Profil José Mujica, Presiden Termiskin di Dunia yang Sumbangkan 90% Gaji untuk Rakyat Susah
Senin, 01 September 2025 - 14:28 WIB
loading...
Jose Mujica, yang jadi presiden Uruguay 2010-2015, dikenang sebagai presiden termiskin di dunia karena gaya hidup sederhananya. Foto/Dado Galdieri/New York Times
A
A
A
JAKARTA - Ketika sebagian besar presiden dunia identik dengan istana megah, pengawal ketat, dan mobil mewah berlapis baja, seorang lelaki tua di Uruguay justru dikenang dunia karena kesederhanaannya. Namanya José Mujica, Presiden Uruguay periode 2010–2015, yang kemudian dijuluki media internasional sebagai “presiden termiskin di dunia.
Jose Mujica, yang kerap dipanggil dengan nama Pepe, meninggal pada 13 Mei 2025 di usia 89 tahun. Dia meninggalkan warisan moral yang jauh melampaui sekadar jabatan politik. Kehidupannya adalah perpaduan unik antara kisah perjuangan, penderitaan, dan ketulusan yang langka ditemui pada sosok pemimpin dunia modern.
Sebelum menjadi presiden, jalan hidup Mujica penuh luka. Dia adalah anggota Movimiento de Liberación Nacional-Tupamaros, sebuah kelompok gerilya sayap kiri di Uruguay pada 1960-an hingga 1970-an.
Baca Juga: 4 Presiden Termiskin di Dunia, Ada yang Sumbangkan 90% Gajinya untuk Rakyat Susah
Perjuangan politiknya membuat Mujica ditembak enam kali dan menghabiskan hampir 14 tahun dalam penjara, sebagian besar di sel isolasi yang sempit dan gelap.
Pengalaman pahit itu justru membentuk karakter Mujica. Alih-alih menyimpan dendam, dia keluar dari penjara dengan sikap lebih bijak. “Saya bukan orang miskin,” ujarnya suatu kali. “Saya hanya hidup sederhana. Orang miskin adalah mereka yang hanya berpikir ingin lebih dan lebih.”
Ketika terpilih sebagai Presiden Uruguay pada 2010, Mujica mengejutkan dunia. Alih-alih tinggal di istana presiden, dia memilih tetap menempati rumah pertanian kecil di pinggiran Montevideo bersama istrinya; Lucia Topolansky, yang juga seorang senator.
Tidak ada pagar tinggi, tidak ada pengawal berlapis, bahkan air rumahnya berasal dari sumur tanah.
Mobil dinas mewah presiden memang disediakan negara. Namun Mujica menolak menggunakannya. Dia lebih senang mengendarai Volkswagen Beetle keluaran 1987 miliknya, yang nilainya tak lebih dari USD1.800.
Gaya hidupnya membuat banyak media internasional menjulukinya “the world’s humblest president" atau presiden paling rendah hati di dunia. Ada pula yang menjulukinya sebagai presiden termiskin di dunia.
Lebih dari itu, Mujica terkenal karena menyumbangkan 90% gajinya setiap bulan. Dari gaji sekitar USD 12.000 per bulan, dia hanya menyisakan USD1.200 untuk kebutuhan sehari-hari. Sisanya dia donasikan untuk program perumahan rakyat miskin dan amal sosial.
Laporan kekayaan resminya pada 2010 tercatat sekitar USD1.800, jumlah yang hampir sama dengan harga mobil Beetle tuanya. Ketika wartawan menanyakan hal itu, Mujica hanya tertawa dan menjawab, “Apa lagi yang saya butuhkan?”
Mujica bukan hanya dikenal karena gaya hidupnya yang sederhana, tetapi juga karena kebijakannya yang progresif tapi kontroversial.
Di bawah kepemimpinannya, Uruguay melegalkan pernikahan sesama jenis, aborsi, dan menjadi negara pertama di dunia yang melegalkan produksi dan distribusi mariyuana untuk mengurangi kriminalitas.
Namun, yang paling dikenang dunia bukanlah kebijakan kontroversial itu, melainkan etos kemanusiaannya. Mujica berkali-kali menekankan bahwa kekuasaan seharusnya dipakai untuk melayani, bukan memperkaya diri.
“Kita datang ke dunia untuk hidup, bukan untuk menjadi budak pertumbuhan ekonomi,” katanya dalam sebuah pidato di PBB yang viral.
Pada 2024, Mujica didiagnosis menderita kanker esofagus yang kemudian menyebar ke hati. Dia menolak pengobatan agresif dan memilih perawatan paliatif. Pada 13 Mei 2025, dia mengembuskan napas terakhir di rumah kecilnya.
Pemerintah Uruguay menetapkan tiga hari berkabung nasional. Ribuan warga dari berbagai kalangan turun ke jalan, mengiringi jenazahnya dalam prosesi kenegaraan yang sederhana namun penuh haru. Dunia pun ikut memberikan penghormatan terakhir kepada seorang pemimpin yang memilih kesederhanaan di tengah jabatan tertinggi.
