Operasi Israel di Kota Gaza Awal Pembersihan Etnis, Palang Merah Internasional Murka
Kamis, 21 Agustus 2025 - 19:35 WIB
loading...
Warga Palestina meninggalkan Kota Gaza menjelang operasi darat militer Israel. Foto/anadolu
A
A
A
JALUR GAZA - Langkah pemerintah Israel melanjutkan rencana ofensifnya di Kota Gaza, bahkan tanpa membahas proposal gencatan senjata terbaru yang ditanggapi positif oleh Hamas, menunjukkan Zionis "tidak berniat mengakhiri perang". Penilaian itu diungkap Gideon Levy, kolumnis surat kabar Israel, Haaretz.
"Tidak ada cara lain untuk menjelaskannya," ujar Levy kepada Al Jazeera. "Ada tawaran Hamas di atas meja dan Israel bahkan belum membahasnya.”
"Jadi, entah mereka (Israel) ingin memberikan tekanan lebih besar kepada Hamas, yang saya rasa tidak terlalu mungkin, atau mereka benar-benar serius ingin merebut kembali Kota Gaza, mendorong semua orang ke selatan dan kemudian menawarkan mereka untuk meninggalkan Jalur Gaza,” papar dia.
"Itulah awal dari pembersihan etnis di Gaza," ujar Levy.
“Operasi intensif Israel di Gaza yang bertujuan merebut Kota Gaza akan menyebabkan pertumpahan darah baru dan memperburuk situasi kemanusiaan,” tegas pernyataan Palang Merah.
"Meningkatnya permusuhan di Gaza berarti lebih banyak pembunuhan, lebih banyak pengungsian, lebih banyak kehancuran, dan lebih banyak kepanikan," ujar Christian Cardon, juru bicara utama Komite Palang Merah Internasional (ICRC).
"Gaza adalah ruang tertutup, yang darinya tak seorang pun bisa melarikan diri ... dan di mana akses terhadap layanan kesehatan, makanan, dan air bersih semakin menipis," papar Cardon.
"Sementara itu, keamanan para pekerja kemanusiaan semakin memburuk setiap jamnya," tambah juru bicara itu. "Ini tak tertolerir."
Cardon telah mengambil peran aktif dalam kegiatan kemanusiaan Palang Merah di lapangan dan telah terlibat dalam setiap pertukaran tawanan Israel yang diambil Hamas dalam serangan kelompok tersebut pada 7 Oktober 2023.
Baca juga: Israel Lancarkan Serangan Tahap Pertama untuk Menduduki Kota Gaza
"Tidak ada cara lain untuk menjelaskannya," ujar Levy kepada Al Jazeera. "Ada tawaran Hamas di atas meja dan Israel bahkan belum membahasnya.”
"Jadi, entah mereka (Israel) ingin memberikan tekanan lebih besar kepada Hamas, yang saya rasa tidak terlalu mungkin, atau mereka benar-benar serius ingin merebut kembali Kota Gaza, mendorong semua orang ke selatan dan kemudian menawarkan mereka untuk meninggalkan Jalur Gaza,” papar dia.
"Itulah awal dari pembersihan etnis di Gaza," ujar Levy.
“Operasi intensif Israel di Gaza yang bertujuan merebut Kota Gaza akan menyebabkan pertumpahan darah baru dan memperburuk situasi kemanusiaan,” tegas pernyataan Palang Merah.
"Meningkatnya permusuhan di Gaza berarti lebih banyak pembunuhan, lebih banyak pengungsian, lebih banyak kehancuran, dan lebih banyak kepanikan," ujar Christian Cardon, juru bicara utama Komite Palang Merah Internasional (ICRC).
"Gaza adalah ruang tertutup, yang darinya tak seorang pun bisa melarikan diri ... dan di mana akses terhadap layanan kesehatan, makanan, dan air bersih semakin menipis," papar Cardon.
"Sementara itu, keamanan para pekerja kemanusiaan semakin memburuk setiap jamnya," tambah juru bicara itu. "Ini tak tertolerir."
Cardon telah mengambil peran aktif dalam kegiatan kemanusiaan Palang Merah di lapangan dan telah terlibat dalam setiap pertukaran tawanan Israel yang diambil Hamas dalam serangan kelompok tersebut pada 7 Oktober 2023.
Baca juga: Israel Lancarkan Serangan Tahap Pertama untuk Menduduki Kota Gaza
(sya)
Lihat Juga :