80 Tahun Lalu AS Jatuhkan Bom Nuklir di Hiroshima, Rakyat Amerika antara Mendukung dan Menentang...
Kamis, 07 Agustus 2025 - 12:55 WIB
loading...
A
A
A
Beberapa akademisi menunjukkan bahwa faktor-faktor lain kemungkinan memainkan peran yang lebih besar dalam keputusan Jepang untuk menyerah, termasuk deklarasi perang Uni Soviet terhadap negara kepulauan itu pada 8 Agustus.
Yang lain berspekulasi apakah pengeboman tersebut sebagian besar dimaksudkan sebagai demonstrasi kekuatan saat AS bersiap untuk konfrontasinya dengan Uni Soviet dalam apa yang kemudian menjadi Perang Dingin.
Kisah dari para penyintas dan laporan-laporan media Jepang juga berperan dalam mengubah persepsi publik.
Profil enam korban karya John Hersey tahun 1946, misalnya, memenuhi satu edisi penuh majalah The New Yorker. Profil tersebut mencatat, dengan detail yang mengerikan, segala hal mulai dari kekuatan ledakan yang menghancurkan hingga demam, mual, dan kematian yang disebabkan oleh penyakit radiasi.
Pada tahun 1990, jajak pendapat Pew menemukan bahwa mayoritas penduduk AS yang menyetujui penggunaan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki menyusut. Hanya 53 persen yang merasa hal itu pantas.
Namun, bahkan di penghujung abad ke-20, warisan serangan tersebut tetap kontroversial di AS.
Untuk memperingati 50 tahun pengeboman pada tahun 1995, Museum Dirgantara dan Antariksa Nasional di Washington, DC, telah merencanakan sebuah pameran khusus.
Namun, pameran tersebut dibatalkan di tengah kemarahan publik atas beberapa bagian pameran yang mengeksplorasi pengalaman warga sipil Jepang dan perdebatan tentang penggunaan bom atom. Kelompok veteran AS berpendapat bahwa pameran tersebut meremehkan pengorbanan mereka, bahkan setelah mengalami revisi ekstensif.
“Pameran tersebut pada dasarnya masih mengatakan bahwa kami adalah agresor dan Jepang adalah korbannya,” ujar William Detweiler, seorang pemimpin di American Legion, sebuah kelompok veteran, kepada The Associated Press saat itu.
Anggota Kongres yang marah membuka penyelidikan, dan direktur museum mengundurkan diri.
Sementara itu, pameran tersebut tidak pernah dibuka untuk umum. Yang tersisa hanyalah pajangan Enola Gay, pesawat yang menjatuhkan bom atom pertama.
Erik Baker, dosen sejarah sains di Universitas Harvard, mengatakan bahwa perdebatan tentang bom atom seringkali menjadi representasi dari pertanyaan yang lebih besar tentang bagaimana AS menggunakan kekuasaannya di dunia.
"Yang dipertaruhkan adalah peran Perang Dunia II dalam melegitimasi sejarah kekaisaran Amerika selanjutnya, hingga saat ini," ujarnya kepada Al Jazeera.
Baker menjelaskan bahwa narasi AS tentang perannya dalam kekalahan Nazi Jerman dan Kekaisaran Jepang—"Poros" utama dalam Perang Dunia II—telah sering dirujuk untuk menegaskan kebenaran intervensi AS di seluruh dunia.
"Jika AS dibenarkan untuk tidak hanya berperang tetapi melakukan 'apa pun yang diperlukan' untuk mengalahkan kekuatan Poros, dengan alasan yang sama, tidak ada keberatan bagi AS untuk melakukan apa yang diperlukan untuk mengalahkan 'orang jahat' hari ini," imbuh dia.
Namun, seiring bertambahnya usia dan kematian generasi-generasi yang hidup melalui Perang Dunia II, pergeseran budaya muncul dalam cara berbagai kelompok usia menyikapi intervensi AS—dan penggunaan kekuatan—di luar negeri.
Skeptisisme ini terutama terasa di kalangan anak muda, yang sebagian besar telah menyatakan ketidakpuasan terhadap kebijakan seperti dukungan AS terhadap perang Israel di Gaza.
Yang lain berspekulasi apakah pengeboman tersebut sebagian besar dimaksudkan sebagai demonstrasi kekuatan saat AS bersiap untuk konfrontasinya dengan Uni Soviet dalam apa yang kemudian menjadi Perang Dingin.
Kisah dari para penyintas dan laporan-laporan media Jepang juga berperan dalam mengubah persepsi publik.
Profil enam korban karya John Hersey tahun 1946, misalnya, memenuhi satu edisi penuh majalah The New Yorker. Profil tersebut mencatat, dengan detail yang mengerikan, segala hal mulai dari kekuatan ledakan yang menghancurkan hingga demam, mual, dan kematian yang disebabkan oleh penyakit radiasi.
Pada tahun 1990, jajak pendapat Pew menemukan bahwa mayoritas penduduk AS yang menyetujui penggunaan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki menyusut. Hanya 53 persen yang merasa hal itu pantas.
Merasionalisasi Penggunaan Kekuatan AS
Namun, bahkan di penghujung abad ke-20, warisan serangan tersebut tetap kontroversial di AS.
Untuk memperingati 50 tahun pengeboman pada tahun 1995, Museum Dirgantara dan Antariksa Nasional di Washington, DC, telah merencanakan sebuah pameran khusus.
Namun, pameran tersebut dibatalkan di tengah kemarahan publik atas beberapa bagian pameran yang mengeksplorasi pengalaman warga sipil Jepang dan perdebatan tentang penggunaan bom atom. Kelompok veteran AS berpendapat bahwa pameran tersebut meremehkan pengorbanan mereka, bahkan setelah mengalami revisi ekstensif.
“Pameran tersebut pada dasarnya masih mengatakan bahwa kami adalah agresor dan Jepang adalah korbannya,” ujar William Detweiler, seorang pemimpin di American Legion, sebuah kelompok veteran, kepada The Associated Press saat itu.
Anggota Kongres yang marah membuka penyelidikan, dan direktur museum mengundurkan diri.
Sementara itu, pameran tersebut tidak pernah dibuka untuk umum. Yang tersisa hanyalah pajangan Enola Gay, pesawat yang menjatuhkan bom atom pertama.
Erik Baker, dosen sejarah sains di Universitas Harvard, mengatakan bahwa perdebatan tentang bom atom seringkali menjadi representasi dari pertanyaan yang lebih besar tentang bagaimana AS menggunakan kekuasaannya di dunia.
"Yang dipertaruhkan adalah peran Perang Dunia II dalam melegitimasi sejarah kekaisaran Amerika selanjutnya, hingga saat ini," ujarnya kepada Al Jazeera.
Baker menjelaskan bahwa narasi AS tentang perannya dalam kekalahan Nazi Jerman dan Kekaisaran Jepang—"Poros" utama dalam Perang Dunia II—telah sering dirujuk untuk menegaskan kebenaran intervensi AS di seluruh dunia.
"Jika AS dibenarkan untuk tidak hanya berperang tetapi melakukan 'apa pun yang diperlukan' untuk mengalahkan kekuatan Poros, dengan alasan yang sama, tidak ada keberatan bagi AS untuk melakukan apa yang diperlukan untuk mengalahkan 'orang jahat' hari ini," imbuh dia.
Kebangkitan Kecemasan Nuklir
Namun, seiring bertambahnya usia dan kematian generasi-generasi yang hidup melalui Perang Dunia II, pergeseran budaya muncul dalam cara berbagai kelompok usia menyikapi intervensi AS—dan penggunaan kekuatan—di luar negeri.
Skeptisisme ini terutama terasa di kalangan anak muda, yang sebagian besar telah menyatakan ketidakpuasan terhadap kebijakan seperti dukungan AS terhadap perang Israel di Gaza.
Lihat Juga :