Pesawat Siluman B-2 AS Jatuhkan Bom Anti-Kapal di Depan Pintu Rusia
Jum'at, 12 September 2025 - 07:15 WIB
loading...
Pesawat pengebom siluman B-2 Amerika Serikat menjatuhkan bom anti-kapal dalam sebuah uji coba di dekat perairan Arktik Rusia. Foto/Angkatan Bersenjata Norwegia
A
A
A
OSLO - Pesawat pengebom siluman B-2 Amerika Serikat (AS) telah menjatuhkan bom anti-kapal dalam sebuah uji coba di dekat perairan Arktik Rusia. Manuver di perairan yang masuk wilayah Norwegia itu sebagai unjuk kemampuan serangan maritim presisi.
Menghadapi ancaman maritim yang semakin meningkat dari musuh-musuh termasuk China—yang mengoperasikan Angkatan Laut terbesar di dunia berdasarkan jumlah lambung kapal—dan Rusia, Amerika telah meningkatkan kemampuan penenggelaman kapal dengan mengembangkan senjata canggih seperti Long Range Anti-Ship Missile (LRASM) dan bom berpemandu presisi yang dimodifikasi yang dikenal sebagai QUICKSINK.
Uji coba penjatuhan bom berlangsung pada 3 September dengan lokasi persisnya di sekitar Pulau Andoya, tapi baru diungkap Angkatan Udara AS awal pekan ini. Manuver ini berlangsung ketika AS dan sekutu NATO-nya membentuk satuan tugas Angkatan Laut untuk melakukan operasi di Laut Barents di dekatnya—yang dianggap sebagai pintu gerbang Arktik Rusia.
Baca Juga: Jet Tempur Siluman F-35 Belanda Tembak Jatuh Drone Rusia di Polandia, Ini Respons Kremlin
Kapal-kapal sekutu terlihat diintai pasukan militer Rusia selama uji coba penjatuhan bom.
Angkatan Udara AS mengumumkan pada Selasa lalu bahwa pesawat pengebom B-2—yang berpartisipasi dalam serangan udara skala besar terhadap fasilitas nuklir Iran pada bulan Juni—melakukan skenario serangan jarak jauh menggunakan senjata maritim QUICKSINK untuk mengalahkan kapal permukaan musuh.
Pulau Andoya terletak sekitar 366 mil di sebelah barat perbatasan darat Norwegia-Rusia.
Sebelum pesawat pengebom tersebut berangkat dari Pangkalan Angkatan Udara Whiteman di Missouri, para penerbang mempersiapkan dua jenis senjata QUICKSINK: bom GBU-38 seberat 500 pon dan bom GBU-31 seberat 2.000 pon, keduanya merupakan bagian dari keluarga Joint Direct Attack Munition (JDAM).
Dengan dilengkapi pencari baru, JDAM yang dimodifikasi dapat melakukan serangan presisi terhadap target maritim statis dan bergerak, memberikan apa yang digambarkan oleh Laboratorium Penelitian Angkatan Udara AS sebagai "kemampuan mengalahkan kapal permukaan berbiaya rendah yang dikirimkan melalui udara."
"QUICKSINK adalah jawaban atas kebutuhan untuk segera menetralisir ancaman maritim yang mengancam di wilayah yang luas di seluruh dunia," kata laboratorium tersebut, yang dilansir Newsweek, Jumat (12/9/2025).
Foto-foto yang dirilis oleh militer Norwegia—yang ikut mengerahkan empat jet tempur siluman F-35 dan sebuah pesawat patroli maritim P-8 untuk uji coba tersebut—menunjukkan pesawat pengebom AS menjatuhkan sebuah bom tunggal, yang diidentifikasi oleh media pertahanan The War Zone sebagai varian GBU-31.
Salah satu foto militer Norwegia—yang diambil melalui periskop kapal selam—menunjukkan sebuah serangan terhadap target kapal. Foto-foto yang dirilis oleh Angkatan Udara AS menunjukkan bahwa bom QUICKSINK GBU-31 dan GBU-38 yang dimodifikasi telah dimuat ke dalam pesawat pengebom tersebut.
Uji coba di Norwegia ini menandai setidaknya ketiga kalinya senjata QUICKSINK diuji dengan pesawat pengebom B-2, yang menjatuhkan varian seberat 2.000 pon selama latihan perang Angkatan Laut di Hawaii pada Juli 2024 dan menggunakan varian seberat 500 pon untuk uji coba di Florida.
Data resmi menunjukkan bahwa pesawat pengebom B-2 memiliki muatan 40.000 pon, yang berarti secara teoritis dapat membawa hingga 80 bom 500 pon atau 20 bom 2.000 pon. Pesawat ini dirancang untuk menembus pertahanan udara canggih dan menyerang target yang "dipertahankan dengan ketat".
"B-2 memainkan peran sentral, menggunakan amunisi QUICKSINK berpemandu presisi untuk menyerang dan menenggelamkan target maritim. Selain menguji kemampuan amunisi, misi ini juga memvalidasi keunggulan pesawat yang berkelanjutan, termasuk kemampuan silumannya, jangkauan, dan fleksibilitas muatan, sekaligus memperkuat perannya yang terus berkembang dalam serangan maritim," kata Sayap ke-53 Angkatan Udara AS dalam siaran pers.
