Trump: AS Memiliki Kartu Luar Biasa yang Bisa Hancurkan China, tapi...
Selasa, 26 Agustus 2025 - 12:23 WIB
loading...
Presiden Donald Trump (kiri) klaim AS memiliki kartu luar biasa yang bisa menghancurkan China, tapi dia tidak akan memainkannya. Foto/via Tasnim News
A
A
A
WASHINGTON - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengeklaim bahwa Washington memiliki "kartu-kartu luar biasa" untuk melawan China. Menurutnya, jika dia memilih untuk menggunakannya, dia dapat menghancurkan ekonomi terbesar kedua di dunia tersebut.
Tapi, Trump menekankan bahwa AS akan mempertahankan hubungan baik dengan China. Komentar Trump disampaikan pada hari Senin waktu Washington atau sehari sebelum batas waktu ancaman tarif 50 persen terhadap India.
"Kami akan memiliki hubungan yang baik dengan China. Mereka memiliki beberapa kartu. Kami memiliki kartu-kartu yang luar biasa, tetapi saya tidak ingin memainkan kartu-kartu itu," katanya saat berbicara di Oval Office Gedung Putih menjelang pertemuannya dengan Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung.
Baca Juga: Trump Klaim Senjata Nuklir AS Terbanyak Sejagat, Faktanya Kalah dari Rusia
"Jika saya memainkan kartu-kartu itu, itu akan menghancurkan China. Saya tidak akan memainkan kartu-kartu itu," lanjut Trump, seperti dikutip NDTV, Selasa (26/8/2025).
Pemimpin AS tersebut tidak menjelaskan apakah yang dia maksud adalah alat-alat ekonomi, politik, atau senjata strategis.
Dia kemudian berbicara tentang percakapannya baru-baru ini dengan Presiden China Xi Jinping dan mengatakan bahwa dia sedang mempertimbangkan kunjungan ke Beijing.
"Suatu saat nanti, mungkin tahun ini atau segera setelahnya, kami akan pergi ke China," kata Trump, seraya menambahkan bahwa mitranya dari China telah memberikan undangan.
Tarif yang diberlakukan Trump telah mengancam memburuknya hubungan AS-China selama setahun terakhir, dengan Washington menaikkan bea masuk impor China hingga 145 persen pada bulan April.
Ketegangan juga meningkat terkait kebijakan logam tanah jarang China, di mana Trump mengancam bahwa jika Beijing tidak memasok magnet ke AS, Washington dapat mengenakan "tarif 200 persen atau semacamnya."
Namun kemudian, Washington dan Beijing mencapai "gencatan senjata tarif". Meskipun tarif hukuman Trump kembali mengguncang ekonomi global awal bulan ini, kedua negara pada 12 Agustus memutuskan untuk memperpanjang "gencatan senjata tarif" mereka selama 90 hari lagi, memberi para negosiator lebih banyak waktu untuk menemukan titik temu.
Saat ini, sebagian besar barang China dikenakan tarif 30 persen, sementara Beijing mengenakan tarif 10 persen untuk barang-barang impor asal AS.
Tapi, Trump menekankan bahwa AS akan mempertahankan hubungan baik dengan China. Komentar Trump disampaikan pada hari Senin waktu Washington atau sehari sebelum batas waktu ancaman tarif 50 persen terhadap India.
"Kami akan memiliki hubungan yang baik dengan China. Mereka memiliki beberapa kartu. Kami memiliki kartu-kartu yang luar biasa, tetapi saya tidak ingin memainkan kartu-kartu itu," katanya saat berbicara di Oval Office Gedung Putih menjelang pertemuannya dengan Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung.
Baca Juga: Trump Klaim Senjata Nuklir AS Terbanyak Sejagat, Faktanya Kalah dari Rusia
"Jika saya memainkan kartu-kartu itu, itu akan menghancurkan China. Saya tidak akan memainkan kartu-kartu itu," lanjut Trump, seperti dikutip NDTV, Selasa (26/8/2025).
Pemimpin AS tersebut tidak menjelaskan apakah yang dia maksud adalah alat-alat ekonomi, politik, atau senjata strategis.
Dia kemudian berbicara tentang percakapannya baru-baru ini dengan Presiden China Xi Jinping dan mengatakan bahwa dia sedang mempertimbangkan kunjungan ke Beijing.
"Suatu saat nanti, mungkin tahun ini atau segera setelahnya, kami akan pergi ke China," kata Trump, seraya menambahkan bahwa mitranya dari China telah memberikan undangan.
Tarif yang diberlakukan Trump telah mengancam memburuknya hubungan AS-China selama setahun terakhir, dengan Washington menaikkan bea masuk impor China hingga 145 persen pada bulan April.
Ketegangan juga meningkat terkait kebijakan logam tanah jarang China, di mana Trump mengancam bahwa jika Beijing tidak memasok magnet ke AS, Washington dapat mengenakan "tarif 200 persen atau semacamnya."
Namun kemudian, Washington dan Beijing mencapai "gencatan senjata tarif". Meskipun tarif hukuman Trump kembali mengguncang ekonomi global awal bulan ini, kedua negara pada 12 Agustus memutuskan untuk memperpanjang "gencatan senjata tarif" mereka selama 90 hari lagi, memberi para negosiator lebih banyak waktu untuk menemukan titik temu.
Saat ini, sebagian besar barang China dikenakan tarif 30 persen, sementara Beijing mengenakan tarif 10 persen untuk barang-barang impor asal AS.
(mas)
Lihat Juga :