José Mujica menunjukkan bahwa kepemimpinan tidak harus identik dengan kemewahan. Dia membuktikan seorang presiden bisa tetap hidup layaknya rakyat biasa, tanpa kehilangan wibawa.
Jose Mujica, yang kerap dipanggil dengan nama Pepe, meninggal pada 13 Mei 2025 di usia 89 tahun. Dia meninggalkan warisan moral yang jauh melampaui sekadar jabatan politik. Kehidupannya adalah perpaduan unik antara kisah perjuangan, penderitaan, dan ketulusan yang langka ditemui pada sosok pemimpin dunia modern.
Sebelum menjadi presiden, jalan hidup Mujica penuh luka. Dia adalah anggota Movimiento de Liberación Nacional-Tupamaros, sebuah kelompok gerilya sayap kiri di Uruguay pada 1960-an hingga 1970-an.
Baca Juga: 4 Presiden Termiskin di Dunia, Ada yang Sumbangkan 90% Gajinya untuk Rakyat Susah
Perjuangan politiknya membuat Mujica ditembak enam kali dan menghabiskan hampir 14 tahun dalam penjara, sebagian besar di sel isolasi yang sempit dan gelap.
Pengalaman pahit itu justru membentuk karakter Mujica. Alih-alih menyimpan dendam, dia keluar dari penjara dengan sikap lebih bijak. “Saya bukan orang miskin,” ujarnya suatu kali. “Saya hanya hidup sederhana. Orang miskin adalah mereka yang hanya berpikir ingin lebih dan lebih.”
Tinggal di Rumah Tani, 90% Gaji untuk Rakyat Susah
Ketika terpilih sebagai Presiden Uruguay pada 2010, Mujica mengejutkan dunia. Alih-alih tinggal di istana presiden, dia memilih tetap menempati rumah pertanian kecil di pinggiran Montevideo bersama istrinya; Lucia Topolansky, yang juga seorang senator.
Tidak ada pagar tinggi, tidak ada pengawal berlapis, bahkan air rumahnya berasal dari sumur tanah.
Mobil dinas mewah presiden memang disediakan negara. Namun Mujica menolak menggunakannya. Dia lebih senang mengendarai Volkswagen Beetle keluaran 1987 miliknya, yang nilainya tak lebih dari USD1.800.
Gaya hidupnya membuat banyak media internasional menjulukinya “the world’s humblest president" atau presiden paling rendah hati di dunia. Ada pula yang menjulukinya sebagai presiden termiskin di dunia.
Lebih dari itu, Mujica terkenal karena menyumbangkan 90% gajinya setiap bulan. Dari gaji sekitar USD 12.000 per bulan, dia hanya menyisakan USD1.200 untuk kebutuhan sehari-hari. Sisanya dia donasikan untuk program perumahan rakyat miskin dan amal sosial.
Laporan kekayaan resminya pada 2010 tercatat sekitar USD1.800, jumlah yang hampir sama dengan harga mobil Beetle tuanya. Ketika wartawan menanyakan hal itu, Mujica hanya tertawa dan menjawab, “Apa lagi yang saya butuhkan?”
Mujica bukan hanya dikenal karena gaya hidupnya yang sederhana, tetapi juga karena kebijakannya yang progresif tapi kontroversial.
Di bawah kepemimpinannya, Uruguay melegalkan pernikahan sesama jenis, aborsi, dan menjadi negara pertama di dunia yang melegalkan produksi dan distribusi mariyuana untuk mengurangi kriminalitas.
Namun, yang paling dikenang dunia bukanlah kebijakan kontroversial itu, melainkan etos kemanusiaannya. Mujica berkali-kali menekankan bahwa kekuasaan seharusnya dipakai untuk melayani, bukan memperkaya diri.
“Kita datang ke dunia untuk hidup, bukan untuk menjadi budak pertumbuhan ekonomi,” katanya dalam sebuah pidato di PBB yang viral.
Akhir Hayat dan Penghormatan
Pada 2024, Mujica didiagnosis menderita kanker esofagus yang kemudian menyebar ke hati. Dia menolak pengobatan agresif dan memilih perawatan paliatif. Pada 13 Mei 2025, dia mengembuskan napas terakhir di rumah kecilnya.
Pemerintah Uruguay menetapkan tiga hari berkabung nasional. Ribuan warga dari berbagai kalangan turun ke jalan, mengiringi jenazahnya dalam prosesi kenegaraan yang sederhana namun penuh haru. Dunia pun ikut memberikan penghormatan terakhir kepada seorang pemimpin yang memilih kesederhanaan di tengah jabatan tertinggi.
José Mujica menunjukkan bahwa kepemimpinan tidak harus identik dengan kemewahan. Dia membuktikan seorang presiden bisa tetap hidup layaknya rakyat biasa, tanpa kehilangan wibawa.
(mas)
Lihat Juga :