Hizbullah Menolak Lucuti Senjata: Kami Tidak Akan Tunduk pada Israel
Kamis, 31 Juli 2025 - 18:46 WIB
loading...
Sekretaris Jenderal Hizbullah Sheikh Naim Qassem. Foto/media hizbullah
A
A
A
BEIRUT - Dalam pidato yang disiarkan televisi untuk memperingati satu tahun gugurnya Komandan Fouad Shokor, yang dikenal sebagai Sayyed Mohsen, Sekretaris Jenderal Hizbullah Sheikh Naim Qassem dengan tegas menolak seruan pelucutan senjata kelompok tersebut. Dia menegaskan Hizbullah tak akan tunduk pada Israel.
"Mereka yang menyerukan penyerahan senjata pada dasarnya menuntut penyerahannya kepada Israel... Kami tidak akan tunduk kepada Israel," tegas Sheikh Qassem.
Dia menekankan, tuntutan tersebut pada akhirnya melayani kepentingan Israel dan mengancam kedaulatan Lebanon.
Ia mengaitkan meningkatnya ketegangan dengan tekanan terkoordinasi oleh Amerika Serikat (AS) dan Israel.
Qassem menyatakan Utusan AS Tom Barrack telah menghadapi "sikap nasional Lebanon yang bersatu" dari tiga pejabat tinggi Lebanon, yang bersikeras agresi Israel harus dihentikan sebelum perundingan dapat dimulai.
Qassem menjelaskan bagaimana "Barrack datang dengan intimidasi dan ancaman untuk mencaplok Lebanon ke Suriah dan memperluas agresi Israel."
Menurut Qassem, presiden, perdana menteri, dan ketua parlemen Lebanon berkomitmen membangun kembali negara itu dan tidak akan berkompromi atas apa yang disebutnya sebagai "sumber kekuatan" Lebanon.
Ia menuduh Washington berusaha melemahkan Lebanon dengan dalih bantuan, "Amerika berusaha melucuti kekuatan itu demi keuntungan Israel, dengan klaim palsu bahwa mereka ingin membantu."
Qassem menegaskan persenjataan Hizbullah dimaksudkan "untuk melawan Israel dan menjadi sumber kekuatan Lebanon."
Ia menolak anggapan pelucutan senjata akan meningkatkan keamanan nasional, dengan menunjukkan tuntutan AS agar Hizbullah meletakkan senjatanya semata-mata untuk menguntungkan Israel.
Ia menegaskan kembali bahwa kelompok tersebut sebelumnya telah menyatakan kesediaan membahas bagaimana persenjataannya dapat diintegrasikan ke dalam strategi pertahanan nasional yang lebih luas.
Meskipun demikian, ia memperingatkan diskusi semacam itu tidak dapat dilakukan di bawah tekanan, karena pada akhirnya "melayani kepentingan Israel, alih-alih kedaulatan Lebanon."
"Kami tidak akan menerima Lebanon dianeksasi ke Israel bahkan jika seluruh dunia bersatu melawan kami, dan kami tidak akan menerima Lebanon disandera selama masih ada satu jiwa yang hidup di antara kami," tegas Qassem.
Ia kemudian mempertanyakan kewajaran gencatan senjata saat ini, dengan mengatakan gencatan senjata tersebut mengamankan permukiman Israel di utara tetapi gagal menjamin keamanan Lebanon.
Ia menambahkan serangan, pembunuhan, dan serangan udara Israel terus berlanjut dengan tujuan memperluas pendudukan dan membangun permukiman setelah Hizbullah dilucuti.
Qassem menolak klaim bahwa Hizbullah melemahkan negara Lebanon, dan justru berargumen Perlawanan selalu memperkuat institusi nasional.
Ia mempertanyakan logika menuntut kelompok tersebut menyerahkan senjatanya, "Apakah negara berhak mengatakan tidak dapat membela rakyatnya, lalu menuntut kami menyerahkan senjata kami hanya agar mereka dihancurkan oleh Israel?"
Ia menegaskan kepatuhan Hizbullah terhadap perjanjian gencatan senjata dan mengatakan mengaitkannya dengan perlucutan senjata tidak dapat diterima, "Masalah senjata murni masalah internal."
Menanggapi mereka yang mendorong perlucutan senjata, Qassem berkata, "Hentikan agresi, hentikan pesawat tempur, kembalikan tawanan, dan biarkan Israel menarik diri dari wilayah yang didudukinya, lalu, mari kita lihat apakah situasinya stabil, dan setelah itu, Anda akan mendapatkan dialog terbaik dan tanggapan paling konstruktif dari kami."
Ia juga mendesak negara Lebanon mengambil alih upaya rekonstruksi, terlepas dari hambatan atau tekanan Amerika terhadap negara-negara Arab.
Rekonstruksi, katanya, harus diperlakukan sebagai prioritas nasional dan langkah menuju pemulihan ekonomi.
Menyerukan persatuan, Qassem mendorong seluruh rakyat Lebanon merangkul semboyan nasional, "Mari kita usir Israel melalui solidaritas kita dan bangun kembali tanah air kita bersama-sama bergandengan tangan."
Qassem memperingatkan Lebanon menghadapi ancaman eksistensial tidak hanya dari "Israel" tetapi juga dari Negara Islam (ISIS) dan Amerika Serikat, yang menurutnya sedang mendorong apa yang disebut "Timur Tengah Baru".
Ia mengenang asal-usul Perlawanan, yang lahir untuk mengimbangi keterbatasan tentara dan kini membentuk "trinitas" fundamental: tentara, rakyat, dan Perlawanan.
Trinitas ini, menurutnya, bukan sekadar retorika, tetapi merupakan komponen yang terbukti dalam proses pembangunan negara Lebanon.
Qassem menjelaskan upaya Hizbullah mengikuti dua jalur—melawan pendudukan dan membangun lembaga-lembaga negara melalui representasi rakyat yang autentik.
Kedua tujuan tersebut, katanya, berjalan beriringan dan tidak boleh dianggap saling eksklusif.
Ia menggarisbawahi bahwa Perlawanan tetap aktif di semua bidang—militer, sosial, dan politik—yang justru menjadi alasan mengapa Israel terus melanggar gencatan senjata, karena kampanye militernya gagal menundukkan Hizbullah.
Sekretaris Jenderal Hizbullah menyatakan Lebanon harus memilih antara dua masa depan: kedaulatan, kemerdekaan, dan pembebasan, atau penaklukan melalui pendudukan asing.
"Di antara dua pilihan ini, kita berdiri teguh pada kedaulatan, kemerdekaan, dan pembebasan," ujarnya.
Beralih ke Gaza, Qassem mengecam perang Israel yang sedang berlangsung sebagai genosida, menuduh Tel Aviv dan Washington "melakukan kekejaman sistematis setiap hari di wilayah kantong tersebut."
Ia menyerukan perlawanan internasional yang bersatu terhadap apa yang ia sebut sebagai tirani Israel, dan menegaskan hal itu merupakan ancaman bagi seluruh umat manusia.
Baca juga: Amir Berjalan 12 km untuk Mendapat Makanan dan Ditembak Mati Tentara Israel di Jebakan Maut Gaza
"Mereka yang menyerukan penyerahan senjata pada dasarnya menuntut penyerahannya kepada Israel... Kami tidak akan tunduk kepada Israel," tegas Sheikh Qassem.
Dia menekankan, tuntutan tersebut pada akhirnya melayani kepentingan Israel dan mengancam kedaulatan Lebanon.
Ia mengaitkan meningkatnya ketegangan dengan tekanan terkoordinasi oleh Amerika Serikat (AS) dan Israel.
Qassem menyatakan Utusan AS Tom Barrack telah menghadapi "sikap nasional Lebanon yang bersatu" dari tiga pejabat tinggi Lebanon, yang bersikeras agresi Israel harus dihentikan sebelum perundingan dapat dimulai.
Qassem menjelaskan bagaimana "Barrack datang dengan intimidasi dan ancaman untuk mencaplok Lebanon ke Suriah dan memperluas agresi Israel."
Menurut Qassem, presiden, perdana menteri, dan ketua parlemen Lebanon berkomitmen membangun kembali negara itu dan tidak akan berkompromi atas apa yang disebutnya sebagai "sumber kekuatan" Lebanon.
Ia menuduh Washington berusaha melemahkan Lebanon dengan dalih bantuan, "Amerika berusaha melucuti kekuatan itu demi keuntungan Israel, dengan klaim palsu bahwa mereka ingin membantu."
Pelucutan Senjata Hanya Bermanfaat bagi Israel
Qassem menegaskan persenjataan Hizbullah dimaksudkan "untuk melawan Israel dan menjadi sumber kekuatan Lebanon."
Ia menolak anggapan pelucutan senjata akan meningkatkan keamanan nasional, dengan menunjukkan tuntutan AS agar Hizbullah meletakkan senjatanya semata-mata untuk menguntungkan Israel.
Ia menegaskan kembali bahwa kelompok tersebut sebelumnya telah menyatakan kesediaan membahas bagaimana persenjataannya dapat diintegrasikan ke dalam strategi pertahanan nasional yang lebih luas.
Meskipun demikian, ia memperingatkan diskusi semacam itu tidak dapat dilakukan di bawah tekanan, karena pada akhirnya "melayani kepentingan Israel, alih-alih kedaulatan Lebanon."
"Kami tidak akan menerima Lebanon dianeksasi ke Israel bahkan jika seluruh dunia bersatu melawan kami, dan kami tidak akan menerima Lebanon disandera selama masih ada satu jiwa yang hidup di antara kami," tegas Qassem.
Ia kemudian mempertanyakan kewajaran gencatan senjata saat ini, dengan mengatakan gencatan senjata tersebut mengamankan permukiman Israel di utara tetapi gagal menjamin keamanan Lebanon.
Ia menambahkan serangan, pembunuhan, dan serangan udara Israel terus berlanjut dengan tujuan memperluas pendudukan dan membangun permukiman setelah Hizbullah dilucuti.
Senjata Hizbullah Memperkuat Negara
Qassem menolak klaim bahwa Hizbullah melemahkan negara Lebanon, dan justru berargumen Perlawanan selalu memperkuat institusi nasional.
Ia mempertanyakan logika menuntut kelompok tersebut menyerahkan senjatanya, "Apakah negara berhak mengatakan tidak dapat membela rakyatnya, lalu menuntut kami menyerahkan senjata kami hanya agar mereka dihancurkan oleh Israel?"
Ia menegaskan kepatuhan Hizbullah terhadap perjanjian gencatan senjata dan mengatakan mengaitkannya dengan perlucutan senjata tidak dapat diterima, "Masalah senjata murni masalah internal."
Menanggapi mereka yang mendorong perlucutan senjata, Qassem berkata, "Hentikan agresi, hentikan pesawat tempur, kembalikan tawanan, dan biarkan Israel menarik diri dari wilayah yang didudukinya, lalu, mari kita lihat apakah situasinya stabil, dan setelah itu, Anda akan mendapatkan dialog terbaik dan tanggapan paling konstruktif dari kami."
Ia juga mendesak negara Lebanon mengambil alih upaya rekonstruksi, terlepas dari hambatan atau tekanan Amerika terhadap negara-negara Arab.
Rekonstruksi, katanya, harus diperlakukan sebagai prioritas nasional dan langkah menuju pemulihan ekonomi.
Menyerukan persatuan, Qassem mendorong seluruh rakyat Lebanon merangkul semboyan nasional, "Mari kita usir Israel melalui solidaritas kita dan bangun kembali tanah air kita bersama-sama bergandengan tangan."
Lebanon di Persimpangan Jalan
Qassem memperingatkan Lebanon menghadapi ancaman eksistensial tidak hanya dari "Israel" tetapi juga dari Negara Islam (ISIS) dan Amerika Serikat, yang menurutnya sedang mendorong apa yang disebut "Timur Tengah Baru".
Ia mengenang asal-usul Perlawanan, yang lahir untuk mengimbangi keterbatasan tentara dan kini membentuk "trinitas" fundamental: tentara, rakyat, dan Perlawanan.
Trinitas ini, menurutnya, bukan sekadar retorika, tetapi merupakan komponen yang terbukti dalam proses pembangunan negara Lebanon.
Kedaulatan dan Pembebasan
Qassem menjelaskan upaya Hizbullah mengikuti dua jalur—melawan pendudukan dan membangun lembaga-lembaga negara melalui representasi rakyat yang autentik.
Kedua tujuan tersebut, katanya, berjalan beriringan dan tidak boleh dianggap saling eksklusif.
Ia menggarisbawahi bahwa Perlawanan tetap aktif di semua bidang—militer, sosial, dan politik—yang justru menjadi alasan mengapa Israel terus melanggar gencatan senjata, karena kampanye militernya gagal menundukkan Hizbullah.
Sekretaris Jenderal Hizbullah menyatakan Lebanon harus memilih antara dua masa depan: kedaulatan, kemerdekaan, dan pembebasan, atau penaklukan melalui pendudukan asing.
"Di antara dua pilihan ini, kita berdiri teguh pada kedaulatan, kemerdekaan, dan pembebasan," ujarnya.
Seruan Solidaritas Global
Beralih ke Gaza, Qassem mengecam perang Israel yang sedang berlangsung sebagai genosida, menuduh Tel Aviv dan Washington "melakukan kekejaman sistematis setiap hari di wilayah kantong tersebut."
Ia menyerukan perlawanan internasional yang bersatu terhadap apa yang ia sebut sebagai tirani Israel, dan menegaskan hal itu merupakan ancaman bagi seluruh umat manusia.
Baca juga: Amir Berjalan 12 km untuk Mendapat Makanan dan Ditembak Mati Tentara Israel di Jebakan Maut Gaza
(sya)
Lihat Juga :