Mesir Berikan Izin Tinggal pada Para Pemimpin Utama Jihad Islam dan PFLP
Sabtu, 23 Agustus 2025 - 00:01 WIB
loading...
Ziad Al-Nakhaleh, Sekretaris Jenderal gerakan Jihad Islam Palestina. Foto/memo
A
A
A
KAIRO - Otoritas Mesir baru-baru ini memberikan izin bagi dua pemimpin terkemuka Palestina untuk pindah dari Suriah ke Mesir. Kabar itu diungkap Quds Press yang mengutip sumber-sumber Palestina.
Tokoh yang dimaksud adalah Ziad Nakhaleh, Sekretaris Jenderal Gerakan Jihad Islam, dan Jamil Mazhar, Wakil Sekretaris Jenderal Front Populer untuk Pembebasan Palestina (PFLP). Keduanya telah tinggal di Suriah dan telah menyatakan keinginan mereka untuk pindah ke Mesir.
Selain itu, otoritas Mesir sedang meninjau permintaan dari Dr. Talal Naji, Sekretaris Jenderal Front Populer untuk Pembebasan Palestina – Komando Umum, yang juga ingin tinggal di Kairo.
Permintaan ini menyusul insiden pada bulan Mei ketika otoritas Suriah meminta Naji untuk meninggalkan negara itu setelah menahannya selama beberapa jam.
Pembebasannya difasilitasi melalui intervensi Khaled Meshaal, pemimpin gerakan Hamas di luar negeri.
Setelah dibebaskan, otoritas Suriah dilaporkan memberi tahu Naji bahwa, "Kondisi politik dan keamanan tidak memungkinkannya untuk tetap tinggal di negara itu."
Naji, yang kini berusia 79 tahun, berimigrasi bersama keluarganya dari Nazareth di Palestina utara yang diduduki ke Damaskus pada tahun 1948, ketika ia baru berusia dua tahun. Artinya, ia telah menghabiskan sekitar 77 tahun di Suriah.
Baca juga: 10 Alasan Israel Selalu Gagal Menaklukkan Gaza
Tokoh yang dimaksud adalah Ziad Nakhaleh, Sekretaris Jenderal Gerakan Jihad Islam, dan Jamil Mazhar, Wakil Sekretaris Jenderal Front Populer untuk Pembebasan Palestina (PFLP). Keduanya telah tinggal di Suriah dan telah menyatakan keinginan mereka untuk pindah ke Mesir.
Selain itu, otoritas Mesir sedang meninjau permintaan dari Dr. Talal Naji, Sekretaris Jenderal Front Populer untuk Pembebasan Palestina – Komando Umum, yang juga ingin tinggal di Kairo.
Permintaan ini menyusul insiden pada bulan Mei ketika otoritas Suriah meminta Naji untuk meninggalkan negara itu setelah menahannya selama beberapa jam.
Pembebasannya difasilitasi melalui intervensi Khaled Meshaal, pemimpin gerakan Hamas di luar negeri.
Setelah dibebaskan, otoritas Suriah dilaporkan memberi tahu Naji bahwa, "Kondisi politik dan keamanan tidak memungkinkannya untuk tetap tinggal di negara itu."
Naji, yang kini berusia 79 tahun, berimigrasi bersama keluarganya dari Nazareth di Palestina utara yang diduduki ke Damaskus pada tahun 1948, ketika ia baru berusia dua tahun. Artinya, ia telah menghabiskan sekitar 77 tahun di Suriah.
Baca juga: 10 Alasan Israel Selalu Gagal Menaklukkan Gaza
(sya)
Lihat Juga :