China Pamer Senjata Mengerikan, Jenderal AS: Kami Tidak Gentar!

Kamis, 04 September 2025 - 10:52 WIB
loading...
China Pamer Senjata...
Kepala Angkatan Udara Pasifik Amerika Serikat Jenderal Kevin Schneider klaim tak gentar dengan parade militer China yang menampilkan banyak senjata mengerikan. Foto/Screenshot CCTV 4
A A A
WASHINGTON - Jenderal Kevin Schneider, Kepala Angkatan Udara Pasifik (PACAF) Amerika Serikat (AS), mengatakan Amerika tidak gentar dengan parade militer besar-besaran China. Parade pada hari Rabu itu memamerkan banyak senjata mengerikan, termasuk rudal nuklir.

Komentar Jenderal Schneider disampaikan dalam sebuah diskusi virtual yang diselenggarakan oleh Air & Space Forces Association’s Mitchell Institute for Aerospace Studies menjelang parade militer China.

Schneider menanggapi pertanyaan langsung dari Steve Trimble dari Aviation Week, yang secara khusus menyoroti drone tempur udara baru, serta sistem rudal anti-balistik canggih HQ-29, yang termasuk di antara sistem China yang disiapkan untuk debut publik resminya.

Baca Juga: Deretan Senjata Mengerikan yang Dipamerkan China: dari Rudal Nuklir hingga Jet Tempur Siluman J-35

“Negara-negara seperti China, Korea Utara, Rusia, dan negara-negara lain menyelenggarakan acara semacam ini. Tentu saja ada fokus besar pada penyampaian pesan,” kata Schneider.

“Anda tahu, penyampaian pesan memang menjadi faktor di sana, tetapi saya pikir inti dari semua ini adalah kami tidak gentar," katanya lagi, seperti dikutip The War Zone, Kamis (4/9/2025).

“Kami akan terus berada di depan tantangan. Kami akan terus mencari cara untuk meningkatkan kemampuan kami dan menghadapi sistem musuh potensial seiring perkembangan dan pengerahannya,” lanjut dia.

“Saya tetap optimistis bahwa kami telah berhasil melakukannya, dan kami akan terus berhasil menemukan cara untuk memitigasi ancaman dari pihak lain seiring perkembangannya, dan meningkatkan kemampuan kami sendiri, untuk dapat mendobrak pintu, memasuki anti-access area/denial areas, dan untuk dapat beroperasi di zona pertempuran senjata, sesuatu yang telah kami lakukan sebagai bangsa sejak hari pertama," imbuh dia.

Sebelumnya dalam pembicaraan tersebut, Schneider juga menawarkan rubrik dasar untuk memahami penangkalan, yang katanya disampaikan kepadanya oleh mantan kepala Komando Indo-Pasifik AS (INDOPACOM).

Dia menggambarkan penangkalan sebagai semacam persamaan matematika. Kemampuan dikalikan kemauan dikalikan pesan. Dan maksudnya, jika salah satu faktor tersebut nol, maka penangkalan juga nol. Ini bukan masalah penjumlahan. Ini masalah perkalian.

"Dalam hal ini, kemampuan merupakan faktor yang sangat penting dalam penangkalan," katanya.

"Jadi, menemukan cara agar kita dapat terus meningkatkan posisi, kemampuan, dan kemampuan kita untuk beradaptasi sebelum apa yang dilakukan musuh potensial, sejauh ini merupakan faktor terpenting."

Schneider secara khusus menyebut pesawat pengebom siluman B-21 Raider dan pesawat tempur generasi keenam F-47 sebagai contoh bagaimana Angkatan Udara meningkatkan kemampuannya.

Menurutnya, drone Collaborative Combat Aircraft (CCA) baru merupakan inti lain dari rencana masa depan Angkatan Udara AS, termasuk dalam kemitraan dengan pesawat berawak masa depan seperti F-47 dan B-21.

“Secara umum, China-lah yang menjadi fokus utama perhatian kami, termasuk peningkatan ukuran dan kemampuan Tentara Pembebasan Rakyat [PLA],” aku Schneider.

Sementara itu, banyak senjata mengerikan China telah dipamerkan dalam parade militer pada hari Rabu, yang menandai kemenangan China atas Jepang dalam Perang Dunia II.

Beberapa senjata yang dipamerkan di depan para pemimpin dunia itu antara lain rudal JL-1, JL-3, DF-61, DF-31, DF-5C, dan DF-26D yang semuanya dapat membawa hulu ledak nuklir.

Selain itu, empat jenis pesawat berbasis kapal induk juga telah dipamerkan, termasuk jet tempur siluman J-35 dan J-20.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Iran Tolak Pendapat...
Iran Tolak Pendapat Menlu AS Rubio tentang Kesepakatan Damai
Trump Ungkap Turki Siap...
Trump Ungkap Turki Siap Gabung Perang Bersama Iran tapi Dicegah AS
Venezuela Umumkan Keadaan...
Venezuela Umumkan Keadaan Darurat setelah Diguncang 2 Gempa Dahsyat, 32 Orang Tewas
Rugi Besar Akibat Kalah...
Rugi Besar Akibat Kalah Perang, Trump Minta Tambahan Dana Rp1.572 Triliun
Demi Lindungi Negara-negara...
Demi Lindungi Negara-negara Arab, AS Janjikan Perdamaian Abadi dengan Iran
Badan Intelijen AS Kehilangan...
Badan Intelijen AS Kehilangan Akses ke Alat AI Mythos 5, Apa Pemicunya?
Trump Peringatkan Iran,...
Trump Peringatkan Iran, Tarif Selat Hormuz Tak Dapat Diterima
Mantan Menteri Kehakiman...
Mantan Menteri Kehakiman Korsel Divonis 25 Tahun Penjara Terkait Peran dalam Darurat Militer
Heboh, Menteri Perempuan...
Heboh, Menteri Perempuan Swedia Bawa Bayi ke Pertemuan Uni Eropa
Rekomendasi
Pengacara Roy Suryo:...
Pengacara Roy Suryo: Kami Sudah Siapkan Bukti-bukti Kuat di Sidang Kasus Ijazah Jokowi
Kapal Induk Garibaldi...
Kapal Induk Garibaldi dan Masa Depan Strategi Maritim Indonesia
Waspadai Phishing dan...
Waspadai Phishing dan CS Palsu di Platform Kripto, Begini Modusnya
Berita Terkini
Iran Tolak Pendapat...
Iran Tolak Pendapat Menlu AS Rubio tentang Kesepakatan Damai
Trump Ungkap Turki Siap...
Trump Ungkap Turki Siap Gabung Perang Bersama Iran tapi Dicegah AS
Iran Peringatkan Kapal-kapal...
Iran Peringatkan Kapal-kapal Tidak Melintasi Selat Hormuz Tanpa Izin
Korban Gempa Venezuela...
Korban Gempa Venezuela Bertambah, 164 Orang Tewas, 971 Luka-luka
Menlu Iran Bilang Hamas:...
Menlu Iran Bilang Hamas: Gaza Penting dalam Negosiasi dengan AS
Netanyahu Terpaksa Terima...
Netanyahu Terpaksa Terima Gencatan Senjata, Israel Bersiap Tarik Pasukan
Infografis
6 Jenderal Bintang 4...
6 Jenderal Bintang 4 AS Ini Pernah Peringatkan Trump soal Risiko Perang Melawan Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved