Kenapa Selandia Baru Menghapus Bahasa Maori dari Buku Pelajaran Anak Sekolahnya?
Rabu, 20 Agustus 2025 - 13:15 WIB
loading...
Buku anak dengan bahasa Maori di Selandia Baru. Foto/unravellingmag.com
A
A
A
WELLINGTON - Selandia Baru, atau Aotearoa dalam bahasa Māori, dikenal dunia sebagai negara yang menjunjung tinggi nilai biculturalism, yakni penghargaan setara terhadap budaya dan bahasa asli Māori serta budaya kolonial Inggris. Selama beberapa dekade terakhir, te reo Māori (bahasa Māori) tidak hanya diajarkan di sekolah-sekolah, tetapi juga diintegrasikan ke dalam kehidupan publik: papan nama jalan, salam resmi, hingga media massa.
Namun, pada tahun 2025, keputusan mengejutkan datang dari Kementerian Pendidikan yang memutuskan menghapus kata-kata Māori dari buku bacaan awal untuk anak-anak sekolah dasar dalam program literasi “Ready to Read Phonics Plus”, kecuali jika kata tersebut merupakan nama tokoh atau konteks cerita yang sangat spesifik.
Kebijakan ini menuai kontroversi besar, dengan pemerintah beralasan tujuan utamanya adalah meningkatkan keterampilan membaca bahasa Inggris anak-anak melalui pendekatan fonetik terstruktur (structured literacy), sedangkan pihak Māori, para pendidik, dan aktivis bahasa menilainya sebagai langkah mundur yang berbahaya terhadap upaya revitalisasi bahasa asli.
Argumen utama pemerintah adalah anak-anak harus terlebih dahulu memiliki dasar fonetik yang kuat dalam bahasa Inggris sebelum diperkenalkan dengan sistem bahasa lain.
Pendekatan baru “structured literacy” mengutamakan penguasaan huruf, bunyi, dan ejaan bahasa Inggris.
Dengan memasukkan kata-kata Māori yang memiliki pola fonetik berbeda, anak-anak dianggap bisa mengalami kebingungan, misalnya pada huruf vokal yang memiliki bunyi berbeda dalam bahasa Inggris dan Māori.
Contoh: huruf “a” dalam bahasa Inggris bisa berbunyi /æ/ (cat), sedangkan dalam Māori selalu /a/ (seperti “car”).
Pemerintah menilai perbedaan ini berpotensi memperlambat anak-anak dalam memahami fonetik bahasa Inggris.
Kementerian Pendidikan berpendapat buku bacaan awal harus seragam secara fonetik dan konsisten dengan kurikulum literasi nasional.
Dengan menyingkirkan kata-kata Māori, pemerintah ingin memastikan konsistensi fonetik agar anak-anak lebih cepat memahami aturan dasar membaca dalam bahasa Inggris.
Buku “Ready to Read Phonics Plus” adalah materi utama literasi di sekolah dasar. Dengan menghapus kata Māori, pemerintah ingin menjadikannya lebih fokus pada satu bahasa, sementara materi bilingual atau Māori tetap bisa diajarkan di kelas atau buku terpisah.
Banyak guru, terutama yang tidak menguasai bahasa Māori, merasa kesulitan saat harus mengajarkan kata-kata Māori di kelas literasi bahasa Inggris.
Guru khawatir terjadi kesalahan pengucapan, atau waktu belajar habis hanya untuk menjelaskan arti kata Māori. Pemerintah menganggap kebijakan ini membantu guru fokus pada pengajaran inti.
Sejumlah kelompok orang tua menyatakan anak-anak mereka mengalami kesulitan membaca karena harus belajar dua sistem bahasa sekaligus.
Beberapa pihak konservatif bahkan menganggap bilingualisme dipaksakan terlalu cepat dan mengorbankan kualitas literasi bahasa Inggris.
Tekanan publik ini menjadi salah satu faktor politik yang memengaruhi keputusan pemerintah.
Baca juga: Mesir Sangkal Laporan Proposal Pelucutan Senjata Hamas
Namun, pada tahun 2025, keputusan mengejutkan datang dari Kementerian Pendidikan yang memutuskan menghapus kata-kata Māori dari buku bacaan awal untuk anak-anak sekolah dasar dalam program literasi “Ready to Read Phonics Plus”, kecuali jika kata tersebut merupakan nama tokoh atau konteks cerita yang sangat spesifik.
Kebijakan ini menuai kontroversi besar, dengan pemerintah beralasan tujuan utamanya adalah meningkatkan keterampilan membaca bahasa Inggris anak-anak melalui pendekatan fonetik terstruktur (structured literacy), sedangkan pihak Māori, para pendidik, dan aktivis bahasa menilainya sebagai langkah mundur yang berbahaya terhadap upaya revitalisasi bahasa asli.
Alasan Pemerintah Menghapus Bahasa Māori
1. Fokus pada Literasi Bahasa Inggris
Argumen utama pemerintah adalah anak-anak harus terlebih dahulu memiliki dasar fonetik yang kuat dalam bahasa Inggris sebelum diperkenalkan dengan sistem bahasa lain.
Pendekatan baru “structured literacy” mengutamakan penguasaan huruf, bunyi, dan ejaan bahasa Inggris.
Dengan memasukkan kata-kata Māori yang memiliki pola fonetik berbeda, anak-anak dianggap bisa mengalami kebingungan, misalnya pada huruf vokal yang memiliki bunyi berbeda dalam bahasa Inggris dan Māori.
Contoh: huruf “a” dalam bahasa Inggris bisa berbunyi /æ/ (cat), sedangkan dalam Māori selalu /a/ (seperti “car”).
Pemerintah menilai perbedaan ini berpotensi memperlambat anak-anak dalam memahami fonetik bahasa Inggris.
2. Standarisasi Buku Bacaan
Kementerian Pendidikan berpendapat buku bacaan awal harus seragam secara fonetik dan konsisten dengan kurikulum literasi nasional.
Dengan menyingkirkan kata-kata Māori, pemerintah ingin memastikan konsistensi fonetik agar anak-anak lebih cepat memahami aturan dasar membaca dalam bahasa Inggris.
Buku “Ready to Read Phonics Plus” adalah materi utama literasi di sekolah dasar. Dengan menghapus kata Māori, pemerintah ingin menjadikannya lebih fokus pada satu bahasa, sementara materi bilingual atau Māori tetap bisa diajarkan di kelas atau buku terpisah.
3. Mengurangi Beban Guru
Banyak guru, terutama yang tidak menguasai bahasa Māori, merasa kesulitan saat harus mengajarkan kata-kata Māori di kelas literasi bahasa Inggris.
Guru khawatir terjadi kesalahan pengucapan, atau waktu belajar habis hanya untuk menjelaskan arti kata Māori. Pemerintah menganggap kebijakan ini membantu guru fokus pada pengajaran inti.
4. Menjawab Kekhawatiran Orang Tua
Sejumlah kelompok orang tua menyatakan anak-anak mereka mengalami kesulitan membaca karena harus belajar dua sistem bahasa sekaligus.
Beberapa pihak konservatif bahkan menganggap bilingualisme dipaksakan terlalu cepat dan mengorbankan kualitas literasi bahasa Inggris.
Tekanan publik ini menjadi salah satu faktor politik yang memengaruhi keputusan pemerintah.
Baca juga: Mesir Sangkal Laporan Proposal Pelucutan Senjata Hamas
(sya)
Lihat Juga :