Presiden AS Donald Trump Dilema, Bela Qatar atau Israel
Selasa, 16 September 2025 - 09:51 WIB
loading...
Presiden AS Donald Trump menghadapi dilema, antara membela Qatar atau Israel, yang dua-duanya sekutu utama Washington. Foto/Flash90/CC0/7eye
A
A
A
TEL AVIV - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menghadapi dilema diplomatik yang rumit menyusul serangan udara Israel yang belum pernah terjadi sebelumnya di Ibu Kota Qatar, Doha. Serangan pekan lalu itu menargetkan para pemimpin Hamas yang menghadiri perundingan gencatan senjata yang ditengahi Amerika.
Serangan 9 September tersebut telah memperburuk hubungan AS dengan Israel dan Qatar—dua sekutu utama Washington di Timur Tengah, yang memperumit kebijakan luar negeri Trump di kawasan tersebut.
Mengutip laporan Newsweek, Selasa (16/9/2025), serangan Israel terhadap Qatar telah mengganggu upaya AS untuk memediasi perdamaian dan melemahkan peran Qatar sebagai mediator regional, sehingga menimbulkan pertanyaan tentang masa depan Perjanjian Abraham—perjanjian yang ditengahi oleh pemerintahan Trump yang menormalisasi hubungan antara Israel dan beberapa negara Arab.
Baca Juga: Qatar: Dunia Jangan Standar Ganda, Harus Hukum Israel atas Kejahatannya!
Selain dampak diplomatik, serangan tersebut juga membahayakan perdagangan dan investasi AS-Qatar sekaligus menimbulkan ketidakpastian atas Pangkalan Udara Al Udeid, instalasi militer terbesar Amerika di Timur Tengah.
Di saat yang sama, Israel tetap menjadi salah satu sekutu strategis terdekat Washington, yang mendapatkan keuntungan dari bantuan militer tahunan senilai miliaran dolar dan kerja sama intelijen yang ekstensif.
Insiden ini menggarisbawahi bagaimana ketidakstabilan regional mengancam kepentingan ekonomi dan keamanan, yang mempersulit upaya Trump untuk menyeimbangkan kedua sekutu AS tersebut.
Awal tahun ini, Qatar memperkuat posisinya sebagai mitra ekonomi utama AS. Selama kunjungannya ke Doha pada bulan Mei, Trump mengumumkan "pertukaran ekonomi" senilai setidaknya USD1,2 triliun.
Namun, lembar fakta Gedung Putih mengonfirmasi kesepakatan senilai total USD243 miliar, termasuk kesepakatan senilai USD96 miliar bagi Qatar Airways untuk membeli hingga 210 jet penumpang dari Boeing. Selain itu, dana kekayaan negara Qatar, Qatar Investment Authority (Otoritas Investasi Qatar), menjanjikan investasi lebih lanjut senilai USD500 miliar dalam ekonomi AS selama dekade berikutnya, yang menandakan komitmen jangka panjang terhadap pasar Amerika.
Dalam gestur niat baik lainnya, keluarga Kerajaan Qatar menghadiahkan sebuah pesawat mewah Boeing 747-8 kepada Trump senilai sekitar USD400 juta.
Sementara itu, angka perdagangan AS-Israel menunjukkan keseimbangan yang positif. Pada bulan Juni, AS mengekspor barang senilai USD1,39 miliar ke Israel dan mengimpor USD1,27 miliar, menghasilkan surplus perdagangan sebesar USD120 juta.
AS juga telah memberikan bantuan militer yang substansial kepada Israel. Pada bulan Maret, Trump mempercepat penyaluran bantuan militer sekitar USD4 miliar kepada Israel. Hingga April, terdapat 751 kasus Penjualan Militer Asing yang aktif dengan Israel, senilai USD39,2 miliar.
Selain itu, sejak Oktober 2023, pengeluaran AS untuk operasi militer Israel dan operasi terkait AS di kawasan tersebut berjumlah setidaknya USD22,76 miliar.
Serangan Israel terhadap Qatar telah bergema di Timur Tengah, mendorong pertemuan puncak darurat Arab-Islam di Doha yang mengutuk serangan tersebut dan memperingatkan bahwa hal itu dapat menggagalkan upaya normalisasi regional.
Insiden tersebut juga menimbulkan keraguan terhadap stabilitas investasi Qatar di AS, dengan Perdana Menteri (PM) Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani mengecamnya sebagai "serangan pengecut" dan pelanggaran hukum internasional, serta memperingatkan bahwa Doha dapat mengambil tindakan hukum dan mempertimbangkan kembali komitmen ekonominya.
Bagi Trump, dampaknya tidak hanya mengancam kemitraan ekonomi yang telah susah payah diraih, tetapi juga dorongannya yang lebih luas untuk menengahi perdamaian dan mempertahankan perjanjian yang dipimpin AS, yang kini terancam oleh tindakan Israel yang berkelanjutan dan meningkatnya ketidakpercayaan regional.
Presiden Trump telah bertemu dengan PM Al Thani di New York setelah serangan Israel di Doha, menandakan niat Washington untuk meyakinkan sekutu Teluknya.
Pada saat yang sama, Trump mengutus Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio ke Tel Aviv untuk bertemu dengan PM Israel Benjamin Netanyahu, di mana Rubio menekankan kebijakan "tekanan maksimum" AS terhadap Iran, yang dia kategorikan sebagai sumber utama ketidakstabilan regional.
