Demo 'Block Everything' Guncang Prancis, Juga Terinspirasi Indonesia?
Kamis, 11 September 2025 - 10:32 WIB
loading...
A
A
A
Prancis berada di bawah tekanan untuk menurunkan defisit anggaran yang hampir dua kali lipat dari pagu 3% Uni Eropa, dan tumpukan utang yang setara dengan 114% PDB.
Di Paris, kaum Gen-Z, yang didominasi para pelajar dan anak-anak usia sekolah, turut serta dalam aksi protes. Lebih dari 300 pengunjuk rasa ditangkap di seluruh negeri, meskipun banyak demonstrasi berlangsung damai.
Hampir 200.000 orang di seluruh Prancis berpartisipasi dalam gerakan tersebut, sebuah mobilisasi yang digambarkan oleh Menteri Dalam Negeri Bruno Retailleau sebagai "signifikan" meskipun dia menambahkan bahwa "mereka yang ingin memblokade negara gagal melakukannya."
Gerakan "Block Everything" ini mencerminkan kemarahan terhadap apa yang disebut para pengunjuk rasa sebagai elite penguasa yang disfungsional dan bersikeras pada penghematan—ketidakpuasan semakin dalam setelah pemerintah sebelumnya mengusulkan pemotongan anggaran publik sebesar 44 miliar euro (USD52 miliar).
Di luar stasiun kereta Gare du Nord di Paris, ratusan pemuda meneriakkan slogan-slogan anti-Macron. Salah satu dari mereka membawa plakat berbendera Triwarna dan slogan "Republik Elite Kaya".
"Kami datang untuk bersuara," kata Emma Meguerditchian (17), pelajar Sorbonne. "Kami ingin mereka tahu bahwa kami tidak tahan lagi, kami menginginkan pemerintahan jenis lain."
Di wilayah barat, para pengunjuk rasa di Nantes memblokir jalan raya dengan membakar ban dan tempat sampah. Polisi menggunakan gas air mata untuk membubarkan orang-orang yang mencoba menduduki bundaran. Di Rennes, sebuah bus dibakar.
Di Montpellier, di selatan, polisi menembakkan gas air mata ke arah pengunjuk rasa yang telah mendirikan barikade untuk memblokir lalu lintas di bundaran. Sebuah spanduk besar di lokasi tersebut bertuliskan: "Macron mengundurkan diri".
Di Paris, kaum Gen-Z, yang didominasi para pelajar dan anak-anak usia sekolah, turut serta dalam aksi protes. Lebih dari 300 pengunjuk rasa ditangkap di seluruh negeri, meskipun banyak demonstrasi berlangsung damai.
Hampir 200.000 orang di seluruh Prancis berpartisipasi dalam gerakan tersebut, sebuah mobilisasi yang digambarkan oleh Menteri Dalam Negeri Bruno Retailleau sebagai "signifikan" meskipun dia menambahkan bahwa "mereka yang ingin memblokade negara gagal melakukannya."
Gerakan "Block Everything" ini mencerminkan kemarahan terhadap apa yang disebut para pengunjuk rasa sebagai elite penguasa yang disfungsional dan bersikeras pada penghematan—ketidakpuasan semakin dalam setelah pemerintah sebelumnya mengusulkan pemotongan anggaran publik sebesar 44 miliar euro (USD52 miliar).
Di luar stasiun kereta Gare du Nord di Paris, ratusan pemuda meneriakkan slogan-slogan anti-Macron. Salah satu dari mereka membawa plakat berbendera Triwarna dan slogan "Republik Elite Kaya".
"Kami datang untuk bersuara," kata Emma Meguerditchian (17), pelajar Sorbonne. "Kami ingin mereka tahu bahwa kami tidak tahan lagi, kami menginginkan pemerintahan jenis lain."
Di wilayah barat, para pengunjuk rasa di Nantes memblokir jalan raya dengan membakar ban dan tempat sampah. Polisi menggunakan gas air mata untuk membubarkan orang-orang yang mencoba menduduki bundaran. Di Rennes, sebuah bus dibakar.
Di Montpellier, di selatan, polisi menembakkan gas air mata ke arah pengunjuk rasa yang telah mendirikan barikade untuk memblokir lalu lintas di bundaran. Sebuah spanduk besar di lokasi tersebut bertuliskan: "Macron mengundurkan diri".
Lihat Juga :