Uni Emirat Arab Agak Lain, Ogah Walkout Massal di PBB dan Justru Temui PM Israel Netanyahu
Minggu, 28 September 2025 - 05:57 WIB
loading...
A
A
A
Kedua pemimpin juga dilaporkan membahas de-eskalasi regional dan akses kemanusiaan.
Namun, yang benar-benar menonjol adalah apa yang terjadi di dalam aula Majelis Umum PBB. Selama pidato Netanyahu kepada para pemimpin dunia, beberapa delegasi Arab—termasuk dari Yordania, Qatar, dan Aljazair—memilih untuk walkout sebagai tanda protes. Sedangkan para diplomat UEA tetap berada di dalam ruangan, memilih untuk tidak bergabung dalam demonstrasi terkoordinasi.
Keputusan UEA telah memicu perdebatan di seluruh dunia Arab. Meskipun banyak yang menganggapnya sebagai kelanjutan dari komitmen Abu Dhabi untuk berdialog di bawah Perjanjian Abraham, yang lain mengkritiknya karena tidak sejalan dengan sentimen kolektif Arab di tengah meningkatnya korban sipil di Gaza.
Langkah ini mencerminkan upaya UEA untuk mempertahankan keseimbangan diplomatik yang rumit—menjunjung tinggi hubungan dengan Israel sambil menegaskan kembali dukungannya terhadap solusi dua negara dan diplomasi kemanusiaan.
Seiring berlanjutnya perang brutal Israel di Gaza, strategi UEA tampaknya adalah keterlibatan, bukan isolasi—dengan harapan bahwa berbicara dengan semua pihak, bahkan di saat-saat krisis, lebih efektif daripada walkout memprotes Netanyahu.
Dalam sebuah unggahan resmi, Kementerian Luar Negeri UEA mengatakan, "Menteri Luar Negeri Sheikh Abdullah bin Zayed menekankan kebutuhan mendesak untuk mengakhiri perang di Gaza, mencapai gencatan senjata permanen dan berkelanjutan, mencegah jatuhnya korban jiwa lebih lanjut, dan mengakhiri kondisi tragis yang dihadapi warga sipil."
Namun, yang benar-benar menonjol adalah apa yang terjadi di dalam aula Majelis Umum PBB. Selama pidato Netanyahu kepada para pemimpin dunia, beberapa delegasi Arab—termasuk dari Yordania, Qatar, dan Aljazair—memilih untuk walkout sebagai tanda protes. Sedangkan para diplomat UEA tetap berada di dalam ruangan, memilih untuk tidak bergabung dalam demonstrasi terkoordinasi.
Keputusan UEA telah memicu perdebatan di seluruh dunia Arab. Meskipun banyak yang menganggapnya sebagai kelanjutan dari komitmen Abu Dhabi untuk berdialog di bawah Perjanjian Abraham, yang lain mengkritiknya karena tidak sejalan dengan sentimen kolektif Arab di tengah meningkatnya korban sipil di Gaza.
Langkah ini mencerminkan upaya UEA untuk mempertahankan keseimbangan diplomatik yang rumit—menjunjung tinggi hubungan dengan Israel sambil menegaskan kembali dukungannya terhadap solusi dua negara dan diplomasi kemanusiaan.
Seiring berlanjutnya perang brutal Israel di Gaza, strategi UEA tampaknya adalah keterlibatan, bukan isolasi—dengan harapan bahwa berbicara dengan semua pihak, bahkan di saat-saat krisis, lebih efektif daripada walkout memprotes Netanyahu.
Dalam sebuah unggahan resmi, Kementerian Luar Negeri UEA mengatakan, "Menteri Luar Negeri Sheikh Abdullah bin Zayed menekankan kebutuhan mendesak untuk mengakhiri perang di Gaza, mencapai gencatan senjata permanen dan berkelanjutan, mencegah jatuhnya korban jiwa lebih lanjut, dan mengakhiri kondisi tragis yang dihadapi warga sipil."
Lihat Juga :