Militer Moskow belum berkomentar atas uji coba penjatuhan bom anti-kapal oleh pesawat pengebom siluman B-2 di dekat perairan Arktik Rusia.
Menghadapi ancaman maritim yang semakin meningkat dari musuh-musuh termasuk China—yang mengoperasikan Angkatan Laut terbesar di dunia berdasarkan jumlah lambung kapal—dan Rusia, Amerika telah meningkatkan kemampuan penenggelaman kapal dengan mengembangkan senjata canggih seperti Long Range Anti-Ship Missile (LRASM) dan bom berpemandu presisi yang dimodifikasi yang dikenal sebagai QUICKSINK.
Uji coba penjatuhan bom berlangsung pada 3 September dengan lokasi persisnya di sekitar Pulau Andoya, tapi baru diungkap Angkatan Udara AS awal pekan ini. Manuver ini berlangsung ketika AS dan sekutu NATO-nya membentuk satuan tugas Angkatan Laut untuk melakukan operasi di Laut Barents di dekatnya—yang dianggap sebagai pintu gerbang Arktik Rusia.
Baca Juga: Jet Tempur Siluman F-35 Belanda Tembak Jatuh Drone Rusia di Polandia, Ini Respons Kremlin
Kapal-kapal sekutu terlihat diintai pasukan militer Rusia selama uji coba penjatuhan bom.
Angkatan Udara AS mengumumkan pada Selasa lalu bahwa pesawat pengebom B-2—yang berpartisipasi dalam serangan udara skala besar terhadap fasilitas nuklir Iran pada bulan Juni—melakukan skenario serangan jarak jauh menggunakan senjata maritim QUICKSINK untuk mengalahkan kapal permukaan musuh.
Pulau Andoya terletak sekitar 366 mil di sebelah barat perbatasan darat Norwegia-Rusia.
Sebelum pesawat pengebom tersebut berangkat dari Pangkalan Angkatan Udara Whiteman di Missouri, para penerbang mempersiapkan dua jenis senjata QUICKSINK: bom GBU-38 seberat 500 pon dan bom GBU-31 seberat 2.000 pon, keduanya merupakan bagian dari keluarga Joint Direct Attack Munition (JDAM).
Dengan dilengkapi pencari baru, JDAM yang dimodifikasi dapat melakukan serangan presisi terhadap target maritim statis dan bergerak, memberikan apa yang digambarkan oleh Laboratorium Penelitian Angkatan Udara AS sebagai "kemampuan mengalahkan kapal permukaan berbiaya rendah yang dikirimkan melalui udara."
"QUICKSINK adalah jawaban atas kebutuhan untuk segera menetralisir ancaman maritim yang mengancam di wilayah yang luas di seluruh dunia," kata laboratorium tersebut, yang dilansir Newsweek, Jumat (12/9/2025).
Foto-foto yang dirilis oleh militer Norwegia—yang ikut mengerahkan empat jet tempur siluman F-35 dan sebuah pesawat patroli maritim P-8 untuk uji coba tersebut—menunjukkan pesawat pengebom AS menjatuhkan sebuah bom tunggal, yang diidentifikasi oleh media pertahanan The War Zone sebagai varian GBU-31.
Salah satu foto militer Norwegia—yang diambil melalui periskop kapal selam—menunjukkan sebuah serangan terhadap target kapal. Foto-foto yang dirilis oleh Angkatan Udara AS menunjukkan bahwa bom QUICKSINK GBU-31 dan GBU-38 yang dimodifikasi telah dimuat ke dalam pesawat pengebom tersebut.
Uji coba di Norwegia ini menandai setidaknya ketiga kalinya senjata QUICKSINK diuji dengan pesawat pengebom B-2, yang menjatuhkan varian seberat 2.000 pon selama latihan perang Angkatan Laut di Hawaii pada Juli 2024 dan menggunakan varian seberat 500 pon untuk uji coba di Florida.
Data resmi menunjukkan bahwa pesawat pengebom B-2 memiliki muatan 40.000 pon, yang berarti secara teoritis dapat membawa hingga 80 bom 500 pon atau 20 bom 2.000 pon. Pesawat ini dirancang untuk menembus pertahanan udara canggih dan menyerang target yang "dipertahankan dengan ketat".
"B-2 memainkan peran sentral, menggunakan amunisi QUICKSINK berpemandu presisi untuk menyerang dan menenggelamkan target maritim. Selain menguji kemampuan amunisi, misi ini juga memvalidasi keunggulan pesawat yang berkelanjutan, termasuk kemampuan silumannya, jangkauan, dan fleksibilitas muatan, sekaligus memperkuat perannya yang terus berkembang dalam serangan maritim," kata Sayap ke-53 Angkatan Udara AS dalam siaran pers.
Militer Moskow belum berkomentar atas uji coba penjatuhan bom anti-kapal oleh pesawat pengebom siluman B-2 di dekat perairan Arktik Rusia.
(mas)
Lihat Juga :