Jepang Peringati 80 Tahun Pengeboman Nagasaki, Enggan Sebut AS yang Jatuhkan Bom Atom
Minggu, 10 Agustus 2025 - 07:58 WIB
loading...
Jepang peringati 80 tahun pengeboman Nagasaki, tapi enggan sebut AS yang jatuhkan bom atom. Foto/Atomic Archive
A
A
A
TOKYO - Jepang dan PBB, dalam peringatan 80 tahun pengeboman Nagasaki, menghindari penyebutan Amerika Serikat (AS) sebagai pelaku yang menjatuhkan bom nuklir. Peringatan itu berlangsung pada Sabtu (9/8/2025).
Pada 9 Agustus 1945, AS menjatuhkan bom atom di Nagasaki setelah pada 6 Agustus 1945 bom atom juga dijatuhkan Amerika di Hiroshima—dua pengeboman nuklir yang memaksa Jepang menyerah tanpa syarat dalam Perang Dunia II.
Sikap pemerintah Jepang menghindari penyebutan peran Amerika dalam pengeboman atom Hiroshima dan Nagasaki berarti melanjutkan praktik lama dalam peringatan semacam itu.
Baca Juga: 80 Tahun Lalu AS Jatuhkan Bom Nuklir di Hiroshima, Rakyat Amerika antara Mendukung dan Menentang...
Pidato para pejabat Jepang berfokus pada kehancuran yang disebabkan oleh bom tersebut dan seruan untuk pelucutan senjata nuklir.
“Kita harus mewariskan sebagai kenangan apa yang terjadi di Jepang 80 tahun yang lalu—realitas dan tragedi perang, serta dampak brutal dari kerusakan yang ditimbulkan oleh bom atom,” ujar Perdana Menteri Jepang Ishiba Shigeru.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres, dalam pidato yang disampaikan oleh kepala perlucutan senjatanya, Izumi Nakamitsu, mendesak negara-negara seluruh dunia untuk “beralih dari kata-kata ke tindakan dengan memperkuat rezim perlucutan senjata global,” dengan Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT) sebagai intinya.
Wali Kota Nagasaki Shiro Suzuki, seperti dikutip Reuters, meminta para pemimpin dunia untuk menyajikan tindakan spesifik untuk mencapai penghapusan senjata nuklir.
AS tetap menjadi satu-satunya negara yang telah menggunakan senjata nuklir dalam peperangan–sebuah fakta yang juga tidak diakui dalam peringatan pengeboman atom Hiroshima pada hari Rabu lalu.
Serangan tersebut menewaskan sekitar 200.000 warga sipil dan telah dibela oleh para pejabat AS sebagai tindakan yang diperlukan untuk menghindari invasi yang merugikan. Namun, Survei Pengeboman Strategis AS tahun 1946 menyimpulkan bahwa Jepang akan menyerah bahkan jika bom atom tidak dijatuhkan.
Bulan lalu, AS melancarkan serangan udara terhadap tiga lokasi Iran yang terkait dengan program nuklir Teheran. Washington mengatakan serangan itu bertujuan untuk mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir, sebuah tujuan yang dibantah Teheran.
Berdasarkan NPT, para penandatangan, termasuk Republik Islam Iran, berhak menggunakan teknologi nuklir untuk tujuan damai. Beberapa negara, termasuk Rusia dan China, telah menuduh AS secara serius merusak upaya non-proliferasi global dengan serangannya terhadap fasilitas-fasilitas Iran.
Pada 9 Agustus 1945, AS menjatuhkan bom atom di Nagasaki setelah pada 6 Agustus 1945 bom atom juga dijatuhkan Amerika di Hiroshima—dua pengeboman nuklir yang memaksa Jepang menyerah tanpa syarat dalam Perang Dunia II.
Sikap pemerintah Jepang menghindari penyebutan peran Amerika dalam pengeboman atom Hiroshima dan Nagasaki berarti melanjutkan praktik lama dalam peringatan semacam itu.
Baca Juga: 80 Tahun Lalu AS Jatuhkan Bom Nuklir di Hiroshima, Rakyat Amerika antara Mendukung dan Menentang...
Pidato para pejabat Jepang berfokus pada kehancuran yang disebabkan oleh bom tersebut dan seruan untuk pelucutan senjata nuklir.
“Kita harus mewariskan sebagai kenangan apa yang terjadi di Jepang 80 tahun yang lalu—realitas dan tragedi perang, serta dampak brutal dari kerusakan yang ditimbulkan oleh bom atom,” ujar Perdana Menteri Jepang Ishiba Shigeru.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres, dalam pidato yang disampaikan oleh kepala perlucutan senjatanya, Izumi Nakamitsu, mendesak negara-negara seluruh dunia untuk “beralih dari kata-kata ke tindakan dengan memperkuat rezim perlucutan senjata global,” dengan Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT) sebagai intinya.
Wali Kota Nagasaki Shiro Suzuki, seperti dikutip Reuters, meminta para pemimpin dunia untuk menyajikan tindakan spesifik untuk mencapai penghapusan senjata nuklir.
AS tetap menjadi satu-satunya negara yang telah menggunakan senjata nuklir dalam peperangan–sebuah fakta yang juga tidak diakui dalam peringatan pengeboman atom Hiroshima pada hari Rabu lalu.
Serangan tersebut menewaskan sekitar 200.000 warga sipil dan telah dibela oleh para pejabat AS sebagai tindakan yang diperlukan untuk menghindari invasi yang merugikan. Namun, Survei Pengeboman Strategis AS tahun 1946 menyimpulkan bahwa Jepang akan menyerah bahkan jika bom atom tidak dijatuhkan.
Bulan lalu, AS melancarkan serangan udara terhadap tiga lokasi Iran yang terkait dengan program nuklir Teheran. Washington mengatakan serangan itu bertujuan untuk mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir, sebuah tujuan yang dibantah Teheran.
Berdasarkan NPT, para penandatangan, termasuk Republik Islam Iran, berhak menggunakan teknologi nuklir untuk tujuan damai. Beberapa negara, termasuk Rusia dan China, telah menuduh AS secara serius merusak upaya non-proliferasi global dengan serangannya terhadap fasilitas-fasilitas Iran.
(mas)
Lihat Juga :