Mengapa Indonesia Beli Jet Tempur, Kapal Perang Siluman, dan Rudal Turki? Ini Analisisnya
Kamis, 18 September 2025 - 14:00 WIB
loading...
A
A
A
Sementara itu, Jamil mengatakan bahwa platform Turki—khususnya kendaraan udara tak berawak (UAV) Bayraktar TB2, yang diperkirakan sekitar USD5 juta per unit—jauh lebih murah daripada MQ-9 Reaper Amerika, yang dilaporkan berharga USD30 juta per unit.
“Hal ini membuat mereka (Bayraktar TB2) secara luas dianggap hemat biaya sekaligus menawarkan kemampuan operasional,” ujarnya.
Analis pertahanan Lam Choong Wah dari Universitas Malaya mengatakan bahwa Malaysia beralih ke Turki karena pertimbangan politik, merujuk pada persahabatan antara Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.
“Bagi Malaysia, terdapat pula unsur tambahan berupa kepercayaan politik dan identitas keagamaan bersama yang memperkuat hubungan jangka panjang. Hubungan politik merupakan alasan utama untuk setiap kesepakatan senjata,” ujarnya kepada CNA.
Senada dengan Lam, Khairul mengatakan bahwa fleksibilitas politik yang ditawarkan Turki, tanpa banyak ikatan politik, membuatnya lebih selaras dengan model kebijakan luar negeri yang dianut banyak negara di kawasan tersebut.
“Kerja sama ini mendorong strategi multi-mitra sehingga negara-negara Asia Tenggara tidak harus bergantung pada satu pemasok atau blok tertentu,” ujarnya.
Namun, meskipun pengadaan senjata Turki tampak menarik, para analis menyoroti beberapa kekhawatiran utama yang dapat mempersulit integrasi jangka panjang dan kesiapan operasional.
Khairul mengatakan bahwa tantangan utama bagi Indonesia dan Malaysia adalah integrasi platform baru ke dalam inventaris yang sangat beragam, yang mencakup peralatan pertahanan Barat, Rusia, dan China.
“Hal ini dapat menyebabkan masalah interoperabilitas,” ujarnya.
Rahman sependapat dan mengatakan Indonesia kemungkinan akan menghadapi masalah kritis dalam mengintegrasikan dan memelihara sistem baru tersebut, seraya mempertanyakan bagaimana pesawat KAAN akan beroperasi dengan Sukhoi Su-30 Rusia dan F-16 Amerika yang masih digunakan Angkatan Udara Indonesia.
Dia menambahkan bahwa masalah lain yang mungkin timbul adalah biaya pemeliharaan, yang seringkali diabaikan oleh Malaysia dan Indonesia.
"Banyak pesawat atau platform mahal bahkan tidak dapat beroperasi secara optimal dalam jangka panjang jika tidak dirawat dengan baik," ujarnya, memperingatkan.
Lam menambahkan bahwa faktor lain yang perlu dipertimbangkan dalam hal pemeliharaan adalah banyak komponen penting dalam persenjataan Turki, seperti avionik, mesin, dan sistem radar, masih bergantung pada pemasok dari AS, Inggris, dan Eropa.
Dia mempertanyakan apakah perusahaan-perusahaan Turki akan mampu memberikan dukungan untuk komponen-komponen ini atau perlukah kembali ke produsen peralatan asli.
Jamil mengatakan bahwa kekhawatiran yang sah telah memengaruhi bagaimana kesepakatan dipandang dan disusun.
Dia menunjukkan bahwa jet tempur KAAN—yang melakukan penerbangan perdananya pada Februari 2024—masih dalam tahap prototipe dan pengerahan operasional penuh diperkirakan akan dilakukan akhir dekade ini.
Dia mengatakan calon pembeli kemungkinan akan menuntut pengiriman bertahap, demonstrasi kinerja dalam kondisi yang relevan, paket dukungan yang kuat, dan garansi.
Dia menambahkan bahwa terdapat juga risiko seputar ketergantungan pada komponen non-asli seperti mesin, yang dapat dikenakan pembatasan lisensi atau ekspor.
“Faktor-faktor ini dapat menyebabkan beberapa negara melakukan lindung nilai—mempertahankan sistem yang lebih tua dalam layanan atau memperoleh alternatif yang telah terbukti selain (jet tempur) KAAN hingga keandalan dan beban pemeliharaannya dipahami dengan baik,” ujarnya.
Khairul mengatakan bahwa karena jet KAAN belum diuji, negara-negara selain Indonesia sebaiknya berhati-hati dan melihat kinerjanya di dunia nyata sebelum berkomitmen untuk membelinya.
