Ayatollah Khamenei: Musuh Paksakan Skenario 'Tak Ada Perang, Tak Ada Perdamaian' terhadap Iran
Senin, 08 September 2025 - 11:03 WIB
loading...
Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei sebut musuh-musuh telah memaksakan skenario tak ada perang, tak ada perdamaian terhadap Iran. Foto/Khamenei.ir
A
A
A
TEHERAN - Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei mengatakan musuh-musuh telah memaksakan skenario "tak ada perang, tak ada perdamaian" yang berbahaya terhadap Iran. Komentar tersebut disampaikan lebih dari dua bulan setelah Iran dan Israel terlibat pertempuran udara, yang berakhir dengan gencatan senjata setelah Amerika Serikat (AS) menjadi penengah.
"Musuh ingin memaksakan situasi 'tak ada perang, tak ada perdamaian' terhadap Iran," kata Khamenei dalam pertemuan dengan Presiden Masoud Pezeshkian dan anggota kabinetnya di Teheran pada hari Minggu. Khamenei tidak merinci musuh-musuh yang dimaksud, namun Iran selama ini menganggap Israel dan AS sebagai musuh bebuyutan.
"Salah satu kerugian dan bahaya yang dihadapi negara ini justru adalah keadaan 'tak ada perang, tak ada perdamaian', yang tidak baik," paparnya, seperti dikutip Iran International, Senin (8/9/2025).
Baca Juga: Terungkap, 'Tim Pemenggal Kepala' Israel Targetkan Para Pemimpin Iran via Ponsel Pengawal Mereka
Kebijakan luar negeri Iran didefinisikan selama bertahun-tahun oleh kalimat terkenal Khamenei—"bukan perang maupun negosiasi". Namun tahun ini, Iran memasuki perundingan dengan Amerika Serikat dan mengalami perang 12 hari dengan Israel yang menewaskan sebagian besar komandan militer tertingginya.
Israel melancarkan invasi militer mendadak pada 13 Juni yang menargetkan fasilitas militer dan nuklir Iran, menewaskan 1.062 orang, termasuk 276 warga sipil. Iran membalas dengan serangan rudal yang menewaskan 31 warga sipil dan satu tentara.
Meskipun gencatan senjata yang ditengahi AS menghentikan permusuhan pada 24 Juni, baik pejabat kedua negara maupun publik Iran tidak menganggap perang telah berakhir.
Bulan lalu, pejabat keamanan tinggi Iran dan perwakilan Khamenei, Ali Larijani, mengatakan Teheran harus tetap siap menghadapi putaran konflik baru karena perang dengan Israel belum berakhir.
Sementara itu, dalam sebuah pidato hari Minggu, Khamenei menyebut Israel sebagai pemerintah paling terisolasi di dunia. Dia lantas menyerukan kepada negara-negara Islam untuk memutuskan semua hubungan bisnis dan bahkan politik mereka dengan Israel.
"Negara-negara yang memprotes (Israel) hari ini, baik Islam maupun non-Islam, terutama negara-negara Islam, harus sepenuhnya memutus hubungan dagang mereka dengan rezim Zionis dan bahkan memutuskan hubungan politik, mengisolasinya lebih dari yang sudah ada," ujarnya.
"Saat ini, tentu saja, rezim Zionis yang keji adalah pemerintahan yang paling terisolasi di dunia. Tidak diragukan lagi. Ia adalah pemerintahan yang paling dibenci di dunia. Namun, ia bisa diisolasi lebih jauh lagi," paparnya.
Dia kemudian memerintahkan Kementerian Luar Negeri pemerintahan Pezeshkian untuk menyarankan pemerintah lain agar memutuskan hubungan mereka dengan Israel.
Khamenei dalam beberapa tahun terakhir, terutama setelah Perjanjian Abraham yang ditengahi Presiden AS Donald Trump, telah menyarankan negara-negara Islam untuk tidak menormalisasi hubungan mereka dengan Negara Yahudi tersebut.
Pada bulan Mei, dia memperingatkan Arab Saudi agar tidak menjalin hubungan baik dengan Israel, dengan mengatakan bahwa kerja sama dengan Washington dan Tel Aviv sama saja dengan "penindasan".
Di sisi lain, Khamenei mengeluhkan apa yang dia sebut rendahnya produksi dan penjualan minyak, tanpa mengakui dampak isolasi dan sanksi internasional terhadap sektor energinya.
"Produksi minyak di Iran, meskipun penting bagi perekonomian nasional, berada pada tingkat yang rendah. Metode produksi kami sudah ketinggalan zaman. Peralatan dan tekniknya sudah tua," ujarnya.
"Kami tertinggal dari banyak negara kaya minyak lainnya di dunia," paparnya.
"Dalam ekspor minyak juga, kami membutuhkan dinamisme yang lebih besar. Isu memiliki jangkauan dan keragaman pelanggan minyak yang lebih luas merupakan hal penting yang harus diupayakan," imbuh Khamenei.
Sanksi AS telah mengisolasi Iran di pasar energi global, memaksa negara itu untuk menjual hampir semua minyak mentahnya ke China dengan harga diskon besar. Sebagian kecil minyak yang tersisa juga dijual ke sekutu Iran seperti Venezuela, seringkali dengan imbalan bantuan ekonomi atau barang lainnya.
Sebagai konsumen produk minyak bumi terbesar ke-11 di dunia, Iran juga bergulat dengan sektor penyulingan minyak mentah yang semakin tidak menguntungkan dan ketinggalan zaman.
Mayoritas produk minyak buminya, sekitar 85 persen, bersumber dari kilang-kilang yang didirikan sebelum Revolusi Islam pada tahun 1979.
