Inggris, Kanada, dan Australia Resmi Akui Negara Palestina dalam Langkah Bersejarah
Senin, 22 September 2025 - 06:58 WIB
loading...
Inggris, Kanada, dan Australia telah resmi mengakui Negara Palestina pada hari Minggu dalam sebuah langkah bersejarah. Foto/X @MarkJCarney
A
A
A
NEW YORK - Inggris, Kanada, dan Australia secara resmi mengakui Negara Palestina dalam sebuah langkah yang bersejarah pada hari Minggu. Langkah mereka mengabaikan penentangan dari Israel dan Amerika Serikat (AS).
Pengakuan oleh ketiga negara ini disampaikan di tengah persiapan lebih dari 140 pemimpin dunia untuk menghadiri pertemuan puncak tahunan Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, yang akan didominasi oleh pertanyaan-pertanyaan seputar kawasan tersebut.
Kanada adalah negara pertama yang secara resmi mengakui Negara Palestina pada hari Minggu, dengan Perdana Menteri Mark Carney mengumumkan: "Ottawa mengakui Negara Palestina dan menawarkan kemitraan kami dalam membangun janji masa depan yang damai bagi Negara Palestina dan Negara Israel."
Baca Juga: 10 Negara Akan Akui Negara Palestina Besok, Apa Artinya bagi Palestina dan Israel?
Langkah ini segera diikuti oleh pengumuman serupa dari Australia dan Inggris.
“Pengakuan Australia atas Palestina hari ini, bersama Kanada dan Inggris, merupakan bagian dari upaya internasional terkoordinasi untuk membangun momentum baru bagi solusi dua negara, dimulai dengan gencatan senjata di Gaza dan pembebasan para sandera yang disandera dalam kekejaman 7 Oktober 2023,” ujar Perdana Menteri Australia Anthony Albanese dan Menteri Luar Negeri Penny Wong dalam pernyataan bersama.
Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mengumumkan bahwa keputusan tersebut bertujuan untuk menghidupkan kembali harapan perdamaian dan solusi dua negara.
“Saya menyatakan dengan jelas, sebagai perdana menteri negara besar ini, bahwa Inggris secara resmi mengakui negara Palestina,” katanya dalam sebuah pernyataan video yang diunggah di media sosial, yang dikutip Reuters, Senin (22/9/2025).
Israel merespons sinis langkah ketiga negara tersebut, dengan beberapa menteri menganggapnya tidak relevan dan tidak mengubah realitas di lapangan.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menuduh Inggris, Kanada, dan Australia "memberikan imbalan kepada teror" setelah serangan Hamas pada 7 Oktober.
Dia juga mengatakan bahwa tidak akan ada Negara Palestina. "Tidak akan ada negara Palestina. Tanggapan terhadap upaya terbaru untuk memaksakan negara teror di jantung tanah kami akan diberikan setelah saya kembali dari Amerika Serikat," ujarnya.
"Saya memiliki pesan yang jelas kepada para pemimpin yang mengakui Negara Palestina setelah pembantaian mengerikan 7 Oktober: Anda memberi imbalan kepada teror dengan hadiah yang sangat besar. Dan saya punya pesan lain untuk Anda: Itu tidak akan terjadi. Tidak akan ada Negara Palestina di sebelah barat Sungai Yordan," imbuh dia.
Sedangkan Duta Besar AS untuk Israel, Mike Huckabee, menyebut langkah Kanada, Inggris, dan Australia sebagai tipuan dan kontraproduktif.
Pada awal September, Majelis Umum PBB dengan suara mayoritas mendukung sebuah resolusi yang menyerukan solusi dua negara antara Israel dan Palestina. Dalam menentang langkah tersebut, Washington dan Tel Aviv hanya bergabung dengan delapan negara lain, termasuk negara-negara kepulauan Pasifik yang terpencil seperti Palau, Tonga, Mikronesia, dan Nauru.
Dalam keputusan-keputusan sebelumnya, PBB membatasi diri untuk mengutuk serangan Hamas terhadap Israel, di mana para militan menewaskan sekitar 1.200 warga Israel dan membawa lebih dari 250 sandera kembali ke Gaza.
Pengepungan dan serangan brutal Israel di Gaza selanjutnya telah menewaskan hampir 65.000 warga Palestina sejauh ini, menurut otoritas kesehatan setempat. Perang tersebut juga menciptakan situasi kemanusiaan yang menghancurkan di daerah kantong Palestina itu, yang menyebabkan meningkatnya tekanan internasional terhadap Israel untuk mengakhiri perangnya.
Pengakuan oleh ketiga negara ini disampaikan di tengah persiapan lebih dari 140 pemimpin dunia untuk menghadiri pertemuan puncak tahunan Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, yang akan didominasi oleh pertanyaan-pertanyaan seputar kawasan tersebut.
Kanada adalah negara pertama yang secara resmi mengakui Negara Palestina pada hari Minggu, dengan Perdana Menteri Mark Carney mengumumkan: "Ottawa mengakui Negara Palestina dan menawarkan kemitraan kami dalam membangun janji masa depan yang damai bagi Negara Palestina dan Negara Israel."
Baca Juga: 10 Negara Akan Akui Negara Palestina Besok, Apa Artinya bagi Palestina dan Israel?
Langkah ini segera diikuti oleh pengumuman serupa dari Australia dan Inggris.
“Pengakuan Australia atas Palestina hari ini, bersama Kanada dan Inggris, merupakan bagian dari upaya internasional terkoordinasi untuk membangun momentum baru bagi solusi dua negara, dimulai dengan gencatan senjata di Gaza dan pembebasan para sandera yang disandera dalam kekejaman 7 Oktober 2023,” ujar Perdana Menteri Australia Anthony Albanese dan Menteri Luar Negeri Penny Wong dalam pernyataan bersama.
Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mengumumkan bahwa keputusan tersebut bertujuan untuk menghidupkan kembali harapan perdamaian dan solusi dua negara.
“Saya menyatakan dengan jelas, sebagai perdana menteri negara besar ini, bahwa Inggris secara resmi mengakui negara Palestina,” katanya dalam sebuah pernyataan video yang diunggah di media sosial, yang dikutip Reuters, Senin (22/9/2025).
Israel merespons sinis langkah ketiga negara tersebut, dengan beberapa menteri menganggapnya tidak relevan dan tidak mengubah realitas di lapangan.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menuduh Inggris, Kanada, dan Australia "memberikan imbalan kepada teror" setelah serangan Hamas pada 7 Oktober.
Dia juga mengatakan bahwa tidak akan ada Negara Palestina. "Tidak akan ada negara Palestina. Tanggapan terhadap upaya terbaru untuk memaksakan negara teror di jantung tanah kami akan diberikan setelah saya kembali dari Amerika Serikat," ujarnya.
"Saya memiliki pesan yang jelas kepada para pemimpin yang mengakui Negara Palestina setelah pembantaian mengerikan 7 Oktober: Anda memberi imbalan kepada teror dengan hadiah yang sangat besar. Dan saya punya pesan lain untuk Anda: Itu tidak akan terjadi. Tidak akan ada Negara Palestina di sebelah barat Sungai Yordan," imbuh dia.
Sedangkan Duta Besar AS untuk Israel, Mike Huckabee, menyebut langkah Kanada, Inggris, dan Australia sebagai tipuan dan kontraproduktif.
Pada awal September, Majelis Umum PBB dengan suara mayoritas mendukung sebuah resolusi yang menyerukan solusi dua negara antara Israel dan Palestina. Dalam menentang langkah tersebut, Washington dan Tel Aviv hanya bergabung dengan delapan negara lain, termasuk negara-negara kepulauan Pasifik yang terpencil seperti Palau, Tonga, Mikronesia, dan Nauru.
Dalam keputusan-keputusan sebelumnya, PBB membatasi diri untuk mengutuk serangan Hamas terhadap Israel, di mana para militan menewaskan sekitar 1.200 warga Israel dan membawa lebih dari 250 sandera kembali ke Gaza.
Pengepungan dan serangan brutal Israel di Gaza selanjutnya telah menewaskan hampir 65.000 warga Palestina sejauh ini, menurut otoritas kesehatan setempat. Perang tersebut juga menciptakan situasi kemanusiaan yang menghancurkan di daerah kantong Palestina itu, yang menyebabkan meningkatnya tekanan internasional terhadap Israel untuk mengakhiri perangnya.
(mas)
Lihat Juga :