Warga Kota Gaza Panik, Militer Israel Menyerang dari 2 Arah, Pengungsi Diusir ke Selatan
Jum'at, 19 September 2025 - 15:40 WIB
loading...
Warga terus mengungsi di sepanjang Jalan Rashid menuju wilayah tengah dan selatan akibat serangan gencar tentara Israel di Kota Gaza. Foto/picture alliance/Anadolu/Hassan Jedi
A
A
A
GAZA - Militer Israel bergerak maju menuju pusat Kota Gaza dari dua arah, "menghimpit" penduduk dan memaksa mereka ke arah pantai dalam upaya mengusir mereka dari pusat kota terbesar di daerah kantong tersebut. Serangan gencar berlangsung seiring putusnya jaringan komunikasi dan internet di Kota Gaza.
Juru bicara militer Israel, Nadav Shoshani, mengatakan kepada kantor berita Reuters pada hari Kamis (18/9/2025) bahwa infanteri, tank, dan artileri bergerak maju ke pusat kota, didukung oleh angkatan udara.
Hani Mahmoud dari Al Jazeera mengatakan militer Israel bergerak maju dari barat laut dan tenggara, "menghimpit penduduk di tengah" dan mendorong mereka ke barat kota, tempat jalan pesisir al-Rashid menuju selatan berada.
"Serangan terhadap lingkungan yang penuh sesak menyebabkan kepanikan dan ketakutan, dan mendorong orang-orang untuk benar-benar berlarian menyelamatkan diri. Kami melihat gelombang orang sekarang melakukan hal itu," ujar dia, melaporkan dari Nuseirat di Gaza tengah.
Warga di Kota Gaza memberi tahu Al Jazeera tentang serangan tanpa henti, termasuk "serangan udara oleh drone dan jet tempur" dan ledakan dari "robot" yang dikendalikan dari jarak jauh.
Robot-robot itu adalah kendaraan tanpa awak yang berisi bahan peledak yang telah dikerahkan tentara Israel untuk meledakkan permukiman saat mereka maju ke dalam.
Sebanyak 40 orang tewas di Kota Gaza pada hari Kamis, sumber medis mengatakan kepada Al Jazeera.
Di tengah pemandangan apokaliptik, keluarga-keluarga yang mengungsi menghadapi prospek memilukan berupa pengungsian baru di wilayah tanpa "zona aman", hanya saja kali ini dengan kemungkinan yang sangat nyata bahwa mereka mungkin tidak akan pernah kembali ke rumah.
Namun, banyak yang tetap tinggal di tempat. Biro Pusat Statistik Palestina mengklaim sekitar 740.000 orang – sekitar 35% dari 2,1 juta penduduk Gaza – masih berada di utara wilayah kantong tersebut hingga hari Selasa.
Namun, biro tersebut mengisyaratkan jumlah tersebut dapat menurun, karena serangan Israel yang terus-menerus membuat lebih banyak orang mengungsi dan layanan dasar menghilang.
Kantor Kemanusiaan PBB (OCHA) memperingatkan pada hari Kamis bahwa jalur kehidupan terakhir Kota Gaza sedang runtuh.
OCHA menuduh Israel "secara sistematis menghalangi" upaya penyaluran bantuan kepada masyarakat, dengan alasan penutupan penyeberangan Zikim ke wilayah utara Gaza yang dilanda kelaparan dan larangan pasokan bahan makanan tertentu.
Di luar Kota Gaza, sebanyak 10 warga Palestina tewas akibat tembakan Israel di bagian lain wilayah kantong tersebut, menurut sumber medis.
Militer Israel melaporkan empat tentaranya tewas pada dini hari di kota Rafah, Gaza selatan.
Kantor Komisaris Tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Hak Asasi Manusia (OHCHR) di Palestina mengecam di media sosial "pengabaian terang-terangan" Israel terhadap persyaratan hukum internasional untuk membedakan antara kombatan dan warga sipil dalam serangan udaranya di Gaza.
Ketika Israel memperluas serangannya pada hari Kamis, Amerika Serikat memveto resolusi Dewan Keamanan PBB yang menyerukan gencatan senjata di Gaza, pencabutan pembatasan bantuan ke Gaza, dan pemulangan para sandera yang ditawan Hamas.
