Israel Tangkap Wali Kota Hebron, Pemukim Yahudi Serbu Masjid Al-Aqsa
Rabu, 03 September 2025 - 08:57 WIB
loading...
Wali Kota Hebron, Tayseer Abu Sneineh, ditahan setelah pasukan militer menyerbu rumahnya dan merusak harta bendanya. Foto/X
A
A
A
HEBRON - Militer Israel melancarkan kampanye penangkapan besar-besaran pada hari Selasa (2/9/2025). Mereka menahan warga Palestina di kota-kota Tepi Barat, termasuk Wali Kota Hebron Tayseer Abu Sneineh.
Pada saat yang sama, para pemukim ilegal Israel, di bawah perlindungan pasukan polisi, menyerbu kompleks Masjid al-Aqsa di Yerusalem yang diduduki.
Mereka masuk secara berkelompok melalui Gerbang Mughrabi, tempat puluhan pemukim melakukan ritual Talmud di halaman masjid, Al Mayadeen melaporkan.
Para saksi mata mengatakan kepada kantor berita Anadolu bahwa 13 orang Palestina ditahan oleh tentara Israel di Kegubernuran Nablus di Tepi Barat utara yang diduduki.
“Seorang warga Palestina dirawat di rumah sakit setelah diserang dan dipukuli oleh pasukan tentara di desa Kafr Qalil, Nablus,” ungkap saksi mata.
Dua orang lainnya ditahan di kota Qalqilya di utara dan satu lagi di Ramallah, Tepi Barat tengah, menurut sumber-sumber lokal.
Pemerintah kota Hebron menyatakan Wali Kota Tayseer Abu Sneineh ditahan saat fajar, setelah pasukan militer dalam jumlah besar menyerbu rumahnya dan merusak harta bendanya, Anadolu melaporkan.
“Serangan brutal ini tidak hanya menargetkan wali kota tetapi juga menargetkan keinginan rakyat Hebron dan lembaga-lembaga terpilihnya, dan merupakan serangan terang-terangan terhadap proses demokrasi dan hak rakyat kami untuk mengelola urusan mereka dan melayani kota mereka dengan bebas dan bermartabat,” papar pernyataan pemerintah kota.
Dewan kota menganggap otoritas Israel sepenuhnya bertanggung jawab atas penangkapan Abu Sneineh dan meminta organisasi-organisasi hak asasi manusia internasional “untuk melaksanakan tanggung jawab hukum dan moral mereka guna menekan (Israel) agar segera membebaskan wali kota dan mengakhiri eskalasi pelanggaran (Israel) terhadap para pemimpin dan warga kota.”
Gerakan Perlawanan Palestina Hamas mengecam penangkapan Abu Sneineh sebagai “kelanjutan dari pendekatan agresif dan biadab pendudukan serta penargetannya terhadap seluruh komponen rakyat kami.”
“Agresi dan penangkapan brutal ini terjadi dalam konteks penargetan berbahaya yang dilakukan oleh pemerintah teror Zionis terhadap kota Al-Khalil dan rencananya untuk mencaplok wilayah Tepi Barat yang diduduki,” papar gerakan tersebut.
Hamas menambahkan, “Semua upaya Israel untuk mengulangi pengalaman sebelumnya akan gagal, sebagaimana kegagalan Liga Desa.”
Hamas menyerukan kepada semua organisasi internasional, hak asasi manusia, dan kemanusiaan “untuk memikul tanggung jawab hukum dan moral mereka serta menekan pendudukan untuk mengakhiri pelanggaran yang semakin meningkat ini terhadap rakyat Palestina.”
Israel saat ini menahan sekitar 10.800 warga Palestina di penjara-penjaranya, termasuk sekitar 450 anak-anak, 50 perempuan, dan 3.629 tahanan administratif, menurut data resmi Palestina.
Angka-angka ini tidak termasuk ribuan kasus penghilangan paksa tahanan dari Gaza.
Sebanyak 1.016 warga Palestina telah tewas dan lebih dari 7.000 lainnya terluka di Tepi Barat akibat serangan pasukan Israel dan pemukim ilegal sejak Oktober 2023, menurut Kementerian Kesehatan Palestina.
Dalam putusan penting Juli lalu, Mahkamah Internasional menyatakan pendudukan Israel atas wilayah Palestina ilegal, menuntut evakuasi semua permukiman Yahudi di Tepi Barat dan Yerusalem Timur.
