Polisi Jepang Minta Maaf karena Tahan Pria Tak Bersalah Berbulan-bulan dan Akhirnya Meninggal
Selasa, 26 Agustus 2025 - 07:31 WIB
loading...
Kepolisian Metropolitan Tokyo, Jepang, minta maaf karena menahan pria tak bersalah berbulan-bulan hingga akhirnya meninggal dunia. Foto/Kyodo
A
A
A
TOKYO - Kepolisian Jepang meminta maaf kepada keluarga seorang pria yang ditangkap secara keliru dan meninggal dunia setelah ditahan selama berbulan-bulan. Istri pria tak bersalah itu dengan tegas menyatakan tidak bisa memaafkan kesalahan fatal tersebut.
Shizuo Aishima, mantan penasihat perusahaan mesin Ohkawara Kakohki, adalah salah satu dari tiga eksekutif perusahaan yang ditahan secara ilegal dalam penahanan praperadilan selama berbulan-bulan atas tuduhan yang kemudian dibatalkan.
Para pegiat hak asasi manusia telah lama menuntut diakhirinya praktik "hostage justice [keadilan sandera]" di Jepang, di mana para penyidik menggunakan penahanan praperadilan yang panjang untuk memaksa pengakuan.
Baca Juga: Perempuan 19 Tahun Ini Lahirkan Anak Ke-5, Dokter Tegur Suaminya: Kamu Tak Kasihan Padanya?
Para pejabat senior dari kepolisian Tokyo, departemen kejaksaan umum tertinggi, dan kantor kejaksaan Tokyo mengunjungi keluarga dan makam Aishima pada hari Senin.
"Kami dengan tulus meminta maaf atas penyelidikan dan penangkapan yang ilegal ini," ujar Tetsuro Kamata, Wakil Kepala Kepolisian Metropolitan Tokyo, dalam pertemuan yang disiarkan televisi dengan keluarga tersebut.
Istri Aishima berkata, "Saya menerima permintaan maaf, tetapi saya tidak akan bisa memaafkan."
Ketiga pria tersebut ditahan dan didakwa pada Maret 2020 atas tuduhan mengekspor pengering semprot secara ilegal yang mampu memproduksi senjata biologis—ekspor yang mereka anggap legal.
Aishima didiagnosis menderita kanker progresif pada Oktober 2020, tetapi jaksa tetap menahannya, dengan alasan bahwa dia dapat menghilangkan barang bukti jika dibebaskan. Dia dirawat di rumah sakit sebulan kemudian.
Kedua rekannya dibebaskan pada Februari 2021 dengan syarat mereka tidak akan bertemu dengan Aishima, sehingga mereka tidak dapat menemuinya sebelum dia meninggal di bulan yang sama.
Jaksa kemudian membatalkan tuntutan, yang mendorong keluarga dan rekan-rekan Aishima untuk menuntut pihak berwenang.
Pengadilan Tinggi Tokyo memutuskan bahwa penyelidikan, penangkapan, dan dakwaan tersebut ilegal dan tidak didukung oleh bukti.
Pengacara keluarga, Tsuyoshi Takada, mengatakan dalam konferensi pers bahwa penahanan kedua pria tersebut—yang disahkan beberapa kali di pengadilan—"bukanlah kesalahan seorang hakim."
"Kita perlu mengubah sikap keliru semua hakim," ujarnya.
"Pengadilan harus belajar dari kejadian ini dan memikirkan apa yang dapat mereka lakukan agar tidak ada lagi korban 'keadilan sandera' di masa mendatang," paparnya, seperti dikutip AFP, Selasa (26/8/2025).
Shizuo Aishima, mantan penasihat perusahaan mesin Ohkawara Kakohki, adalah salah satu dari tiga eksekutif perusahaan yang ditahan secara ilegal dalam penahanan praperadilan selama berbulan-bulan atas tuduhan yang kemudian dibatalkan.
Para pegiat hak asasi manusia telah lama menuntut diakhirinya praktik "hostage justice [keadilan sandera]" di Jepang, di mana para penyidik menggunakan penahanan praperadilan yang panjang untuk memaksa pengakuan.
Baca Juga: Perempuan 19 Tahun Ini Lahirkan Anak Ke-5, Dokter Tegur Suaminya: Kamu Tak Kasihan Padanya?
Para pejabat senior dari kepolisian Tokyo, departemen kejaksaan umum tertinggi, dan kantor kejaksaan Tokyo mengunjungi keluarga dan makam Aishima pada hari Senin.
"Kami dengan tulus meminta maaf atas penyelidikan dan penangkapan yang ilegal ini," ujar Tetsuro Kamata, Wakil Kepala Kepolisian Metropolitan Tokyo, dalam pertemuan yang disiarkan televisi dengan keluarga tersebut.
Istri Aishima berkata, "Saya menerima permintaan maaf, tetapi saya tidak akan bisa memaafkan."
Ketiga pria tersebut ditahan dan didakwa pada Maret 2020 atas tuduhan mengekspor pengering semprot secara ilegal yang mampu memproduksi senjata biologis—ekspor yang mereka anggap legal.
Aishima didiagnosis menderita kanker progresif pada Oktober 2020, tetapi jaksa tetap menahannya, dengan alasan bahwa dia dapat menghilangkan barang bukti jika dibebaskan. Dia dirawat di rumah sakit sebulan kemudian.
Kedua rekannya dibebaskan pada Februari 2021 dengan syarat mereka tidak akan bertemu dengan Aishima, sehingga mereka tidak dapat menemuinya sebelum dia meninggal di bulan yang sama.
Jaksa kemudian membatalkan tuntutan, yang mendorong keluarga dan rekan-rekan Aishima untuk menuntut pihak berwenang.
Pengadilan Tinggi Tokyo memutuskan bahwa penyelidikan, penangkapan, dan dakwaan tersebut ilegal dan tidak didukung oleh bukti.
Pengacara keluarga, Tsuyoshi Takada, mengatakan dalam konferensi pers bahwa penahanan kedua pria tersebut—yang disahkan beberapa kali di pengadilan—"bukanlah kesalahan seorang hakim."
"Kita perlu mengubah sikap keliru semua hakim," ujarnya.
"Pengadilan harus belajar dari kejadian ini dan memikirkan apa yang dapat mereka lakukan agar tidak ada lagi korban 'keadilan sandera' di masa mendatang," paparnya, seperti dikutip AFP, Selasa (26/8/2025).
(mas)
Lihat Juga :