Perwakilan tetap Inggris untuk PBB, Barbara Woodward, mengatakan, "Ekspansi operasi militer Israel yang gegabah semakin menjauhkan kita dari kesepakatan yang dapat memulangkan para sandera dan mengakhiri penderitaan di Gaza."
Baca juga: Komunikasi Lumpuh di Kota Gaza, 800.000 Warga Palestina Terisolir seiring Gempuran Israel
Juru bicara militer Israel, Nadav Shoshani, mengatakan kepada kantor berita Reuters pada hari Kamis (18/9/2025) bahwa infanteri, tank, dan artileri bergerak maju ke pusat kota, didukung oleh angkatan udara.
Hani Mahmoud dari Al Jazeera mengatakan militer Israel bergerak maju dari barat laut dan tenggara, "menghimpit penduduk di tengah" dan mendorong mereka ke barat kota, tempat jalan pesisir al-Rashid menuju selatan berada.
"Serangan terhadap lingkungan yang penuh sesak menyebabkan kepanikan dan ketakutan, dan mendorong orang-orang untuk benar-benar berlarian menyelamatkan diri. Kami melihat gelombang orang sekarang melakukan hal itu," ujar dia, melaporkan dari Nuseirat di Gaza tengah.
Warga di Kota Gaza memberi tahu Al Jazeera tentang serangan tanpa henti, termasuk "serangan udara oleh drone dan jet tempur" dan ledakan dari "robot" yang dikendalikan dari jarak jauh.
Robot-robot itu adalah kendaraan tanpa awak yang berisi bahan peledak yang telah dikerahkan tentara Israel untuk meledakkan permukiman saat mereka maju ke dalam.
Sebanyak 40 orang tewas di Kota Gaza pada hari Kamis, sumber medis mengatakan kepada Al Jazeera.
Jalur Kehidupan Runtuh
Di tengah pemandangan apokaliptik, keluarga-keluarga yang mengungsi menghadapi prospek memilukan berupa pengungsian baru di wilayah tanpa "zona aman", hanya saja kali ini dengan kemungkinan yang sangat nyata bahwa mereka mungkin tidak akan pernah kembali ke rumah.
Namun, banyak yang tetap tinggal di tempat. Biro Pusat Statistik Palestina mengklaim sekitar 740.000 orang – sekitar 35% dari 2,1 juta penduduk Gaza – masih berada di utara wilayah kantong tersebut hingga hari Selasa.
Namun, biro tersebut mengisyaratkan jumlah tersebut dapat menurun, karena serangan Israel yang terus-menerus membuat lebih banyak orang mengungsi dan layanan dasar menghilang.
Kantor Kemanusiaan PBB (OCHA) memperingatkan pada hari Kamis bahwa jalur kehidupan terakhir Kota Gaza sedang runtuh.
OCHA menuduh Israel "secara sistematis menghalangi" upaya penyaluran bantuan kepada masyarakat, dengan alasan penutupan penyeberangan Zikim ke wilayah utara Gaza yang dilanda kelaparan dan larangan pasokan bahan makanan tertentu.
Pengabaian Terang-terangan
Di luar Kota Gaza, sebanyak 10 warga Palestina tewas akibat tembakan Israel di bagian lain wilayah kantong tersebut, menurut sumber medis.
Militer Israel melaporkan empat tentaranya tewas pada dini hari di kota Rafah, Gaza selatan.
Kantor Komisaris Tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Hak Asasi Manusia (OHCHR) di Palestina mengecam di media sosial "pengabaian terang-terangan" Israel terhadap persyaratan hukum internasional untuk membedakan antara kombatan dan warga sipil dalam serangan udaranya di Gaza.
Ketika Israel memperluas serangannya pada hari Kamis, Amerika Serikat memveto resolusi Dewan Keamanan PBB yang menyerukan gencatan senjata di Gaza, pencabutan pembatasan bantuan ke Gaza, dan pemulangan para sandera yang ditawan Hamas.
Perwakilan tetap Inggris untuk PBB, Barbara Woodward, mengatakan, "Ekspansi operasi militer Israel yang gegabah semakin menjauhkan kita dari kesepakatan yang dapat memulangkan para sandera dan mengakhiri penderitaan di Gaza."
Baca juga: Komunikasi Lumpuh di Kota Gaza, 800.000 Warga Palestina Terisolir seiring Gempuran Israel
(sya)
Lihat Juga :