Probiotik Menjadi Menu Makan Siang Favorit Anak Sekolah di Jepang
Kamis, 14 Agustus 2025 - 17:01 WIB
loading...
A
A
A
Tibalah waktu makan siang. Anak anak sekolah Homei masing masing mengambil piring kosong kemudian antre dengan tertib mengambil menu yang sudah disediakan di depan kelas. Setelah itu anak anak kembali ke temnpat duduk masing-masing untuk makan siang bersama. Guru kelas juga ikut dalam makan siang bersama ini dengan menu yang sama.
Setelah selesai mereka mengembalikan piring kosong ke tempat yang sudah disediakan. Nyaris tidak ada sisa makanan yang terbuang. Dari sini nampak bahwa program makan siang selain memastikan asupan gizi yang tepat, juga mendidik anak untuk berdisiplin dalam mengambil makanan dan memupuk rasa kebersamaan di kelas.
![Probiotik Menjadi Menu Makan Siang Favorit Anak Sekolah di Jepang]()
Delegasi Yakult Indonesia di Pabrik Ibaraki.
Makan bergizi gratis yang dimulai sejak tahun lalu di Indonesia adalah program yang baik. Tapi bisa belajar dari berbagai tempat, termasuk di Jepang bahwa diperlukan pengawasan dan kontrol yang baik dari ahli gizi, sehingga tujuan menciptakan generasi sehat dan tangguh yang bebas stunting bisa terwujud.
“Kami sangat concern dengan program ini. Karena itu kami mengajak melihat langsung program yang sama di Jepang yang ternyata sudah berjalan ratusan tahun lalu,” kata Antonius Nababan, pemimpin rombongan delegasi Yakult Indonesia.
Tiga Prinsip Ajaran Shirotaisme
Selama sepakan di Jepang, para delegasi dari berbagai negara diajak melihat langsung pabrik Ibaraki dan pusat riset Yakult Central Institute di Tokyo. Termasuk pengembangan Yakult Beauty, produk khusus untuk kosmetik dan kecantikan.
Yakult pertama kali diproduksi dan dipasarkan di Jepang tahun 1935 oleh penemunya Dr Minoru Shirota. Shirota adalah seorang ilmuwan yang sangat tekun meneliti dan berhasil membudidayakan bakteri baik Lactobacillius Casei Shirota (LCS) dari minuman susu fermentasi.
![Probiotik Menjadi Menu Makan Siang Favorit Anak Sekolah di Jepang]()
Delegasi Yakult Indonesia di Yakult Central Institute, pusat riset Yakult.
Penelitian ini dilakukan Shirota setelah melihat wilayah desanya diserang penyakit dan banyak yang meninggal dunia. Dia kemudian bertekad melakukan penelitian untuk mencegah masyarakat dari penyakit.
Bakteri LCS ternyata sangat bermanfaat untuk kesehatan usus manusia dan meningkatkan kekebalan tubuh. Pada 1955 perusahaan Yakult Honsha Co., Ltd. didirikan untuk memproduksi secara massal dan memasarkan produk Yakult secara luas.
Ada tiga prinsip Dr Shirota yang hingga kini terpatri sebagai nilai nilai perusahaan. Mudahnya disebut dengan Shirotaisme. Pertama, prinsip pencegahan penyakit. Intinya mencegah penyakit lebih diutamakan daripada mengobatinya.
Kedua, prinsip kesehatan usus memperpajang umur. Ketiga, prinsip kesehatan dengan harga terjangkau oleh semua lapisan masyarakat. Ketiga pokok ajaran ini yang membuat penetrasi Yakult dengan minuman probiotiknya per hari ini telah diproduksi dan dipasarkan di 40 negara, termasuk di Indonesia.
Menilik data tahun fiskal 2023, setiap hari 40 juta manusia di dunia mengkonsumsi minuman probiotik dari susu fermentasi ini. Sedangkan jumlah Yakult yang terjual setiap hari mencapai 5,82 juta botol di benua Amerika, 10,61 juta botol di Jepang, 22,37 juta botol di Asia Oseania, dan di Eropa 0,61 juta botol (data 2023).
Setelah selesai mereka mengembalikan piring kosong ke tempat yang sudah disediakan. Nyaris tidak ada sisa makanan yang terbuang. Dari sini nampak bahwa program makan siang selain memastikan asupan gizi yang tepat, juga mendidik anak untuk berdisiplin dalam mengambil makanan dan memupuk rasa kebersamaan di kelas.

Delegasi Yakult Indonesia di Pabrik Ibaraki.
Makan bergizi gratis yang dimulai sejak tahun lalu di Indonesia adalah program yang baik. Tapi bisa belajar dari berbagai tempat, termasuk di Jepang bahwa diperlukan pengawasan dan kontrol yang baik dari ahli gizi, sehingga tujuan menciptakan generasi sehat dan tangguh yang bebas stunting bisa terwujud.
“Kami sangat concern dengan program ini. Karena itu kami mengajak melihat langsung program yang sama di Jepang yang ternyata sudah berjalan ratusan tahun lalu,” kata Antonius Nababan, pemimpin rombongan delegasi Yakult Indonesia.
Tiga Prinsip Ajaran Shirotaisme
Selama sepakan di Jepang, para delegasi dari berbagai negara diajak melihat langsung pabrik Ibaraki dan pusat riset Yakult Central Institute di Tokyo. Termasuk pengembangan Yakult Beauty, produk khusus untuk kosmetik dan kecantikan.
Yakult pertama kali diproduksi dan dipasarkan di Jepang tahun 1935 oleh penemunya Dr Minoru Shirota. Shirota adalah seorang ilmuwan yang sangat tekun meneliti dan berhasil membudidayakan bakteri baik Lactobacillius Casei Shirota (LCS) dari minuman susu fermentasi.

Delegasi Yakult Indonesia di Yakult Central Institute, pusat riset Yakult.
Penelitian ini dilakukan Shirota setelah melihat wilayah desanya diserang penyakit dan banyak yang meninggal dunia. Dia kemudian bertekad melakukan penelitian untuk mencegah masyarakat dari penyakit.
Bakteri LCS ternyata sangat bermanfaat untuk kesehatan usus manusia dan meningkatkan kekebalan tubuh. Pada 1955 perusahaan Yakult Honsha Co., Ltd. didirikan untuk memproduksi secara massal dan memasarkan produk Yakult secara luas.
Ada tiga prinsip Dr Shirota yang hingga kini terpatri sebagai nilai nilai perusahaan. Mudahnya disebut dengan Shirotaisme. Pertama, prinsip pencegahan penyakit. Intinya mencegah penyakit lebih diutamakan daripada mengobatinya.
Kedua, prinsip kesehatan usus memperpajang umur. Ketiga, prinsip kesehatan dengan harga terjangkau oleh semua lapisan masyarakat. Ketiga pokok ajaran ini yang membuat penetrasi Yakult dengan minuman probiotiknya per hari ini telah diproduksi dan dipasarkan di 40 negara, termasuk di Indonesia.
Menilik data tahun fiskal 2023, setiap hari 40 juta manusia di dunia mengkonsumsi minuman probiotik dari susu fermentasi ini. Sedangkan jumlah Yakult yang terjual setiap hari mencapai 5,82 juta botol di benua Amerika, 10,61 juta botol di Jepang, 22,37 juta botol di Asia Oseania, dan di Eropa 0,61 juta botol (data 2023).
Lihat Juga :