Pekerja Perempuan Ini Bunuh Diri setelah Bos Menyebutnya Anjing Liar dalam Rapat, Urusannya Jadi Panjang
Selasa, 16 September 2025 - 00:02 WIB
loading...
A
A
A
Keluarga yang berduka kemudian mengumumkan dalam konferensi pers bahwa Sakai dan perusahaan akan membayar 150 juta yen Jepang (Rp16,7 miliar) sebagai uang penyelesaian.
Laporan surat kabar Asahi Shimbun menambahkan bahwa putusan tersebut juga mewajibkan D-UP untuk mengambil langkah-langkah guna mencegah insiden serupa terulang kembali.
D-UP kemudian merilis pernyataan di situs webnya, yang mengonfirmasi bahwa Sakai mengundurkan diri pada hari Rabu (10/9/2025).
Perusahaan juga meminta maaf kepada Satomi dan keluarganya, dan mereka berjanji untuk memperbaiki sistem mereka guna mencegah insiden serupa terulang di masa mendatang.
Langkah-langkah yang direncanakan D-UP antara lain merevisi aturan pencegahan pelecehan, memberikan pelatihan bagi manajemen dan karyawannya, serta mendirikan hotline konsultasi eksternal.
Saudara perempuan Satomi menjawab bahwa permintaan maaf tersebut datang terlambat.
"Sudah bertahun-tahun berlalu sejak saudara perempuan saya meninggal, jadi permintaan maaf sekarang rasanya kurang tepat," ujarnya. "Hasil pengadilannya bagus, tapi saya ingin (perusahaan dan presiden) meminta maaf selagi dia masih hidup."
Dia menggambarkan Satomi sebagai sosok pekerja keras dan berdedikasi pada hal-hal yang dia pedulikan. Dia berharap akan tercipta masyarakat di mana orang-orang yang berusaha sebaik mungkin dilindungi dan tidak dirundung.
Laporan surat kabar Asahi Shimbun menambahkan bahwa putusan tersebut juga mewajibkan D-UP untuk mengambil langkah-langkah guna mencegah insiden serupa terulang kembali.
D-UP kemudian merilis pernyataan di situs webnya, yang mengonfirmasi bahwa Sakai mengundurkan diri pada hari Rabu (10/9/2025).
Perusahaan juga meminta maaf kepada Satomi dan keluarganya, dan mereka berjanji untuk memperbaiki sistem mereka guna mencegah insiden serupa terulang di masa mendatang.
Langkah-langkah yang direncanakan D-UP antara lain merevisi aturan pencegahan pelecehan, memberikan pelatihan bagi manajemen dan karyawannya, serta mendirikan hotline konsultasi eksternal.
Saudara perempuan Satomi menjawab bahwa permintaan maaf tersebut datang terlambat.
"Sudah bertahun-tahun berlalu sejak saudara perempuan saya meninggal, jadi permintaan maaf sekarang rasanya kurang tepat," ujarnya. "Hasil pengadilannya bagus, tapi saya ingin (perusahaan dan presiden) meminta maaf selagi dia masih hidup."
Dia menggambarkan Satomi sebagai sosok pekerja keras dan berdedikasi pada hal-hal yang dia pedulikan. Dia berharap akan tercipta masyarakat di mana orang-orang yang berusaha sebaik mungkin dilindungi dan tidak dirundung.
(mas)
Lihat Juga :