Kim Jong-un Mau Berunding dengan Trump Asalkan Tak Dipaksa Luncuti Senjata Nuklir Korut
Senin, 22 September 2025 - 13:47 WIB
loading...
A
A
A
"Dunia sudah tahu betul apa yang dilakukan Amerika Serikat setelah memaksa suatu negara untuk menyerahkan senjata nuklirnya dan melucuti senjatanya," ujarnya.
"Kami tidak akan pernah menyerahkan senjata nuklir kami," imbuh dia.
Kim Jong-un mengatakan, "Sanksi justru membantu Korea Utara untuk tumbuh lebih kuat, membangun ketahanan dan perlawanan yang tidak dapat dihancurkan oleh tekanan apa pun."
Dia menambahkan bahwa dia tidak punya alasan untuk duduk bersama Korea Selatan, meskipun presiden baru di Seoul, Lee Jae-myung, telah berusaha meredakan ketegangan dengan Korea Utara.
"Kami menegaskan bahwa kami tidak akan berurusan dengan mereka dalam bentuk apa pun," ujarnya.
Korea Utara dalam beberapa tahun terakhir telah menyatakan Korea Selatan sebagai musuh utamanya dan meledakkan jalur kereta api dan jalan yang menghubungkan kedua negara.
"Pembenaran yang panjang dan terperinci mencerminkan keyakinan dan keputusasaan yang seimbang," kata Yang Moo-jin, mantan presiden niversity of North Korean Studies di Seoul, kepada AFP.
"Meskipun secara lahiriah ditujukan kepada kekuatan asing, pidato tersebut membawa pesan domestik yang kuat, yang berupaya mencegah ketidakstabilan," kata Yang.
"Kami tidak akan pernah menyerahkan senjata nuklir kami," imbuh dia.
Kim Jong-un mengatakan, "Sanksi justru membantu Korea Utara untuk tumbuh lebih kuat, membangun ketahanan dan perlawanan yang tidak dapat dihancurkan oleh tekanan apa pun."
Dia menambahkan bahwa dia tidak punya alasan untuk duduk bersama Korea Selatan, meskipun presiden baru di Seoul, Lee Jae-myung, telah berusaha meredakan ketegangan dengan Korea Utara.
"Kami menegaskan bahwa kami tidak akan berurusan dengan mereka dalam bentuk apa pun," ujarnya.
Korea Utara dalam beberapa tahun terakhir telah menyatakan Korea Selatan sebagai musuh utamanya dan meledakkan jalur kereta api dan jalan yang menghubungkan kedua negara.
"Pembenaran yang panjang dan terperinci mencerminkan keyakinan dan keputusasaan yang seimbang," kata Yang Moo-jin, mantan presiden niversity of North Korean Studies di Seoul, kepada AFP.
"Meskipun secara lahiriah ditujukan kepada kekuatan asing, pidato tersebut membawa pesan domestik yang kuat, yang berupaya mencegah ketidakstabilan," kata Yang.
Lihat Juga :