Profil Stanley Underhill, Pendeta Inggris yang Mengaku Gay di Usia 91 Tahun
Senin, 22 September 2025 - 12:44 WIB
loading...
A
A
A
Dia kemudian ditahbiskan menjadi pendeta Anglikan, melayani di berbagai keuskupan, termasuk Southwark, Lichfield, Canterbury, hingga bertugas sebagai kapelan di Diocese of Europe.
Tetapi panggilan itu tidak membuat hidupnya lebih mudah. Justru di lingkungan gereja, dia kerap mendengar homofobia terang-terangan. Jemaat menyebut dirinya “abnormal”, bahkan “kekejian bagi Tuhan”. Luka lamanya seakan terus disiram garam.
Barulah ketika tinggal di komunitas orang lanjut usia (lansia) The Charterhouse di London, Underhill mulai menuliskan kisah hidupnya. Memoar "Coming Out of the Black Country" diterbitkan saat dia berusia 91 tahun.
Dalam buku itu, dia untuk pertama kalinya mengaku secara terbuka bahwa dia gay. Bagi Underhill, ini bukan sekadar pernyataan identitas, melainkan sebuah pembebasan.
“Selama bertahun-tahun saya hidup dalam penyangkalan. Depresi terus menghantui. Tetapi pada akhirnya saya belajar menerima diri saya, dan di sanalah saya menemukan kebebasan,” tulisnya.
Dia juga mengeklaim bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkannya. “Tuhan tidak menghapus masalah kita, tetapi menuntun kita melewatinya, agar kita bertahan hidup," imbuh dia.
Pengakuan Underhill juga disertai kritik tajam kepada institusi gereja. Menurutnya, gereja kerap gagal membedakan antara kasih Kristus dengan dogma moral yang menindas.
Dia juga menolak anggapan bahwa homoseksualitas adalah pilihan. “Bahkan sampai hari ini, Gereja saya masih tidak bisa menerima bahwa seseorang dilahirkan dengan orientasi ini. Padahal ini bukan pilihan, dan karena ini bukanlah dosa.”
Tetapi panggilan itu tidak membuat hidupnya lebih mudah. Justru di lingkungan gereja, dia kerap mendengar homofobia terang-terangan. Jemaat menyebut dirinya “abnormal”, bahkan “kekejian bagi Tuhan”. Luka lamanya seakan terus disiram garam.
Barulah ketika tinggal di komunitas orang lanjut usia (lansia) The Charterhouse di London, Underhill mulai menuliskan kisah hidupnya. Memoar "Coming Out of the Black Country" diterbitkan saat dia berusia 91 tahun.
Dalam buku itu, dia untuk pertama kalinya mengaku secara terbuka bahwa dia gay. Bagi Underhill, ini bukan sekadar pernyataan identitas, melainkan sebuah pembebasan.
“Selama bertahun-tahun saya hidup dalam penyangkalan. Depresi terus menghantui. Tetapi pada akhirnya saya belajar menerima diri saya, dan di sanalah saya menemukan kebebasan,” tulisnya.
Dia juga mengeklaim bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkannya. “Tuhan tidak menghapus masalah kita, tetapi menuntun kita melewatinya, agar kita bertahan hidup," imbuh dia.
Pengakuan Underhill juga disertai kritik tajam kepada institusi gereja. Menurutnya, gereja kerap gagal membedakan antara kasih Kristus dengan dogma moral yang menindas.
Dia juga menolak anggapan bahwa homoseksualitas adalah pilihan. “Bahkan sampai hari ini, Gereja saya masih tidak bisa menerima bahwa seseorang dilahirkan dengan orientasi ini. Padahal ini bukan pilihan, dan karena ini bukanlah dosa.”
(mas)
Lihat Juga :