10 Alasan Israel Selalu Gagal Menaklukkan Gaza

Jum'at, 22 Agustus 2025 - 14:37 WIB
loading...
10 Alasan Israel Selalu...
Israel menggelar operasi darat di Kota Gaza. Foto/anadolu
A A A
GAZA - Sejak meletusnya berbagai putaran konflik antara Israel dan kelompok bersenjata di Gaza—mulai dari operasi besar pada 2008 hingga perang berkepanjangan pasca serangan 7 Oktober 2023—Israel berulang kali menyatakan tujuan untuk “menaklukkan” atau setidaknya menetralkan kekuatan Hamas di wilayah yang kecil namun sangat padat itu. Namun tujuan itu selalu gagal hingga saat ini.

Meski mengerahkan kekuatan militer modern, teknologi canggih, dan dukungan dari sekutu utama Amerika Serikat (AS) dan negara-negara Barat, Israel selalu gagal mencapai kemenangan total.

Gaza tetap bertahan sebagai pusat perlawanan, bahkan setelah gempuran udara, operasi darat, dan pengepungan yang menghancurkan infrastruktur sipil maupun militer.

Kegagalan ini tidak semata-mata disebabkan oleh faktor militer, tetapi juga oleh kompleksitas sosial, politik, hukum internasional, hingga dinamika regional yang membuat “penaklukan Gaza” menjadi misi yang hampir mustahil dicapai dengan senjata saja.

Alasan Israel Selalu Gagal Menaklukkan Gaza

1. Medan Tempur Gaza: Terowongan Bawah Tanah Hamas

Gaza adalah salah satu area perkotaan terpadat di dunia. Bertempur di “dense urban terrain” dikenal sebagai jenis perang paling sulit: garis pandang pendek, banyak titik tembak dari gedung ke gedung, risiko jebakan 360°, serta kebutuhan infanteri besar untuk menguasai tiap blok dan mempertahankannya dari serangan balik kecil namun berulang.

Analis militer menekankan, di lingkungan seperti ini, keuntungan teknologi modern menyusut karena kontak dekat meminimalkan manfaat ISR dan daya tembak jarak jauh.

Kesulitan itu berlipat karena Gaza punya jaringan terowongan bawah tanah (“Gaza metro”) yang sangat luas, berlapis, dan saling terhubung dengan ribuan lubang akses yang muncul di dalam rumah, masjid, sekolah, dan fasilitas sipil.

Estimasi kredibel menempatkan panjang jaringan antara 350–450 mil (560–720 km), bahkan ada estimasi 500–600 km; kedalaman bervariasi dari beberapa meter hingga puluhan meter, diperkuat beton, dialiri listrik/ventilasi, dan dipakai untuk manuver, komando, penyimpanan, serta menahan sandera.

Menghancurkan terowongan memakan waktu, logistik, dan amunisi khusus; menutup satu poros sering melahirkan tiga poros baru.

Ini membuat “penguasaan wilayah” di atas permukaan tidak pernah berarti penghancuran kemampuan tempur di bawah tanah.

2. Tujuan Perang Israel yang Berubah-ubah dan Ambigu


Sejak awal, Israel menyatakan tujuan “menghancurkan Hamas” sekaligus membebaskan sandera, menghentikan tembakan roket, dan menciptakan tatanan baru di Gaza.

Dalam praktiknya, tujuan-tujuan ini sering berbenturan—misalnya, operasi intensif untuk memburu komando Hamas meningkatkan risiko bagi sandera; sementara penghentian operasi untuk memberi ruang negosiasi menyisakan kantong-kantong Hamas tetap utuh.

Ketika tujuan bergerak antara penghukuman, pembasmian, deteren, dan rekayasa politik, desain kampanye sulit konsisten dan garis “akhir kemenangan” kabur.

Lembaga think-tank internasional dan Israel sendiri menyoroti, menekan kemampuan Hamas secara militer bisa dilakukan, tetapi “mengeliminasi” total organisasi di ekosistem Gaza tanpa arsitektur politik penerus nyaris mustahil.

Kekaburan “siapa memerintah Gaza setelah perang” menjadi penghambat strategis utama. Washington berulang kali menekan agar ada rencana “day-after”; berbagai skema digodok—dari tata kelola internasional sementara, pemerintah teknokrat, hingga peran Otoritas Palestina (PA)—namun tidak ada konsensus operasional yang diterapkan.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Israel Danai Pemukim...
Israel Danai Pemukim Ekstremis, Bayar Rp34 Miliar Per Bulan
Hamas Sambut Baik Kesepakatan...
Hamas Sambut Baik Kesepakatan AS-Iran, Serukan Penghentian Serangan di Gaza dan Lebanon
Israel Tak Akan Mundur...
Israel Tak Akan Mundur dari Suriah, Gaza dan Lebanon
Apa Itu Front Kedelapan...
Apa Itu Front Kedelapan Israel? Propaganda Digital terhadap Politikus Pro-Palestina
Hamas Peringatkan Israel...
Hamas Peringatkan Israel Perluas Garis Kuning Gaza untuk Gagalkan Perundingan Gencatan Senjata
Militer AS Bangun Pangkalan...
Militer AS Bangun Pangkalan Baru di Dekat Perbatasan Gaza untuk Dukung Rencana Pasca-Perang
Dewan Pers Minta Pemerintah...
Dewan Pers Minta Pemerintah Tempuh Jalur Diplomatik Bebaskan Jurnalis yang Ditangkap Israel
Iran-AS Capai Kesepakatan...
Iran-AS Capai Kesepakatan Damai, Israel Tolak Tarik Pasukan dari Lebanon
Pangeran George Resmi...
Pangeran George Resmi Masuk Eton College, Biayanya Rp1,4 Miliar per Tahun!
Rekomendasi
Besok Eksekusi Lahan...
Besok Eksekusi Lahan Hotel Sultan, Sejumlah Akses Menuju GBK Ditutup
Bangun BRT Metropolitan...
Bangun BRT Metropolitan Cekungan Bandung, Brantas Abipraya Dukung Transformasi Transportasi
Dikhianati Suami, Shiena...
Dikhianati Suami, Shiena Bangkit Bongkar Perselingkuhan di Microdrama V+Short Replaceable
Berita Terkini
IRGC Seharusnya Jadi...
IRGC Seharusnya Jadi Teladan bagi Negara Muslim di Seluruh Dunia
G7 Kini Fokus Memusuhi...
G7 Kini Fokus Memusuhi Rusia, Trump: Ini Perang yang Mudah Diselesaikan
Pasokan Senjata Rapuh,...
Pasokan Senjata Rapuh, Presiden Trump Dorong Produksi Massal
Fregat Rusia Tembaki...
Fregat Rusia Tembaki Kapal Pesiar Inggris, Starmer: Tindakan Sembrono
2 Pesawat Pengebom Nuklir...
2 Pesawat Pengebom Nuklir dari 2 Negara Adikuasa yang Bermusuhan Jatuh di Hari yang Sama
AS dan Iran Berdamai,...
AS dan Iran Berdamai, MBS: Semua untuk Kepentingan Bersama
Infografis
10 Negara Penguasa Cadangan...
10 Negara Penguasa Cadangan Logam Tanah Jarang Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved