AS Ingin Bangun Reaktor Nuklir Pertama di Bulan, Kalahkan Rusia dan China
Rabu, 06 Agustus 2025 - 13:29 WIB
loading...
Misi pendaratan bulan Blue Ghost. Foto/Firefly Aerospace/Global Look Press
A
A
A
WASHINGTON - Amerika Serikat (AS) sedang mempercepat rencana pembangunan reaktor nuklir di Bulan, menurut Politico. Para pejabat NASA dilaporkan telah diperintahkan meningkatkan upaya mengungguli Rusia dan China dalam perlombaan antariksa baru.
Arahan dari Penjabat Administrator NASA, Sean Duffy, menyerukan pengembangan reaktor fisi 100 kilowatt yang mampu beroperasi di Bulan pada tahun 2030, Politico melaporkan pada hari Senin. Langkah ini dibingkai sebagai bagian dari upaya strategis untuk supremasi antariksa.
"Ini tentang memenangkan perlombaan antariksa kedua," ujar seorang pejabat senior NASA kepada media tersebut.
Washington mengklaim kemenangan dalam perlombaan pertama melawan Uni Soviet setelah berhasil mendaratkan misi berawak di Bulan pada tahun 1969.
Menurut dokumen tersebut, yang juga dikutip oleh media lain, "sangat penting bagi badan tersebut untuk bergerak cepat" dalam mengamankan teknologi untuk eksplorasi di masa depan dan proyek-proyek keamanan nasional.
Memo tersebut memperingatkan jika negara lain berhasil mengerahkan reaktor bulan terlebih dahulu, negara tersebut dapat "mendeklarasikan zona terlarang yang secara signifikan akan menghambat Amerika Serikat."
Tenaga nuklir dipandang sebagai terobosan untuk eksplorasi ruang angkasa berkelanjutan. Rusia sedang mengembangkan reaktor berbasis ruang angkasanya sendiri untuk kapal tunda ruang angkasa bertenaga nuklir Zeus, yang sebelumnya dikenal sebagai Modul Transportasi dan Energi.
NASA sebelumnya mendanai pengembangan sistem fisi bulan berdaya 40 kilowatt, dengan memberikan masing-masing USD5 juta kepada tiga perusahaan untuk mempelajari kelayakannya.
Malam bulan yang panjang dan wilayah yang terlindung dari sinar matahari membuat energi matahari tidak dapat diandalkan, sehingga mendorong minat terhadap solusi alternatif.
Duffy, yang juga menjabat sebagai menteri transportasi, ditunjuk sebagai pelaksana tugas kepala NASA bulan lalu oleh Presiden AS Donald Trump.
Di bawah pemerintahan Trump, fokus badan tersebut telah bergeser ke misi berawak ke Bulan dan Mars, sementara pendanaan untuk misi sains robotik telah dikurangi sebagai bagian dari pemotongan anggaran pemerintah yang lebih luas.
Baca juga: Inggris Tegaskan Dukungan untuk Negara Palestina Sesuai Perbatasan 1967
Arahan dari Penjabat Administrator NASA, Sean Duffy, menyerukan pengembangan reaktor fisi 100 kilowatt yang mampu beroperasi di Bulan pada tahun 2030, Politico melaporkan pada hari Senin. Langkah ini dibingkai sebagai bagian dari upaya strategis untuk supremasi antariksa.
"Ini tentang memenangkan perlombaan antariksa kedua," ujar seorang pejabat senior NASA kepada media tersebut.
Washington mengklaim kemenangan dalam perlombaan pertama melawan Uni Soviet setelah berhasil mendaratkan misi berawak di Bulan pada tahun 1969.
Menurut dokumen tersebut, yang juga dikutip oleh media lain, "sangat penting bagi badan tersebut untuk bergerak cepat" dalam mengamankan teknologi untuk eksplorasi di masa depan dan proyek-proyek keamanan nasional.
Memo tersebut memperingatkan jika negara lain berhasil mengerahkan reaktor bulan terlebih dahulu, negara tersebut dapat "mendeklarasikan zona terlarang yang secara signifikan akan menghambat Amerika Serikat."
Tenaga nuklir dipandang sebagai terobosan untuk eksplorasi ruang angkasa berkelanjutan. Rusia sedang mengembangkan reaktor berbasis ruang angkasanya sendiri untuk kapal tunda ruang angkasa bertenaga nuklir Zeus, yang sebelumnya dikenal sebagai Modul Transportasi dan Energi.
NASA sebelumnya mendanai pengembangan sistem fisi bulan berdaya 40 kilowatt, dengan memberikan masing-masing USD5 juta kepada tiga perusahaan untuk mempelajari kelayakannya.
Malam bulan yang panjang dan wilayah yang terlindung dari sinar matahari membuat energi matahari tidak dapat diandalkan, sehingga mendorong minat terhadap solusi alternatif.
Duffy, yang juga menjabat sebagai menteri transportasi, ditunjuk sebagai pelaksana tugas kepala NASA bulan lalu oleh Presiden AS Donald Trump.
Di bawah pemerintahan Trump, fokus badan tersebut telah bergeser ke misi berawak ke Bulan dan Mars, sementara pendanaan untuk misi sains robotik telah dikurangi sebagai bagian dari pemotongan anggaran pemerintah yang lebih luas.
Baca juga: Inggris Tegaskan Dukungan untuk Negara Palestina Sesuai Perbatasan 1967
(sya)
Lihat Juga :