Baca juga: Putri Dubai yang Ceraikan Suami Lewat Instagram Temukan Cinta Lagi, Pamer Cincin Tunangan Rp18 Miliar
Pada saat yang sama, para pemukim ilegal Israel, di bawah perlindungan pasukan polisi, menyerbu kompleks Masjid al-Aqsa di Yerusalem yang diduduki.
Mereka masuk secara berkelompok melalui Gerbang Mughrabi, tempat puluhan pemukim melakukan ritual Talmud di halaman masjid, Al Mayadeen melaporkan.
Para saksi mata mengatakan kepada kantor berita Anadolu bahwa 13 orang Palestina ditahan oleh tentara Israel di Kegubernuran Nablus di Tepi Barat utara yang diduduki.
“Seorang warga Palestina dirawat di rumah sakit setelah diserang dan dipukuli oleh pasukan tentara di desa Kafr Qalil, Nablus,” ungkap saksi mata.
Dua orang lainnya ditahan di kota Qalqilya di utara dan satu lagi di Ramallah, Tepi Barat tengah, menurut sumber-sumber lokal.
Serangan Brutal
Pemerintah kota Hebron menyatakan Wali Kota Tayseer Abu Sneineh ditahan saat fajar, setelah pasukan militer dalam jumlah besar menyerbu rumahnya dan merusak harta bendanya, Anadolu melaporkan.
“Serangan brutal ini tidak hanya menargetkan wali kota tetapi juga menargetkan keinginan rakyat Hebron dan lembaga-lembaga terpilihnya, dan merupakan serangan terang-terangan terhadap proses demokrasi dan hak rakyat kami untuk mengelola urusan mereka dan melayani kota mereka dengan bebas dan bermartabat,” papar pernyataan pemerintah kota.
Dewan kota menganggap otoritas Israel sepenuhnya bertanggung jawab atas penangkapan Abu Sneineh dan meminta organisasi-organisasi hak asasi manusia internasional “untuk melaksanakan tanggung jawab hukum dan moral mereka guna menekan (Israel) agar segera membebaskan wali kota dan mengakhiri eskalasi pelanggaran (Israel) terhadap para pemimpin dan warga kota.”
Hamas Mengecam Penangkapan
Gerakan Perlawanan Palestina Hamas mengecam penangkapan Abu Sneineh sebagai “kelanjutan dari pendekatan agresif dan biadab pendudukan serta penargetannya terhadap seluruh komponen rakyat kami.”
“Agresi dan penangkapan brutal ini terjadi dalam konteks penargetan berbahaya yang dilakukan oleh pemerintah teror Zionis terhadap kota Al-Khalil dan rencananya untuk mencaplok wilayah Tepi Barat yang diduduki,” papar gerakan tersebut.
Hamas menambahkan, “Semua upaya Israel untuk mengulangi pengalaman sebelumnya akan gagal, sebagaimana kegagalan Liga Desa.”
Hamas menyerukan kepada semua organisasi internasional, hak asasi manusia, dan kemanusiaan “untuk memikul tanggung jawab hukum dan moral mereka serta menekan pendudukan untuk mengakhiri pelanggaran yang semakin meningkat ini terhadap rakyat Palestina.”
Lebih dari 10.000 Tahanan Palestina
Israel saat ini menahan sekitar 10.800 warga Palestina di penjara-penjaranya, termasuk sekitar 450 anak-anak, 50 perempuan, dan 3.629 tahanan administratif, menurut data resmi Palestina.
Angka-angka ini tidak termasuk ribuan kasus penghilangan paksa tahanan dari Gaza.
Sebanyak 1.016 warga Palestina telah tewas dan lebih dari 7.000 lainnya terluka di Tepi Barat akibat serangan pasukan Israel dan pemukim ilegal sejak Oktober 2023, menurut Kementerian Kesehatan Palestina.
Dalam putusan penting Juli lalu, Mahkamah Internasional menyatakan pendudukan Israel atas wilayah Palestina ilegal, menuntut evakuasi semua permukiman Yahudi di Tepi Barat dan Yerusalem Timur.
Baca juga: Putri Dubai yang Ceraikan Suami Lewat Instagram Temukan Cinta Lagi, Pamer Cincin Tunangan Rp18 Miliar
(sya)
Lihat Juga :