin (6/10/2025) setelah melepaskan 50 tembakan ke jalan yang ramai di Sydney, Australia, semalam. Menurut polisi, sebanyak 16 orang terluka.
Polisi menerima laporan pada Minggu malam untuk datang ke Inner West, tempat tersangka melepaskan tembakan secara acak dari propertinya ke arah mobil dan polisi yang lewat.
Sejumlah besar polisi menyerbu area tersebut dan menutup jalan, sebelum memasuki properti di atas sebuah lingkungan bisnis dan menangkap tersangka. Mereka menyita sebuah senapan dari tempat kejadian.
Baca Juga: Gereja AS Ditembaki dan Dibakar, Trump Sebut Umat Kristen Jadi Target
Seorang pekerja kantor, Joe Azar, mengatakan dia sedang bekerja di seberang jalan ketika dia mendengar apa yang dia pikir adalah kembang api atau batu yang dilemparkan ke jendela.
"Kaca depan seseorang meledak, lalu kaca halte bus pecah," kata Azar kepada surat kabar The Sydney Morning Herald.
"Perasaan aneh muncul seperti, 'Oh, ini yang terjadi'," ujarnya.
"Rasanya panik. Semuanya terjadi begitu cepat, jadi saya tidak bisa memahami apa yang sedang terjadi," imbuh dia.
Polisi awalnya mengatakan hingga seratus peluru ditembakkan dan 20 orang terluka. Namun pada hari Senin, Pelaksana Tugas Kepala Kepolisian New South Wales, Stephen Parry, merevisi jumlah tembakan menjadi sekitar 50 dan jumlah korban luka menjadi 16 orang.
"Selama 35 tahun saya bertugas di kepolisian, sangat jarang terjadi insiden seperti ini di mana seseorang secara acak menargetkan orang-orang di jalan," ujarnya.
Tersangka penembakan dibawa ke rumah sakit dan dirawat karena luka ringan di sekitar matanya yang dialami saat penangkapan.
Belum ada tuntutan yang diajukan terhadap tersangka penembak. Investigasi polisi sedang berlangsung.
Menurut polisi, seorang pria datang sendiri ke rumah sakit dengan luka tembak setelah insiden tersebut, tetapi kemungkinan besar selamat.
Sisanya dirawat oleh petugas ambulans karena luka ringan, termasuk pecahan kaca akibat peluru yang menghantam jendela mobil mereka.
Komisaris Polisi New South Wales Mal Lanyon pada hari Senin menggambarkan penembakan itu sebagai "serius dan mengerikan".
"Motif pria bersenjata itu belum jelas, tetapi tidak ada hubungan yang diketahui dengan aktivitas terorisme atau aktivitas geng apa pun," ujarnya kepada stasiun radio lokal, 2GB.
Seorang saksi yang menyebut namanya Tadgh mengatakan kepada penyiar ABC bahwa dia sedang menonton rugby ketika pertama kali mendengar suara tembakan.
"Suaranya sangat keras dan 'bang, bang, bang', kilatan petir, percikan api, asap, dan semua itu. Rasanya seperti di film-film, sungguh," ujarnya.
Penembakan massal relatif jarang terjadi di Australia.
Larangan senjata otomatis dan semi-otomatis telah berlaku sejak tahun 1996, ketika seorang pria bersenjata menewaskan 35 orang di Port Arthur, Tasmania.
Pada bulan Agustus, tersangka penembakan Dezi Freeman melarikan diri ke hutan setelah dituduh membunuh dua petugas polisi. Dia masih buron.
Pada tahun 2022, enam orang, termasuk dua petugas polisi, tewas dalam penembakan di dekat kota kecil Wieambilla di Queensland.
Polisi menerima laporan pada Minggu malam untuk datang ke Inner West, tempat tersangka melepaskan tembakan secara acak dari propertinya ke arah mobil dan polisi yang lewat.
Sejumlah besar polisi menyerbu area tersebut dan menutup jalan, sebelum memasuki properti di atas sebuah lingkungan bisnis dan menangkap tersangka. Mereka menyita sebuah senapan dari tempat kejadian.
Baca Juga: Gereja AS Ditembaki dan Dibakar, Trump Sebut Umat Kristen Jadi Target
Seorang pekerja kantor, Joe Azar, mengatakan dia sedang bekerja di seberang jalan ketika dia mendengar apa yang dia pikir adalah kembang api atau batu yang dilemparkan ke jendela.
"Kaca depan seseorang meledak, lalu kaca halte bus pecah," kata Azar kepada surat kabar The Sydney Morning Herald.
"Perasaan aneh muncul seperti, 'Oh, ini yang terjadi'," ujarnya.
"Rasanya panik. Semuanya terjadi begitu cepat, jadi saya tidak bisa memahami apa yang sedang terjadi," imbuh dia.
Polisi awalnya mengatakan hingga seratus peluru ditembakkan dan 20 orang terluka. Namun pada hari Senin, Pelaksana Tugas Kepala Kepolisian New South Wales, Stephen Parry, merevisi jumlah tembakan menjadi sekitar 50 dan jumlah korban luka menjadi 16 orang.
"Selama 35 tahun saya bertugas di kepolisian, sangat jarang terjadi insiden seperti ini di mana seseorang secara acak menargetkan orang-orang di jalan," ujarnya.
Tersangka penembakan dibawa ke rumah sakit dan dirawat karena luka ringan di sekitar matanya yang dialami saat penangkapan.
Belum ada tuntutan yang diajukan terhadap tersangka penembak. Investigasi polisi sedang berlangsung.
Menurut polisi, seorang pria datang sendiri ke rumah sakit dengan luka tembak setelah insiden tersebut, tetapi kemungkinan besar selamat.
Sisanya dirawat oleh petugas ambulans karena luka ringan, termasuk pecahan kaca akibat peluru yang menghantam jendela mobil mereka.
Komisaris Polisi New South Wales Mal Lanyon pada hari Senin menggambarkan penembakan itu sebagai "serius dan mengerikan".
"Motif pria bersenjata itu belum jelas, tetapi tidak ada hubungan yang diketahui dengan aktivitas terorisme atau aktivitas geng apa pun," ujarnya kepada stasiun radio lokal, 2GB.
Seorang saksi yang menyebut namanya Tadgh mengatakan kepada penyiar ABC bahwa dia sedang menonton rugby ketika pertama kali mendengar suara tembakan.
"Suaranya sangat keras dan 'bang, bang, bang', kilatan petir, percikan api, asap, dan semua itu. Rasanya seperti di film-film, sungguh," ujarnya.
Penembakan massal relatif jarang terjadi di Australia.
Larangan senjata otomatis dan semi-otomatis telah berlaku sejak tahun 1996, ketika seorang pria bersenjata menewaskan 35 orang di Port Arthur, Tasmania.
Pada bulan Agustus, tersangka penembakan Dezi Freeman melarikan diri ke hutan setelah dituduh membunuh dua petugas polisi. Dia masih buron.
Pada tahun 2022, enam orang, termasuk dua petugas polisi, tewas dalam penembakan di dekat kota kecil Wieambilla di Queensland.
(mas)
Lihat Juga :