Pendekatan dua jalur ini dapat membantu Trump menyeimbangkan kepentingan keamanan Israel dengan hubungan ekonomi dan politik Qatar, mengalihkan perhatian dari serangan Israel terhadap Doha ke masalah Iran dalam upaya untuk melindungi aliansi AS yang lebih luas.
Serangan 9 September tersebut telah memperburuk hubungan AS dengan Israel dan Qatar—dua sekutu utama Washington di Timur Tengah, yang memperumit kebijakan luar negeri Trump di kawasan tersebut.
Mengutip laporan Newsweek, Selasa (16/9/2025), serangan Israel terhadap Qatar telah mengganggu upaya AS untuk memediasi perdamaian dan melemahkan peran Qatar sebagai mediator regional, sehingga menimbulkan pertanyaan tentang masa depan Perjanjian Abraham—perjanjian yang ditengahi oleh pemerintahan Trump yang menormalisasi hubungan antara Israel dan beberapa negara Arab.
Baca Juga: Qatar: Dunia Jangan Standar Ganda, Harus Hukum Israel atas Kejahatannya!
Selain dampak diplomatik, serangan tersebut juga membahayakan perdagangan dan investasi AS-Qatar sekaligus menimbulkan ketidakpastian atas Pangkalan Udara Al Udeid, instalasi militer terbesar Amerika di Timur Tengah.
Di saat yang sama, Israel tetap menjadi salah satu sekutu strategis terdekat Washington, yang mendapatkan keuntungan dari bantuan militer tahunan senilai miliaran dolar dan kerja sama intelijen yang ekstensif.
Insiden ini menggarisbawahi bagaimana ketidakstabilan regional mengancam kepentingan ekonomi dan keamanan, yang mempersulit upaya Trump untuk menyeimbangkan kedua sekutu AS tersebut.
AS Bela Qatar atau Israel?
Awal tahun ini, Qatar memperkuat posisinya sebagai mitra ekonomi utama AS. Selama kunjungannya ke Doha pada bulan Mei, Trump mengumumkan "pertukaran ekonomi" senilai setidaknya USD1,2 triliun.
Namun, lembar fakta Gedung Putih mengonfirmasi kesepakatan senilai total USD243 miliar, termasuk kesepakatan senilai USD96 miliar bagi Qatar Airways untuk membeli hingga 210 jet penumpang dari Boeing. Selain itu, dana kekayaan negara Qatar, Qatar Investment Authority (Otoritas Investasi Qatar), menjanjikan investasi lebih lanjut senilai USD500 miliar dalam ekonomi AS selama dekade berikutnya, yang menandakan komitmen jangka panjang terhadap pasar Amerika.
Dalam gestur niat baik lainnya, keluarga Kerajaan Qatar menghadiahkan sebuah pesawat mewah Boeing 747-8 kepada Trump senilai sekitar USD400 juta.
Sementara itu, angka perdagangan AS-Israel menunjukkan keseimbangan yang positif. Pada bulan Juni, AS mengekspor barang senilai USD1,39 miliar ke Israel dan mengimpor USD1,27 miliar, menghasilkan surplus perdagangan sebesar USD120 juta.
AS juga telah memberikan bantuan militer yang substansial kepada Israel. Pada bulan Maret, Trump mempercepat penyaluran bantuan militer sekitar USD4 miliar kepada Israel. Hingga April, terdapat 751 kasus Penjualan Militer Asing yang aktif dengan Israel, senilai USD39,2 miliar.
Selain itu, sejak Oktober 2023, pengeluaran AS untuk operasi militer Israel dan operasi terkait AS di kawasan tersebut berjumlah setidaknya USD22,76 miliar.
Serangan Israel terhadap Qatar telah bergema di Timur Tengah, mendorong pertemuan puncak darurat Arab-Islam di Doha yang mengutuk serangan tersebut dan memperingatkan bahwa hal itu dapat menggagalkan upaya normalisasi regional.
Insiden tersebut juga menimbulkan keraguan terhadap stabilitas investasi Qatar di AS, dengan Perdana Menteri (PM) Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani mengecamnya sebagai "serangan pengecut" dan pelanggaran hukum internasional, serta memperingatkan bahwa Doha dapat mengambil tindakan hukum dan mempertimbangkan kembali komitmen ekonominya.
Bagi Trump, dampaknya tidak hanya mengancam kemitraan ekonomi yang telah susah payah diraih, tetapi juga dorongannya yang lebih luas untuk menengahi perdamaian dan mempertahankan perjanjian yang dipimpin AS, yang kini terancam oleh tindakan Israel yang berkelanjutan dan meningkatnya ketidakpercayaan regional.
Presiden Trump telah bertemu dengan PM Al Thani di New York setelah serangan Israel di Doha, menandakan niat Washington untuk meyakinkan sekutu Teluknya.
Pada saat yang sama, Trump mengutus Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio ke Tel Aviv untuk bertemu dengan PM Israel Benjamin Netanyahu, di mana Rubio menekankan kebijakan "tekanan maksimum" AS terhadap Iran, yang dia kategorikan sebagai sumber utama ketidakstabilan regional.
Pendekatan dua jalur ini dapat membantu Trump menyeimbangkan kepentingan keamanan Israel dengan hubungan ekonomi dan politik Qatar, mengalihkan perhatian dari serangan Israel terhadap Doha ke masalah Iran dalam upaya untuk melindungi aliansi AS yang lebih luas.
(mas)
Lihat Juga :