“Sebaliknya, sistem yang telah teruji di medan perang, seperti Bayraktar TB2 dan UAV Akinci, lebih mudah diterima. Jadi, dalam jangka pendek, saya pikir negara-negara di kawasan ini akan lebih memilih sistem yang telah teruji sambil terus memantau proyek-proyek baru seperti (jet tempur) KAAN untuk jangka panjang,” ujarnya.
“Hal ini membuat mereka (Bayraktar TB2) secara luas dianggap hemat biaya sekaligus menawarkan kemampuan operasional,” ujarnya.
Analis pertahanan Lam Choong Wah dari Universitas Malaya mengatakan bahwa Malaysia beralih ke Turki karena pertimbangan politik, merujuk pada persahabatan antara Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.
“Bagi Malaysia, terdapat pula unsur tambahan berupa kepercayaan politik dan identitas keagamaan bersama yang memperkuat hubungan jangka panjang. Hubungan politik merupakan alasan utama untuk setiap kesepakatan senjata,” ujarnya kepada CNA.
Senada dengan Lam, Khairul mengatakan bahwa fleksibilitas politik yang ditawarkan Turki, tanpa banyak ikatan politik, membuatnya lebih selaras dengan model kebijakan luar negeri yang dianut banyak negara di kawasan tersebut.
“Kerja sama ini mendorong strategi multi-mitra sehingga negara-negara Asia Tenggara tidak harus bergantung pada satu pemasok atau blok tertentu,” ujarnya.
Tantangan Berlimpah bagi Indonesia
Namun, meskipun pengadaan senjata Turki tampak menarik, para analis menyoroti beberapa kekhawatiran utama yang dapat mempersulit integrasi jangka panjang dan kesiapan operasional.
Khairul mengatakan bahwa tantangan utama bagi Indonesia dan Malaysia adalah integrasi platform baru ke dalam inventaris yang sangat beragam, yang mencakup peralatan pertahanan Barat, Rusia, dan China.
“Hal ini dapat menyebabkan masalah interoperabilitas,” ujarnya.
Rahman sependapat dan mengatakan Indonesia kemungkinan akan menghadapi masalah kritis dalam mengintegrasikan dan memelihara sistem baru tersebut, seraya mempertanyakan bagaimana pesawat KAAN akan beroperasi dengan Sukhoi Su-30 Rusia dan F-16 Amerika yang masih digunakan Angkatan Udara Indonesia.
Dia menambahkan bahwa masalah lain yang mungkin timbul adalah biaya pemeliharaan, yang seringkali diabaikan oleh Malaysia dan Indonesia.
"Banyak pesawat atau platform mahal bahkan tidak dapat beroperasi secara optimal dalam jangka panjang jika tidak dirawat dengan baik," ujarnya, memperingatkan.
Lam menambahkan bahwa faktor lain yang perlu dipertimbangkan dalam hal pemeliharaan adalah banyak komponen penting dalam persenjataan Turki, seperti avionik, mesin, dan sistem radar, masih bergantung pada pemasok dari AS, Inggris, dan Eropa.
Dia mempertanyakan apakah perusahaan-perusahaan Turki akan mampu memberikan dukungan untuk komponen-komponen ini atau perlukah kembali ke produsen peralatan asli.
Jamil mengatakan bahwa kekhawatiran yang sah telah memengaruhi bagaimana kesepakatan dipandang dan disusun.
Dia menunjukkan bahwa jet tempur KAAN—yang melakukan penerbangan perdananya pada Februari 2024—masih dalam tahap prototipe dan pengerahan operasional penuh diperkirakan akan dilakukan akhir dekade ini.
Dia mengatakan calon pembeli kemungkinan akan menuntut pengiriman bertahap, demonstrasi kinerja dalam kondisi yang relevan, paket dukungan yang kuat, dan garansi.
Dia menambahkan bahwa terdapat juga risiko seputar ketergantungan pada komponen non-asli seperti mesin, yang dapat dikenakan pembatasan lisensi atau ekspor.
“Faktor-faktor ini dapat menyebabkan beberapa negara melakukan lindung nilai—mempertahankan sistem yang lebih tua dalam layanan atau memperoleh alternatif yang telah terbukti selain (jet tempur) KAAN hingga keandalan dan beban pemeliharaannya dipahami dengan baik,” ujarnya.
Khairul mengatakan bahwa karena jet KAAN belum diuji, negara-negara selain Indonesia sebaiknya berhati-hati dan melihat kinerjanya di dunia nyata sebelum berkomitmen untuk membelinya.
“Sebaliknya, sistem yang telah teruji di medan perang, seperti Bayraktar TB2 dan UAV Akinci, lebih mudah diterima. Jadi, dalam jangka pendek, saya pikir negara-negara di kawasan ini akan lebih memilih sistem yang telah teruji sambil terus memantau proyek-proyek baru seperti (jet tempur) KAAN untuk jangka panjang,” ujarnya.
(mas)
Lihat Juga :