Siapa Ahn Hak-sop? Mantan Tawanan Perang yang Ingin Mati di Korea Utara dan Dijuluki Si Rambut Merah

Minggu, 24 Agustus 2025 - 14:40 WIB
loading...
Siapa Ahn Hak-sop? Mantan...
Ahn Hak-sop ingin kembali ke Korea Utara setelah dipenjara puluhan tahun di Korea Selatan. Foto/X/@RTSG_News
A A A
SEOUL - Pada suatu pagi yang terik di awal pekan ini, kerumunan yang luar biasa besar berkumpul di Stasiun Imjingang – pemberhentian terakhir di jalur kereta bawah tanah metropolitan Seoul yang paling dekat dengan Korea Utara. Ada puluhan aktivis dan petugas polisi, perhatian mereka tertuju pada satu orang: Ahn Hak-sop, mantan tawanan perang Korea Utara berusia 95 tahun yang sedang dalam perjalanan pulang, ke seberang perbatasan yang membelah semenanjung Korea.

Itulah yang disebut Ahn sebagai perjalanan terakhirnya – ia ingin kembali ke Korea Utara untuk dimakamkan di sana, setelah menghabiskan sebagian besar hidupnya di Korea Selatan, sebagian besar di luar kehendaknya.

Ia tak pernah berhasil menyeberang: ia ditolak, seperti yang sudah diduga karena pemerintah Korea Selatan mengatakan mereka tidak punya cukup waktu untuk melakukan pengaturan yang diperlukan.

Namun, Ahn datang sedekat mungkin.

Melemah akibat edema paru (penumpukan cairan di paru-paru), ia tak sanggup berjalan kaki 30 menit dari stasiun ke Jembatan Unifikasi—atau Tongil Dae-gyo—salah satu dari sedikit jalur yang menghubungkan Korea Selatan dengan Korea Utara.

Maka, ia keluar dari mobil sekitar 200 meter dari jembatan dan berjalan kaki di bagian terakhir, diapit oleh dua pendukung yang menenangkannya.

Siapa Ahn Hak-sop? Mantan Tawanan Perang yang Ingin Mati di Korea Utara dan Dijuluki Si Rambut Merah

1. Ingin Meninggal di Tanah yang Merdeka

Ia kembali sambil memegang bendera Korea Utara, pemandangan yang jarang terlihat dan sangat mengejutkan di Korea Selatan, dan berbicara kepada para wartawan dan sekitar 20 sukarelawan yang datang untuk memberikan dukungan.

"Saya hanya ingin jenazah saya beristirahat di tanah yang benar-benar merdeka," katanya, dilansir BBC. "Tanah yang bebas dari imperialisme."

Baca Juga: Lebanon Mulai Kumpulkan Senjata dari Kamp-kamp Pengungsi Palestina

2. Ditangkap pada Usia 23 Tahun

Ahn Hak-sop berusia 23 tahun ketika ia ditangkap oleh Korea Selatan.

Tiga tahun sebelumnya, ia masih duduk di bangku SMA ketika penguasa Korea Utara saat itu, Kim Il-sung, menyerang Korea Selatan. Kim, yang ingin menyatukan kembali kedua Korea, menggalang dukungan rakyat senegaranya dengan mengklaim bahwa Korea Selatan telah memulai serangan tahun 1950.

Ahn termasuk di antara mereka yang mempercayai hal ini. Ia bergabung dengan Tentara Rakyat Korea Utara pada tahun 1952 sebagai perwira penghubung, dan kemudian ditugaskan ke sebuah unit yang dikirim ke Korea Selatan.

Ia ditangkap pada bulan April 1953, tiga bulan sebelum gencatan senjata, dan dijatuhi hukuman penjara seumur hidup pada tahun yang sama. Ia dibebaskan lebih dari 42 tahun kemudian karena pengampunan khusus pada hari kemerdekaan Korea.

3. Dicap Rambut Merah dan Sulit Cari Kerja di Korea Selatan

Seperti banyak tahanan Korea Utara lainnya, Ahn juga dicap "berambut merah", sebuah referensi terhadap simpati komunisnya, dan ia kesulitan mencari pekerjaan yang layak.

Itu tidak mudah, katanya kepada BBC dalam wawancara sebelumnya di bulan Juli. Pemerintah tidak banyak membantu pada awalnya, katanya, para agen mengikutinya selama bertahun-tahun. Ia menikah, dan bahkan mengasuh seorang anak, tetapi ia tidak pernah merasa benar-benar diterima.

Selama ini, ia menetap di sebuah desa kecil di Gimpo, desa terdekat yang dapat ditinggali warga sipil di perbatasan dengan Korea Utara.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Gunakan Semut Jadi Hiasan...
Gunakan Semut Jadi Hiasan Makanan, Pemilik Restoran Berbintang Michelin Ini Dipenjara
Langka, Sekutu AS Minta...
Langka, Sekutu AS Minta Tolong Korut Cari Tentara Seoul yang Hilang di Perbatasan
Setelah Bikin Marah...
Setelah Bikin Marah Kim Jong-un, Korut Sukes Tembakkan Rudal dari Kapal Perang 5.000 Ton
Indonesia Lunasi Proyek...
Indonesia Lunasi Proyek Jet Tempur KF-21 Korsel Rp6,9 Triliun, Dapat Transfer Teknologi Apa?
Korut Tuding Jepang...
Korut Tuding Jepang Berubah Jadi Negara Perang, Apa Pemicunya?
Pembangkang China Ini...
Pembangkang China Ini Kabur ke Korea Selatan dengan Perahu Karet, Sekarang Muncul di Kanada
10 Negara Paling Cocok...
10 Negara Paling Cocok untuk Solo Traveling, Aman dan Ramah Wisatawan
Korban Tewas Gempa Venezuela...
Korban Tewas Gempa Venezuela Tembus 5.208 Jiwa, 16.740 Orang Terluka
Pasukan Israel Ditipu...
Pasukan Israel Ditipu Pimpinan, Dikirim Perang dengan Jumlah Personel dan Tank Tak Sesuai Janji
Rekomendasi
Momen Keakraban Cak...
Momen Keakraban Cak Imin, Dasco, dan Angela Tanoesoedibjo di Harlah ke-28 PKB
Perjalanan Rapat Istana...
Perjalanan Rapat Istana Sempat Tertunda, Mentan Amran Turun Tangan Selamatkan Korban Kecelakaan
Kemitraan untuk Meningkatkan...
Kemitraan untuk Meningkatkan Kualitas Layanan buat Nasabah
Berita Terkini
Getol Kritik Netanyahu,...
Getol Kritik Netanyahu, Wali Kota New York Mamdani dan Istri Terima Ancaman Pembunuhan
Pemimpin Baru Hamas...
Pemimpin Baru Hamas Ungkap 6 Prioritas, Agenda Utama Akhiri Serangan Israel di Gaza
Selamat dari Serangan...
Selamat dari Serangan di Selat Hormuz, 3 Pelaut Thailand Gugat Pemilik Kapal
IRGC pada Warga Kuwait:...
IRGC pada Warga Kuwait: Amerika Serikat, Bukan Iran, yang Langgar Kedaulatan Anda
AS Terus Serang Iran...
AS Terus Serang Iran tapi Malah Ketakutan, Peringatkan Warganya di Seluruh Dunia
Menlu Rubio Klaim Iran...
Menlu Rubio Klaim Iran Memohon Kesepakatan dengan AS, Ancam 1 Kepala untuk 1 Mata
Infografis
Dokumen CIA Prediksi...
Dokumen CIA Prediksi Siapa Pemenang Perang India dan Pakistan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved