Profil Stanley Underhill, Pendeta Inggris yang Mengaku Gay di Usia 91 Tahun
Senin, 22 September 2025 - 12:44 WIB
loading...
A
A
A
Lalu, di masa Perang Dunia II, dia bergabung dengan Royal Navy (Angkatan Laut Kerajaan Inggris) sebagai perawat. Di kapal perang, dia mengalami sesuatu yang mengubah hidupnya: dia jatuh cinta kepada seorang pria.
Namun, kisah itu berakhir dengan pahit. Orang yang dicintainya memilih “bertobat” dan malah mencoba melakukan semacam pengusiran setan kepadanya. “Saya diperlakukan seolah diri saya adalah iblis yang harus diusir,” kenangnya.
Pengalaman ini membuatnya semakin yakin bahwa dirinya “rusak” di mata agama. Dia menulis: “Saya percaya bahwa apa yang saya rasakan adalah kekejian di hadapan Tuhan.”
Selama dekade 1950–1960-an, homoseksualitas masih dianggap kejahatan dan penyakit mental di Inggris. Underhill mencoba berbagai cara untuk “menyembuhkan diri”.
Dalam wawancara media Inggris, dia juga membuat pengakuan: “Depresi yang saya alami disebabkan oleh ketidakmampuan saya menerima bahwa saya homoseksual. Saya tidak ingin menjadi homoseksual. Saya ingin seperti orang lain, punya istri dan anak. Itu membuat saya sangat hancur.”
Dia mengaku pernah mencoba terapi Freudian, konsultasi psikiater, suntikan hormon testosteron, hingga obat litium. Namun semua itu hanya memperburuk keadaan.
“Mereka berkata homoseksualitas adalah penyakit jiwa, jadi mereka menyuntikkan hormon laki-laki ke dalam tubuh saya. Itu tidak menyembuhkan apa pun, hanya membuat saya semakin terangsang dan bingung,” paparnya.
Pada akhirnya, setelah berulang kali terapi gagal, dia menyerah. Di usia sekitar 40 tahun, dia memutuskan berhenti dari semua terapi. “Saya mencoba hidup sebagai pria heteroseksual, karena hidup terlalu berbahaya,” kenangnya.
Sebelum terjun ke dunia gereja, Underhill sempat bekerja sebagai akuntan. Namun, kegelisahan hidup dan kerinduan spiritual membawanya pada keputusan besar, yakni masuk ke Anglican Society of St. Francis pada tahun 1970-an.
Namun, kisah itu berakhir dengan pahit. Orang yang dicintainya memilih “bertobat” dan malah mencoba melakukan semacam pengusiran setan kepadanya. “Saya diperlakukan seolah diri saya adalah iblis yang harus diusir,” kenangnya.
Pengalaman ini membuatnya semakin yakin bahwa dirinya “rusak” di mata agama. Dia menulis: “Saya percaya bahwa apa yang saya rasakan adalah kekejian di hadapan Tuhan.”
Selama dekade 1950–1960-an, homoseksualitas masih dianggap kejahatan dan penyakit mental di Inggris. Underhill mencoba berbagai cara untuk “menyembuhkan diri”.
Dalam wawancara media Inggris, dia juga membuat pengakuan: “Depresi yang saya alami disebabkan oleh ketidakmampuan saya menerima bahwa saya homoseksual. Saya tidak ingin menjadi homoseksual. Saya ingin seperti orang lain, punya istri dan anak. Itu membuat saya sangat hancur.”
Dia mengaku pernah mencoba terapi Freudian, konsultasi psikiater, suntikan hormon testosteron, hingga obat litium. Namun semua itu hanya memperburuk keadaan.
“Mereka berkata homoseksualitas adalah penyakit jiwa, jadi mereka menyuntikkan hormon laki-laki ke dalam tubuh saya. Itu tidak menyembuhkan apa pun, hanya membuat saya semakin terangsang dan bingung,” paparnya.
Pada akhirnya, setelah berulang kali terapi gagal, dia menyerah. Di usia sekitar 40 tahun, dia memutuskan berhenti dari semua terapi. “Saya mencoba hidup sebagai pria heteroseksual, karena hidup terlalu berbahaya,” kenangnya.
Dari Akuntan Menjadi Pendeta
Sebelum terjun ke dunia gereja, Underhill sempat bekerja sebagai akuntan. Namun, kegelisahan hidup dan kerinduan spiritual membawanya pada keputusan besar, yakni masuk ke Anglican Society of St. Francis pada tahun 1970-an.
Lihat Juga :