Menurut dokumen resmi yang disusun oleh Kementerian Perminyakan Iran dan dilihat oleh Iran International, hanya tiga dari sembilan kilang minyak mentahnya yang telah beroperasi setelah tahun 1979, dengan kapasitas gabungan kurang dari 265.000 barel per hari.
Awalnya dibangun berdasarkan lisensi Barat, kilang-kilang ini sekarang mengandalkan teknologi domestik atau China untuk peningkatan.
"Musuh ingin memaksakan situasi 'tak ada perang, tak ada perdamaian' terhadap Iran," kata Khamenei dalam pertemuan dengan Presiden Masoud Pezeshkian dan anggota kabinetnya di Teheran pada hari Minggu. Khamenei tidak merinci musuh-musuh yang dimaksud, namun Iran selama ini menganggap Israel dan AS sebagai musuh bebuyutan.
"Salah satu kerugian dan bahaya yang dihadapi negara ini justru adalah keadaan 'tak ada perang, tak ada perdamaian', yang tidak baik," paparnya, seperti dikutip Iran International, Senin (8/9/2025).
Baca Juga: Terungkap, 'Tim Pemenggal Kepala' Israel Targetkan Para Pemimpin Iran via Ponsel Pengawal Mereka
Kebijakan luar negeri Iran didefinisikan selama bertahun-tahun oleh kalimat terkenal Khamenei—"bukan perang maupun negosiasi". Namun tahun ini, Iran memasuki perundingan dengan Amerika Serikat dan mengalami perang 12 hari dengan Israel yang menewaskan sebagian besar komandan militer tertingginya.
Israel melancarkan invasi militer mendadak pada 13 Juni yang menargetkan fasilitas militer dan nuklir Iran, menewaskan 1.062 orang, termasuk 276 warga sipil. Iran membalas dengan serangan rudal yang menewaskan 31 warga sipil dan satu tentara.
Meskipun gencatan senjata yang ditengahi AS menghentikan permusuhan pada 24 Juni, baik pejabat kedua negara maupun publik Iran tidak menganggap perang telah berakhir.
Bulan lalu, pejabat keamanan tinggi Iran dan perwakilan Khamenei, Ali Larijani, mengatakan Teheran harus tetap siap menghadapi putaran konflik baru karena perang dengan Israel belum berakhir.
Sementara itu, dalam sebuah pidato hari Minggu, Khamenei menyebut Israel sebagai pemerintah paling terisolasi di dunia. Dia lantas menyerukan kepada negara-negara Islam untuk memutuskan semua hubungan bisnis dan bahkan politik mereka dengan Israel.
"Negara-negara yang memprotes (Israel) hari ini, baik Islam maupun non-Islam, terutama negara-negara Islam, harus sepenuhnya memutus hubungan dagang mereka dengan rezim Zionis dan bahkan memutuskan hubungan politik, mengisolasinya lebih dari yang sudah ada," ujarnya.
"Saat ini, tentu saja, rezim Zionis yang keji adalah pemerintahan yang paling terisolasi di dunia. Tidak diragukan lagi. Ia adalah pemerintahan yang paling dibenci di dunia. Namun, ia bisa diisolasi lebih jauh lagi," paparnya.
Dia kemudian memerintahkan Kementerian Luar Negeri pemerintahan Pezeshkian untuk menyarankan pemerintah lain agar memutuskan hubungan mereka dengan Israel.
Khamenei dalam beberapa tahun terakhir, terutama setelah Perjanjian Abraham yang ditengahi Presiden AS Donald Trump, telah menyarankan negara-negara Islam untuk tidak menormalisasi hubungan mereka dengan Negara Yahudi tersebut.
Pada bulan Mei, dia memperingatkan Arab Saudi agar tidak menjalin hubungan baik dengan Israel, dengan mengatakan bahwa kerja sama dengan Washington dan Tel Aviv sama saja dengan "penindasan".
Di sisi lain, Khamenei mengeluhkan apa yang dia sebut rendahnya produksi dan penjualan minyak, tanpa mengakui dampak isolasi dan sanksi internasional terhadap sektor energinya.
"Produksi minyak di Iran, meskipun penting bagi perekonomian nasional, berada pada tingkat yang rendah. Metode produksi kami sudah ketinggalan zaman. Peralatan dan tekniknya sudah tua," ujarnya.
"Kami tertinggal dari banyak negara kaya minyak lainnya di dunia," paparnya.
"Dalam ekspor minyak juga, kami membutuhkan dinamisme yang lebih besar. Isu memiliki jangkauan dan keragaman pelanggan minyak yang lebih luas merupakan hal penting yang harus diupayakan," imbuh Khamenei.
Sanksi AS telah mengisolasi Iran di pasar energi global, memaksa negara itu untuk menjual hampir semua minyak mentahnya ke China dengan harga diskon besar. Sebagian kecil minyak yang tersisa juga dijual ke sekutu Iran seperti Venezuela, seringkali dengan imbalan bantuan ekonomi atau barang lainnya.
Sebagai konsumen produk minyak bumi terbesar ke-11 di dunia, Iran juga bergulat dengan sektor penyulingan minyak mentah yang semakin tidak menguntungkan dan ketinggalan zaman.
Mayoritas produk minyak buminya, sekitar 85 persen, bersumber dari kilang-kilang yang didirikan sebelum Revolusi Islam pada tahun 1979.
Menurut dokumen resmi yang disusun oleh Kementerian Perminyakan Iran dan dilihat oleh Iran International, hanya tiga dari sembilan kilang minyak mentahnya yang telah beroperasi setelah tahun 1979, dengan kapasitas gabungan kurang dari 265.000 barel per hari.
Awalnya dibangun berdasarkan lisensi Barat, kilang-kilang ini sekarang mengandalkan teknologi domestik atau China untuk peningkatan.
(mas)
Lihat Juga :